Peran Turki di Irak, Ketika Pemimpin Kaum Muslimin Punya Kekuatan dan Bukan Boneka Asing

Kamis, 03 Safar 1438H / 3 November 2016

SIROH DAN TARIKH

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

🌐 İstanbul, Turki

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, kembali menegaskan pentingnya Turki terlibat pada pertempuran pembebasan Mosul dari tangan ISIL. Meskipun Mosul (al-Mawshil) berada di dalam wilayah negara Irak, beliau menyatakan bahwa "Turki memiliki tanggung-jawab sejarah di wilayah ini."

💡 Sebagai seorang pembaca sejarah amatiran, sulit rasanya untuk tidak kagum dengan Erdoğan dan tim sejarah di belakangnya. Duh, ngiri sekali dengan narasi sejarah yang sedang dibangun dalam tubuh balatentara Republik Turki sekarang. Beliau sepertinya masih menahan diri, seharusnya bukan hanya Mosul namun Baghdad hingga Basra itu dulu urusan Turki. Iya seratus satu tahun yang lalu, bendera Turki Utsmani masih berkibar di muara Sungai Tigris sekitar tahun 1915.

Berbicara di Ankara, hari Selasa kemarin, beliau menyatakan bahwa Turki tidak ingin terlibat dalam konflik sektarian di Irak. Namun, menyuarakan pentingnya memperkuat bangsa Arab Sunni dan Kaum Türkmen di Mosul. "Turki ingin ada di meja perundingan sekaligus di lapangan, ada alasan kuat untuk itu," tandas Erdoğan.

💡 Cantik sekali bahasa diplomasinya. Tentu beliau mengarahkan telunjuknya pada dominasi agama Syi'ah yang kini mengendalikan pemerintah boneka Amerika Serikat di Baghdad.

Pasukan gabungan Irak dan Kurdi semakin maju mengunci Mosul setelah merebut sekitar 20an kampung dari tangan ISIL yang juga rekayasa AS. Dalam pidatonya, presiden Erdoğan mengingatkan agar milisi Syi'ah tidak dilibatkan dalam pertempuran mengingat kejahatan HAM yang mereka telah perlihatkan pada operasi militer di bagian Irak lainnya. Beliau menegaskan lagi bahwa, "tigapuluh ribu milisi syi'ah yang dikenal fanatik itu harus siap dengan apa yang mereka akan hadapi (angkatan bersenjata Turki)," jika memaksakan diri hadir di Mosul.

💡 *Pernyataan yang tegas oleh seorang pemimpin negeri Kaum Muslimin yang melek terhadap percaturan politik Iran dan milisi syi'ah-nya.* Pantas jika beliau dicintai bukan hanya oleh rakyat Turki, namun oleh Kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia. Khususnya, negeri Kaum Muslimin yang sampai hari ini terpaksa dipimpin oleh boneka serta barut pilihan asing.

Dua pekan sebelumnya, parlemen Turki telah mensahkan perpanjangan satu tahun bagi pengerahan pasukan ke Syria dan Irak. Parlemen juga menyetujui pengerahan 2 ribu pasukan melintasi perbatasan Irak untuk memerangi organisasi terorisme.

Seperti yang terlihat pada foto di atas, telah ditempatkan 500 pasukan elit Turki di Markas Bashiqa, sebelah utara Irak, guna melatih pasukan milisi Sunni lokal. Mereka akan dikerahkan untuk membantu pembebasan atas kota Mosul.

Beberapa hari sebelum itu, perdana menteri Irak, Haider al-Abadi, mengecam tindakan Turki dan meminta UN Security Council untuk membahasnya. Presiden Erdoğan menanggapinya dengan mengatakan, "pemerintah Irak sebaiknya fokus untuk menghadapi pasukan ISIL dan PKK saja, daripada bicara keras dan sombong kepada Turki."

Bahkan, mantan penasihat militer Turki di Irak mengatakan kepada al-Jazeera, "Ankara memposisikan Baghdad sebagai pemain asing untuk urusan Mosul. Turki melihat Baghdad sebagai kekuatan syi'ah dukungan Iran yang hendak menguasai Mosul yang mayoritas Islam." Ia menambahkan, "jika Baghdad diperbolehkan masuk dengan mengerahkan kekuatan sejauh dari Iran, maka Turki lebih berhak untuk masuk ke Mosul yang secara historis terhubung kepada Turki sejak lama."

Kritik juga datang dari John Kirby, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, pekan lalu: "semua negara tetangga harus menghormati kedaulatan perbatasan Irak." Amerika Serikat akan memainkan peran sebagai kekuatan udara dalam rencana penyerangan ISIL di Mosul nanti. Kirby juga mengajak semua pihak untuk fokus pada penghancuran Da'esh (ISIL).

Erdoğan menanggapi komentar Kirby, "jika kalian bisa datang dari jauh karena merasa terpanggil oleh retorika Baghdad, okelah. Tetapi Turki juga memiliki perbatasan dengan Irak sepanjang 350 km dan selalu dalam posisi terancam." Beliau menambahkan, "secara historis kami punya tanggung-jawab di Mosul, maka kami akan berada di sana!"

💡 Erdoğan tentu sedang menceramahi petinggi AS tersebut bahwa Mosul pernah menjadi bagian dari Turki (Utsmani) selama lebih dari 400 tahun. Baru pada tahun 1918 kemarin diduduki Inggris pada akhir Perang Dunia Pertama. Secara yuridis, Mosul adalah bagian dari Turki yang dipaksakan menjadi salah satu propinsi Irak yang digarap oleh Inggris dan Perancis.

Menurut Gurcan, AS agak meradang karena Turki mau hadir di Mosul secara independen dan bukan di bawah ketiak Amerika Serikat. Turki bersikeras untuk menahan milisi Syi'ah serta elemen militer Kurdi yang pro-PKK masuk ke Mosul. Perdana Menteri Turki, Binali Yıldırım, juga akan mengerahkan dukungan serangan udara kepada milisi yang mereka latih di markas Bashiqa.

Amerika Serikat sepertinya tidak keberatan atas rencana Turki, selama AS tetap memegang peran dominan di wilayah tersebut. Dibutuhkan kejelian sebuah diplomasi tingkat tinggi Dari pihak Turki untuk mengelola ini semua.

Upaya menurunkan ketegangan bilateral antara Turki dan Irak sudah dilancarkan menurut menteri luar negeri Turki, Mevlüt Çavuşoğlu. Delegasi Irak dijadwalkan tiba di Ankara pada akhir pekan ini. Çavuşoğlu menegaskan perlunya pendekatan diplomatik pada lawatannya ke Azerbaijan. Ia menegaskan hal tersebut setelah Under-Secretary dari Kementerian Luar Negeri Turki, Umit Yalçın, melawat ke Baghdad hari Senin kemarin.

💡 Walau diplomasi dikuatkan, tujuan akhir Turki tentu saja peggelaran militer serupa seperti di Suriah ketika Operasi Euphrates Shield yang sukses kemarin.

Agung Waspodo, bisa tersenyum pagi ini, alhamdulillah masih ada berita bagus di jagad Dunia Islam..
Depok, 19 Oktober 2016

0 Response to "Peran Turki di Irak, Ketika Pemimpin Kaum Muslimin Punya Kekuatan dan Bukan Boneka Asing"

Post a Comment