Sungguh Kematiaan Adalah Muara Bagi manusia

Ahad, 29 Muharram 1438H / 30 Oktober 2016

TAZKIYATUN NAFS

Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Sejenak kita ingat Quran surat Al Anbiya ayat 1,
“Telah dekat kepada manusia harmanusiahisab segala amalan mereka, sedang mereka berda dalam kelalaian lagi berpaling (darinya).”

Begitu juga dalam firman Allah surat Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada menuais terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: ‘Ya Tuhan kami tangguhkan kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul....”

Tersentak diri tanpa sadar sudah di ujung usia. Sang malakul maut pun menghampiri diri yang lemah ini. Tak kuasa menolak ketetapan Nya. Semua akan kita tinggalkan dan hanya amal sebagai bekalan. Tak sia-siakan kesempatan kala nyawa masih dikandung badan.

Bergegas untuk memperbanyak amalan. Yang mati tak bisa dihidupkan dan yang hidup tinggal menunggu kepastian kapan saat itu tiba.

Kematian awal sebuah perjalanan yang panjang. Kubur sebagai pertanda pindahnya fase dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Lantas seperti apa kubur kita? Apa ia kan menjadi taman surga yang indah lagi mempesona atau menjadi jurang neraka yang kelam lagi mengerikan?

Amal kita lah yang akan menentukan seperti apa kubur kita kelak.
Bila menjadi taman surga kebahagiaan bisa dirasakan sembari menunggu hari kiamat tiba. Waktu berlalu tanpa dirasa, hingga sangkakala dibunyikan.

Namun, jika neraka yang dihadirkan di kubur kita, seolah lama sekali menunggu tiba berakhirnya.

Masya Allah....
Bila mengingat dahsyatnya peristiwa kematian, diri tersadar tak ingin lagi hidup dalam kesia-siaan.

Namun terkadang diri terjatuh dalam ketergodaan. Dan tugas kita bersegera bangkit untuk selalu melakukan perbaikan. Berharap Allah kan beri ampunan dan saat ajal menjelang semua dosa kan termaafkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar,”Kami bersepuluh datang kepada Rasululla SAW, ketika seorang anshar berdiri dan bertanya:”Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?”

Maka Rasulullah SAW menjawab, ”Mereka adalah yang sering mengingat kematian. Merekalah orang-orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu Majjah).

Memperbanyak mengingat kematian akan mendatangkan kemuliaan. Merasa takut akan azab Nya saja mampu menghapus diri dari dosa. Bahkan para sahabat Rasulullah sampai membuat liang lahat di dalam rumahnya untuk mengingatkan diri sendiri.

Kala iman melemah mereka masuk ke liang lahat dan menutupnya rapat-rapat untuk bermuhasabah. Menyadari khilaf dan alpa supaya bersemangat mengumpulkan pahala.

Allahu Akbar.
Kematian sebuah kisah kepastian yang kita tak mampu merubah skenario Nya. Air mata, duka nestapa, ratapan sanak saudara tak mampu hentikan alur cerita yang sudah ditetapkan oleh Nya. Selagi nafas masih ada, tetaplah bertahan di jalan kebenaran. Untuk menangkap peluang berbuat kebajikan serta menebar kebaikan. Agar tak menyesal kala waktu habis tak tersisa lagi untuk kita.

Hidup di dunia diibaratkan kita sedang bercocok tanam di ladang, dan kelak hasil dari cocok tanam tersebut akan kita tuai pada kehidupan setelah mati, yakni kehidupan di akhirat.

Hidup di dunia hanya senda gurau, permainan yang tak lebih hanya sebagai terminal kehidupan menuju sebuah hidup yang lebih kekal dan hakiki.

Adanya kehidupan setelah mati merupakan hal yang wajib dipercaya oleh mereka yang memiliki agama. Segala bentuk tindakan yang pernah kita lakukan selama di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Inilah yang menyebabkan kita tak boleh begitu larut dengan indahnya kehidupan dunia. Sebab akan ada proses hitung-hitungan yang akan kita jalani kelak di hadapan Tuhan.

Jika kita buruk selama di dunia niscaya Tuhan akan memberi balasan yang setimpal dengan keburukan kita.
Sebaliknya jika kita baik, maka Tuhan akan memberi balasan berupa keindahan surga yang sangat dinanti-nanti oleh manusia. Inilah makna kehidupan yang sebenarnya.

Indahnya gemerlap kehidupan di dunia sering membuat manusia lupa dengan hakikat dan makna kehidupan. Manusia merasa seolah mereka akan hidup selamanya di dunia. Mereka lupa bahwa akan ada kehidupan sejati yang akan dilalui. Segala bentuk ketidakadilan yang dialami manusia selama di dunia akan diadili di akhirat kelak.

Di sanalah pengadilan yang tak akan pernah sedikit pun menzalimi para peserta pengadilan tersebut.

Manusia penting mengingat mati, sebab itu akan mendorong dirinya cerdas dalam mengahadapi segala hal kehidupan di dunia. Ia tak akan tertipu dengan kemewahan dunia.

Bahkan dikatakan bahwa orang yang paling pintar adalah orang yang selalu rajin mengingat kematian atau disebut dengan zikrul maut.

Sebab kematian adalah sesuatu yang rahasia, hanya Allah yang tahu kapan seorang hamba akan ia panggil kembali.

Wallahu A'lam

0 Response to "Sungguh Kematiaan Adalah Muara Bagi manusia"

Post a Comment