Syarat-Syarat Di Terimanya Syahadat

Rabu, 04 Muharam 1437 H/ 05 Oktober 2016

Aqidah

Ustadzah Prima Eyza

Syarat-Syarat Di Terimanya Syahadat
============================

Assalaamu 'alaikum wrwb..

Apa kabar, adik-adik...??  Kita bertemu kembali dalam seri materi Aqidah yang kali ini mengangkat tema tentang "Syarat-Syarat Diterimanya Syahadatain".

Syahadatain, yakni ucapan dua kalimat syahadat, bukanlah sekedar perkataan ringan yang hanya mewakili kebiasaan, rutinitas, atau sebatas slogan-slogan keIslaman kita. Melainkan rangkaian dua kalimat tersebut adalah ikrar, janji, dan sekaligus sumpah kita bahwa tidak ada Ilaah yang dituhankan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah benar utusan-Nya. Maka, para ulama merangkum dalil-dalil dan penjelasan tentang konsekuensi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi agar syahadat tersebut diterima sebagai syahadat yang benar di sisi Allah.

Hasan al Bashri rahimahullah, seorang ulama tabi'in, pernah bertanya kepada seseorang, "Apa yang engkau persiapkan untuk kematian?"  Orang itu mengatakan, "Persaksian (syahadat) Laa Ilaaha illallaah."  Hasan al Bashri mengatakan,"Sesungguhnya bersama persaksian itu ada syarat-syarat (yang harus dipenuhi)."  (Siyaar A’laamin Nubalaa’ [4/584]).

Dalam atsar yang lain juga disebutkan:

قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ

Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih, "Bukankah Laa Ilaaha illallaah itu merupakan kunci surga?"  Wahab menjawab, "Benar. Tetapi tidak dinamakan kunci kalau tidak mempunyai gerigi. Jadi, jika kamu datang dengan membawa kunci bergerigi tentu kamu akan dibukakan, dan jika tidak demikian, pasti tidak dibukakan untukmu." (Hilyatul Awliyaa’ (4/66), (at Taarikhul Kabiir [1/95]).

Wahab bin Munabbih adalah juga salah seorang ulama tabi’in. Beliau murid dari beberapa orang sahabat Nabi saw, diantaranya Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudriy, Nu’man bin Basyir, Jabir bin Abdillah, dan Ibnu Umar. Imam Bukhari meriwayatkan hadits yang melalui jalur Wahab bin Munabbih tidak kurang dalam 2 riwayat, sedangkan Imam Muslim meriwayatkan tidak kurang dari 4 hadits.

Kandungan makna dari apa yang dikatakan oleh Wahab bin Munabbih di atas adalah bahwa tidak cukup bagi seseorang hanya sekedar mengucapkan syahadat sebatas lafaz-lafaz di lisan saja. Melainkan lebih jauh dari itu, ia haruslah menjalankan konsekuensi atau syarat-syarat dari ucapan syahadat tersebut. Konsekuensi/syarat dari ucapan syahadat adalah ibarat gerigi bagi sebuah kunci. Adalah benar bahwa syahadat Laa Ilaaha illallaah adalah kunci surga, namun konsekuensi yang harus dilaksanakan setelah mengucapkan syahadat tersebut adalah gerigi yang menentukan apakah pintu (surga) itu bisa terbuka atau tidak oleh kuncinya.

Jadi, syahadat yang memenuhi syarat itu bagaikan kunci yang bergerigi. Apabila salah satu gerigi kunci patah, maka kunci tersebut tentu tidak bisa digunakan. Maka, syahadat yang dikatakan sebagai kunci surga tentu tidak akan berfungsi sebagai pembuka pintu surga jika salah satu konsekuensi/syarat-syarat syahadat tersebut tidak terpenuhi. Sehingga, syarat-syarat syahadat itu tidak bisa tidak, harus terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang rusak atau tidak sempurna.


SYARAT PERTAMA:

الْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ

1⃣ ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN

Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang diucapkannya. Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui dan memahami makna/kandungannya, maka syahadatnya tidak diterima.

Allah berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."  (QS Ali 'Imran [3] : 18)

Dalam ayat diatas sangat jelas bahwa subjek yang diakui syahadat (persaksian)-Nya hanyalah tiga pihak, yakni: Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu. Bermakna pula bahwa syahadat orang-orang yang berilmu bahkan disejajarkan dengan syahadatnya Allah dan para malaikat.
Disebutkannya syahadat orang yang berilmu setelah syahadatnya malaikat dalam ayat tersebut juga merupakan pujian dari Allah, bahwa syahadat orang-orang yang berilmu adalah syahadat yang:
kokoh dan benar.
Paling kuat ikatannya kepada Allah (sebagaimana para malaikat).

Dalam Al Quran, Allah juga memerintahkan agar kita memiliki ilmu (memahami) لاإله إلا الله (yakni ucapan syahadat tauhid kita). Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا الله ...

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah ..."  (QS Muhammad [47] : 19)

Kata  فَاعْلَمْ  yang maknanya: ketahuilah/fahamilah/ilmuilah, dalam ayat tersebut disampaikan dalam bentuk perintah. Hukum asal dari setiap bentuk perintah dalam Al Quran adalah WAJIB. Sehingga ayat tersebut dengan jelas-jelas memahamkan kepada kita bahwa Allah memerintahkan untuk wajib mempelajari/memahami  لَا إِلَهَ إِلا الله , yakni syahadat kita. Sekali lagi, perintahnya adalah : mengilmui/mempelajari hingga faham.
Untuk apa? Agar syahadat tersebut menjadi pondasi yang kokoh bagi keimanan kita. Syahadat yang hanya sekedar ikut-ikutan saja, tidak difahami dan diilmui, maka tidak akan menghasilkan keimanan yang kokoh dan teguh. Ingatlah bahwa keimanan itu akan senantiasa diuji (QS Al Ankabuut [29] : 2-3)
→ Bagi yang punya ilmu (faham), akan mantap dalam menjalani ujian.
→ Bagi yang hanya ikut-ikutan, tentu akan mudah goyah dan jatuh.

