Belajar Tawadhu dan Rendah Hati dari Rasulullah SAW

Senin, 30 Muharam 1438 H/31 Oktober 2016

Akhlak

Ustadz Muhar Nur Abdy

============================

Suatu hari, Umar bin Khattab r.a. pernah menangis, iba melihat keadaan Nabi SAW. Umar menjumpai utusan Penguasa alam semesta itu bangun tidur dan anyaman tikar mengecap di tubuhnya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Mengapa engkau menangis, wahai Umar?."

"Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertahtakan emas," sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, wahai Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya," jawab Umar.

Rasulullah SAW kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: "Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang, dan tak lama akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…?”

Kemudian beliau SAW melanjutkan, "Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian dibawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya."

® Ramah Terhadap Anak Kecil

Di Madinah, ada seorang anak kecil yang berkun-yah Abu Umair. Si Anak memiliki hewan peliharan seekor burung. Ia suka bermain dengan burung peliharaannya itu. Suatu hari, burung itu mati, dan Rasulullah SAW menyapa dan menghiburnya.

Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata, "Nabi SAW datang menemui Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra yang diberi kun-yah Abu Umair. Rasulullah SAW suka mencadainya. Suatu hari, beliau melihat Abu Umair bersedih. Lalu beliau SAW bertanya,

فقال: "مَا لِي أَرَى أَبَا عُمَيْرٍ حَزِينًا؟" فقالوا: مات نُغْرُه

"Mengapa kulihat Abu Umair bersedih?" Orang-orang menjawab, "Nughrun (burung kecil seperti burung pipit yang lekuk matanya berwarna merah)nya yang biasa bermain dengannya mati."

Kemudian beliau menyapanya untuk menghibur si anak yang kehilangan mainannya ini,

أبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

"Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?." (HR. Bukhari No. 5850)

® Mengerjakan Pekerjaan Rumah

عن عائشة أنها سُئلت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل في بيته، قالت: "كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ، وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ، وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِي بُيُوتِهِمْ."

Dari Aisyah r.a., ia pernah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah. Aisyah radhiallahu 'anha menjawab, "Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah." (HR. Ahmad No. 23756)

® Bergaul Dengan Penduduk Desa

Sebagian orang kadang malu jika ada orang desa yang polos, yang mungkin terlihat kuno, mau berteman dekat dengan mereka. Televisi-televisi kita menyugukan tayangan bagaimana anak-anak gaul, malu berteman dengan yang terlihat culun. Hal itu disaksikan anak-anak, sehingga mereka meniru. Tentu, ini berbahaya jika tidak direspon oleh orang tua dengan pendidikan adab dan akhlak yang mulia. Ketika orang tua mampu menampilkan teladan dari Rasulullah SAW, seorang tokoh berkedudukan tinggi di masyarakat, mau berteman dengan orang biasa, tentu hal itu akan menimbulkan kesan yang berbeda pada diri anak-anak.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَجُلا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ كَانَ اسْمُهُ زَاهِرًا , وَكَانَ يُهْدِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , هَدِيَّةً مِنَ الْبَادِيَةِ ، فَيُجَهِّزُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ زَاهِرًا بَادِيَتُنَا وَنَحْنُ حَاضِرُوهُ ” وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّهُ وَكَانَ رَجُلا دَمِيمًا , فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَوْمًا وَهُوَ يَبِيعُ مَتَاعَهُ وَاحْتَضَنَهُ مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ لا يُبْصِرُهُ ، فَقَالَ : مَنْ هَذَا ؟ أَرْسِلْنِي . فَالْتَفَتَ فَعَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ لا يَأْلُو مَا أَلْصَقَ ظَهْرَهُ بِصَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عَرَفَهُ ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : " مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْعَبْدَ " ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِذًا وَاللَّهِ تَجِدُنِي كَاسِدًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لَكِنْ عِنْدَ اللَّهِ لَسْتَ بِكَاسِدٍ " أَوْ قَالَ : " أَنتَ عِنْدَ اللَّهِ غَالٍ " .

Dari Anas bin Malik r.a., bahwasanya ada seorang dari penduduk desa (Arab badui) yang bernama Zahir, dia selalu menghadiahkan berbagai hadiah dari desa untuk Nabi SAW. Jika Nabi SAW hendak keluar, beliau menyiapkan perbekalannya. Lalu bersabda: "Sesungguhnya Zahir adalah desa kami (maksudnya beliau SAW bisa belajar darinya sebagaimana orang Badui mengambil manfaat dari padang Sahara) dan kami adalah kotanya (yang membuka pintu Madinah lebar-lebar untuk kehadirannya, ini adalah salah satu bukti pergaulan yang baik).

Nabi SAW mencintainya, dia adalah seorang yang jelek (tidak tampan) namun baik hatinya. Suatu hari Nabi SAW mendatanginya sementara ia sedang menjual barangnya, lalu beliau mendekapnya dari belakang, sementara dia tidak bisa melihat beliau. Dia berseru: 'Siapa ini? Lepaskan aku!' Kemudian ia menengok ke belakang dan ia tahu bahwa itu adalah Nabi SAW. Ketika dia tahu, dia tetap merapatkan punggungnya agar bersentuhan dengan dada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW berseru, 'Siapa yang mau membeli hamba sahaya ini?' Zahir menjawab, 'Wahai Rasulullah, kalau begitu demi Allah, engkau akan mendapatiku (terjual) sangat murah.' Nabi SAW bersabda, 'Akan tetapi, di sisi Allah engkau tidaklah murah' atau 'Di sisi Allah engkau sangat mahal.' (HR. Ahmad No.12669)

Lihatlah bagaimana beliau SAW bercanda dengan teman-teman beliau. Pertemanan beliau tidak didasari oleh tampilan fisik, materi kekayaan, namun, beliau mendasari pertemanan berdasarkan keta'atan.

Kita semua tahu, Nabi SAW adalah manusia paling mulia yang pernah ada dan selama-lamanya. Ada para raja, pemimpin negara dan pejabat negara, orang-orang kaya, tidak satu pun yang melebihi kedudukan beliau SAW. Dan mereka tidak layak dibandingkan dengan beliau SAW. Lihatlah, alangkah rendah hatinya beliau SAW dalam pergaulannya. Dalam kehidupan sosialnya.

Dan kita berlindung kepada Allah SWT, agar kita yang tidak memiliki jabatan dan kedudukan ini, tidak berbuat sombong dan meremehkan orang lain.

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala aali Muhammad..

Wallaahua'alam..