MUHASABAH DI PENGHUJUNG PENANTIAN

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Tak pernah kita tahu helaan nafas kita kapan berujung.
Tak pernah kita mengerti apakah kita akan beruntung.

Terlalu hina kala jiwa tertambat oleh dunia.
Terlalu nista bila tautan hati hanya pada manusia

Terlalu naif bila kita hanya bisa berbincang tentang yang fana

Sejenak kita menakar keimanan kita
Seberapa besar cinta kita pada Nya

Seberapa teguh kita sanggup Agungkan Nama Nya

Seberapa tangguh kita mampu berjuang untuk menegakkan kalimat Nya

Waktu Itu………
Imam hasan Basri menasihati, waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada esok hari, kalau esok menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti hari ini.

Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu darimu.

“Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni surga kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia yang tidak mereka gunakan untuk mengingat Allah di dalamnya,” (HR. Thabrani, dishahihkan oleh Albani)

“Ntar ah” kalimat itu sangat biasa kita dengar.

Kadang kita sendiri yang kala terlena oleh kegiatan yang melenakan sementara harus melakukan hal yang lain.

Sudah tabiat kita.
Apalagi mengulur waktu sholat. Pastilah kata,”ntar lagi tanggung” begitu saja keluar.

Seperti kisah tentang Ka’ab Bin Malik.
Ketika diajak rasul untuk berangkat berperang ia enggan lantaran akan menunggui hasi panen kebunnya. Saat itu ia tak pernah menyadari kebun akhirat di ladang jihad jauh lebih baik dari pada seluruh dunia seisinya.

Sementara kesempatan untuk berbuat kebaikan takkan terulang.

Kita sejenak merenungkan tabiat dari waktu. Dia tak akan bisa diputar lagi, dia berlalu begitu saja tanpa bisa terganti.

Jangankan mundur sesaat, untuk berhenti sejenak pun takkan pernah terjadi.

Maka hargailah waktu yang telah menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup kita.

Setiap detik akan menghadirkan makna bagi seseorang bila ia mampu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Islam adalah agama yang mulia, tidak ada yang terlewatkan dari setiap ajarannya untuk mengatur kehidupan manusia sampai mengantarkan manusia pada derajat yang mulia.

Hidup manusia adalah saat ini, dan kehidupan yang sesungguhnya itu ada di akhirat nanti.

Hidup manusia pada saat ini dan detik ini karena apa yang akan terjadi satu detik ke depan hanya sebuah harapan.

Satu detik yang menjadi bagian dari rencana kita bisa sirna bila datang takdir dari sang Pencipta akan batas usia kita.

Selalu berbenah diri untuk menjadi yang terbaik dari setiap masa yang kita lalui merupakan suatu kewajiban bagi seorang hamba bila ia ingin menghadirkan cinta-Nya.

Wallahu  A'lam.