AQIDAH DAN KEIMANAN

Pemateri: Ustadz KH Aus Hidayat Nur

1⃣. HUBUNGAN AQIDAH DENGAN RUKUN IMAN?

Aqidah adalah iman dalam pengertian yang sebenarnya dan hal ini merupakan it”tiqod yang kokoh dalam hati (batin) yang beriman kepada  Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan kepada hari Akhir serta kepada  Qadar yang baik maupun yang buruk.
Hal ini disebut juga dengan rukun iman.

Iman   terdiri dari tiga unsur yang saling berhubungan tak terpisahkan satu dengan lainnya yaitu:

❣Pertama, membenarkan dan mempercayai dengan hati.

❣Kedua, mengucapkan dengan lisan (mulut), dan

❣Ketiga merealisasikan dengan amal perbuatan .

Katiganya harus ada tidak boleh terpisahkan satu sama lain.

Artinya hanya hati yang  membenarkan dan mempercayai saja tidaklah cukup , perlu pengakuan lisan dan bukti amal perbuatan.
Demikian juga pengakuan lisan yang diucapkan saja belum diterima  perlu pembuktian amal dan  kelurusan hati jangan seperti iman kaum munafikin.
Demikian juga tidak bisa disebut iman apabila hanya perbuatannya saja yang islami sedangkan hati atau ucapannya tidak beriman seperti  imannya paman Nabi yang benama Abu Tholib.

2⃣. APAKAH HUBUNGAN AQIDAH DENGAN SYARIAH?

Syariat itu terbagi dua: ittiqodiyah dan amaliyah.

Ittiqodiyah adalah hal-hal yang merupakan aktivitas hati, jiwa atau ruhaniyah. Seperti ittiqad (kepercayaan) terhadap keesaan Allah dalam rububiyah-Nya, kewajiban beribadah kepada Allah, keyakinan terhadap akeagungan dan kekuasaan Allah, serta ittiqad kepada rukun iman yang lain.
Hal ini disebut juga Ashliyah (pokok atau inti agama).

Sedangkan syariah amaliyah segala yang berhubungan dengan tatacara amal, termasuk ucapan , bacaan dan seluruh kegiatan lisanseperti sholat dengan seluruh bacaannya, zakat, puasa, dan ama-amal lainnya.
Bagian kedua ini  disebut juga far’iyah (cabang agama).

Amaliyah dibangun atas ittiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah begantung pada benar dan rusaknya ittiqodiyah.

Maka aqidah atau keimanan yang benar merupakan fondamen atau landasan  bagi bangunan agama seseorang serta merupakan syarat sahnya amal. Firman Allah Azza wa Jalla,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (AL Kahfi: 110)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Az zumar: 65)

Ayat-ayat yang senada dengan dua ayat di atas banyak jumlahnya di dalam Al Qur-an. Menunjukkan bahwa amal apa pun akan ditolak Allah manakala tercemar atau tercampur dengan syirik. Karena itu pendidikan Nabi kepada para sahabat Beliau yang pertama adalah pelurusan aqidah, pemurnian iman, dan pengabdian atau penyembahan kepada Allah saja…

Firman Allah:
"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An Nahal: 36)

Yang dimaksud thogut adalah segala sesuatu yang dijadikan sembahan oleh manusia baik berupa benda, manusia lain, makhluk konsep, sesuatu yang diuanggap berharga, uang jabatan bahkan hawa nafsu manusia itu sendiri.  Allah menghendaki bahwa manusia harus menjauhi tahgut yaitu dengan tidak menyembahnya…  
Allah juga menyatakan bahwa keimanan kepada Allah harus sejalan dengan pengingkaran kepada thagut.

Demikian juga kepemimpinan dan loyalitas kepada Allah berseberangan dengan loyalitas kepada thagut yang diberikan oleh orang-orang kafir.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah: 256-257)

Syariat adalah jalan hidup yang diridhai Allah meliputi seluruh amal kebaikan  (amal soleh) yang dilakukan manusia baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, makhluk lain maupun alam di sekitarnya.

3⃣. APAKAH HUBUNGAN AQIDAH DENGAN AKHLAK?

Sebagaimana aqidah menjadi fondasi syariah islamiyah maka aqidah pun merupakan landasan dan pilar-pilar utama akhlak Islam. Akhlak yang mulia hanya lahir dari aqidah yang benar. Karena akhlak ini menyangkut perilaku, tatakrama , atau etika setiap muslim maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan bahwa keimanan harus disempurnakan dengan akhlak mulia.

Perhatikan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berikut ini,
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" (Riwayat Bukhari dan Muslim).