TASYAFFI

πŸ“† Jumat, 17 Syawal 1437H / 22 Juli 2016

πŸ“š *TAZKIYATUN NAFS*

πŸ“ Ustadz Abdullah Haidir Lc.

πŸ“‹ *TASYAFFI*

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

"Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu." (QS. Yusuf: 77)

Kata-kata di atas adalah komentar saudara-­saudara Nabi Yusuf yang Allah kisahkan kembali dalam Al­-Quran pada surat Yusuf ayat 77.

Latar belakangnya, Nabi Yusuf ingin agar Bunyamin tetap bersamanya. Maka dia perintahkan pegawainya memasukkan wadah milik kerajaan ke kantong makanan yang dibawanya dengan tujuan agar dia dituduh mencuri dan akhirnya ditawan dan tidak dapat ikut kembali bersama saudara-saudaranya.

Saudara­-saudaranya sendiri, yang sudah kadung membenci dan dengki kepada Bunyamin dan Nabi Yusuf, alih-­alih membelanya dan mencarikan alibi, mereka justeru memperlebar masalah dengan membawa-­bawa nama Nabi Yusuf, 'Wajarlah kalau dia mencuri, wong saudaranya juga pernah mencuri…..' begitu kira-kira jika ayat di atas disederhanakan maknanya.

Sikap di atas dalam bahasa Arab disebut *tasyafii*; _menumpahkan umpatan yang tersimpan ketika ada berita tentang 'kelakuan buruk' seseorang yang kadung tidak disukai_.

Perkara berita tersebut benar atau tidak, apakah mutlak salahnya atau tidak, apa latar belakang masalahnya, maksud dan tujuannya apa, itu 'nomor ketigabelas'.

Yang penting moment tersebut tidak boleh terlewatkan baginya untuk menyalurkan dan melampiaskan ekspresinya tersebut. Perkara itu ghibah atau bukan, tinggal dicarilah logika pembenarannya, kan sudah biasa berdebat.

Gampang saja, bukan? Dalilnya, tinggal dipilih! Baginya, mengangkat kekeliruan dan kesalahan orang tersebut dan mengenyampingkan kebaikan­-kebaikannya, lebih mudah dan terasa memuaskan, ketimbang menyebut kebaikan-­kebaikannya dan menutup kekeliruannya atau minimal mencari klarifikasi atas apa yang dianggapnya salah.

Kondisi seperti ini sebenarnya merugikan pihak pengumpat jauh lebih besar ketimbang yang diumpat. Hatinya semakin keruh, kata­katanya semakin tidak terkontrol dan tertutuplah kebaikan­kebaikan yang seharusnya bisa dia dapatkan.

Kesalahan adalah tabi'at manusia, apalagi kalau wilayah aktifitasnya pada tataran riil dengan segmen publik yang luas, berbeda kalau wilayah aktifitasnya hanya sebatas wacana dan diskusi terbatas.

Kekeliruan memang harus diluruskan, setelah kita yakin bahwa itu kekeliruan. Tapi tidak dengan membuat kekeliruan baru dengan bergunjing, memperlebar masalah dan menafikan berbagai kebaikan yang ada, apalagi terhadap orang yang secara umum berusaha menempuh jalur kebaikan dan menebarkan kebaikan.

Adapun niatnya, hanya Allah yang mengetahui niat seseorang, kecuali kalau kita ingin menandingi Allah dalam masalah ini.

Ada kisah menarik dan sangat dikenal (haditsnya dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhushshalihin, bab Taubat), yaitu tentang Ka'ab bin Malik, shahabat mulia namun pernah tergelincir karena mangkir dalam perang Tabuk. Di tengah perjalanan, ketika ada seseorang hendak melampiaskan kekesalannya dengan berkata di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
'Wahai Rasulullah, dia tak ikut karena asyik dengan burdahnya...'

Mendengar itu, serta merta Muaz bin Jabal menyergah, 'Buruk sekali apa yang kamu katakan, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak mengenalnya kecuali dia orang yang baik.' (Muttafaq alaih)

WalLΓ’hu a'lam

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "TASYAFFI"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI