Konsekwensi Kepemimpinan

Ahad, 6 Shafar 1438H / 6 Nopember 2016

MUAMALAH

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc. M.Ag

A. Hadits:

عن مَعْقِل بْنَ يَسَارٍ سَمِعْتُُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ (رواه البخاري)

Dari Ma'qil bin Yasar ra berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda; "Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin masyarakat kaum muslimin, kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan menipu berbuat curang kepada mereka, melainkan Allah akan haramkan baginya surga.' (HR. Bukhari)

B. Hikmah Hadits:

1. Peringatan keras Nabi Saw terhadap mereka yang memegeng tumpuk kepemimpinan, bahwa mereka memiliki konsekwensi jabatan yang demikian beratnya.

Dimana bila tidak amanah dalam memimpin kaum muslimin, tidak mengembalikan hak-hak mereka yang terdzalimi, dan justru berbuat curang terhadap mereka, maka Allah Swt akan haramkan surga bagi mereka, na'udzubillahi min dzalik.

2. Peringatan keras ini dimaksudkan, agar setiap pemimpin tidak terlena dengan jabatannya, bahkan justru semakin amanah dan takut pada Allah dalam menjalankan roda amanah kepemimpinannya.

Dalam sejarah perjalanan umat Islam, muncul banyak contoh kepemimpinan yang patut dijadikan teladan, salah satunya adalah Umar bin Abdul Aziz (w. 101 H).

Sejarah mencatat kesolehan pribadi beliau dalam memimpin; selalu menangis di setiap malam karena takut kepada Allah atas jabatan yang diembannya, sangat hati-hati pada yang halal dan haram dalam kesehariannya, sederhana dalam kehidupannya, perhatian yang sangat tinggi pada kepentingan dan hajat masyarakatnya, serta juga sangat profesional dalam kepemimpinannya.

3. Suatu ketika, beliau (Umar bin Abdul Aziz) memimpin rapat bersama para mentri dan gubernurnya. Lalu, di tengah-tengah rapat ada seorang gubernur yang bertanya perihal keadaan beliau dan keluarganya, apakah semua sehat-sehat  dan baik-baik saja?

Mendengar pertanyaan itu, beliau bangkit dari tempat duduknya dan mematikan lantera yang menerangi ruang rapat tersebut.

Ketika suasana gelap, dan semua bingung dengan kondisi gelap tsb, beliau berkata, 'Kita rapat di sini adalah untuk membicarakan urusan kaum muslimin. Oleh karena itulah kita menggunakan fasilitas ruangan ini.

Maka ketika ada salah seorang dari kalian bertanya tentang diriku dan keluargaku, tentu aku matikan lampu itu. Karena tidak berhak bagi Umar bin Abdul Aziz, menggunakan fasilitas milik kaum muslimin untuk kepentingan diri dan keluarganya...

Wallahu A'lam