Dalam salah satu haditsnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa mati sedangkan dia mengetahui (memahami/memiliki ilmu) لا إله إلا الله  maka ia masuk surga.” (HR. Muslim)

Maka, mati dengan mengilmui/memahami syahadat adalah bagian dari ajaran Nabi saw.

Disamping itu, tentulah kita faham tentang kaitan erat antara ilmu dan komitmen. Yakni bahwa pengetahuan/ilmu itu akan melahirkan keyakinan yang mantap. Keyakinan yang mantap akan melahirkan kesetiaan. Kesetiaan akan melahirkan komitmen. Demikianlah orang-orang yang mengilmui dan faham akan syahadatnya. Ia akan yakin, setia, dan komitmen melaksanakan segala konsekuensi dari syahadatnya.
Tepatlah nasehat Imam Bukhari :

 الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

“Ilmu itu sebelum berucap
dan berbuat (beramal).”  (Dalam Shahih al-Bukhari, kitab “al-'Ilmu”,
bab “al-'Ilmu Qobla al-Qoul wa al-'Amal”)

Diriwayatkan pula bahwa pernah terjadi sebuah dialog antara Rasulullah saw dan pemuka-pemuka Quraisy,

فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّ قَوْمَكَ يَشْكُونَكَ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ تَشْتُمُ آلِهَتَهُمْ وَتَقُولُ وَتَقُولُ وَتَفْعَلُ وَتَفْعَلُ
فَقَالَ يَا عَمِّ إِنِّي إِنَّمَا أُرِيدُهُمْ عَلَى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ تَدِينُ لَهُمْ بِهَا الْعَرَبُ وَتُؤَدِّي إِلَيْهِمْ بِهَا الْعَجَمُ الْجِزْيَةَ
قَالُوا وَمَا هِيَ نَعَمْ وَأَبِيكَ عَشْرًا
قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
قَالَ فَقَامُوا وَهُمْ يَنْفُضُونَ ثِيَابَهُمْ وَهُمْ يَقُولُونَ { أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ }.

"Musyrikin Quraisy tengah mengadukan Rasul saw —yang menda'wahkan Islam— kepada Abu Thalib. Rasul saw datang dan hendak duduk di sebelah paman beliau tetapi Abu Jahal benci sehingga tidak ada lagi tempat duduk kecuali di dekat pintu.
Abu Thalib berkata kepada Rasul saw,“Wahai anak saudaraku, kaummu mengadukanmu dan menuduhmu bahwa kamu telah menghina tuhan-tuhan mereka dan kamu berkata ini-itu serta berbuat ini-itu.”
Rasul saw menjawab,“Wahai Pamanku, sesungguhnya aku hanyalah menginginkan dari mereka SATU KALIMAT. Dengan kalimat itu ditundukkan bagi mereka bangsa Arab, dan disampaikan kepada mereka jizyah dari bangsa Non-Arab."
Musyrikin Quraisy lalu berkata,"Ya, demi bapakmu, sepuluh (kalimat pun kami mau)!”
Rasul saw berkata,"(Ucapkanlah) لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ."
Rasulullah saw lalu bersabda,"Mereka langsung berdiri sambil mengibaskan pakaian mereka dan berkata, 'Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.' (QS Shaad [38] : 5)
Kemudian Rasulullah saw membacakan hingga ayat 8.”
(HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad, bab Bidayah Musnad Abdullah bin Abbas, Juz 7, hlm. 277)

Nah, lihatlah orang-orang kafir dan musyrik itu, mereka tidak mau mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  karena mereka tahu arti dan maknanya (sebab mereka berbahasa Arab), bahwa tidak ada yang boleh dituhankan melainkan hanya Allah saja satu-satunya. Sementara mereka menyembah ratusan berhala, mereka percaya ramalan, mereka meyakini dukun dan tukang tenung, dan lain-lain prilaku jahiliyah yang bermuatan syirik (mempersekutukan Allah).
Maka kita, yang betul beriman, betul berTuhan hanya kepada Allah saja dan terus-menerus mengucapkan syahadat, tentulah harus memahami dan meyakini kebenaran mutlak makna yang terkandung di dalam syahadat tersebut.

Rasulullah saw juga mengajarkan kita untuk memperbaharui/menyegarkan iman dengan mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.
Rasulullah saw bersabda:

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله

“Perbaharuilah iman kalian.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami memperbaharui iman kami?” Bersabda Rasulullah saw, “Perbanyaklah mengucapkan  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ.”  (HR. Ahmad)

Tentu syahadat yang dimaksudkan dapat memperbaharui keimanan adalah syahadat yang difahami. Karena syahadat yang difahami, semakin diucapkan akan semakin diyakini dan semakin kuat komitmen kepada syahadat tersebut. Banyak mengucapkan syahadat tanpa memahami maknanya, tentu tidak juga akan bisa menghayati dan menepatinya, sehingga tidak berpengaruh apa-apa untuk memperbaharui keimanan.


SYARAT KEDUA:

اَلْيَقِيْنُ اَلْمُنَافِيْ لِلشَّكِّ

KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN

Wallaahu a'lam bishshowab...

- Bersambung -

Dipersembahkan oleh:
www.manis.id

Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
- Telegram : @majelismanis
- Fans Page : /majelismanis
- Twitter : @grupmanis
- Instagram : @majelismanis
- Play Store : Majelis Iman Islam
- Join Grup WA : http://bit.ly/2dg5J0c