PEMUDA-PEMUDA OBSESIF (Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

📆 Selasa, 14 Syawal 1437H / 19 Juli 2016

📚 *QUR'AN DAN TAFSIR*

📝 Ustadz DR Saiful Bahri, MA.

📝 *PEMUDA-PEMUDA OBSESIF*
(Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📚 *Iftitah*

Bila kita hendak mengetahui betapa pentingnya masa muda kita bisa menilik pada sejarah. Para nabi utusan Allah hampir semua menerima wahyu pada usia muda.

Karena pada kaum muda terdapat berbagai potensi dan kekuatan yang tidak dimiliki anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia.

Maka bila tidak terarahkan secara baik dikhawatirkan akan beralih menjadi potensi kejahatan dan kejelekan yang akan merusak. Bukan hanya bagi dirinya, tapi bisa berakibat pada lingkungan sekitarnya.

Perhatian al-Qur’an terhadap pemuda tertuang secara simbolik melalui kisah ashâbul kahfi. Kisah heroik beberapa orang kaum muda yang konsisten berpegang pada ajaran Allah meski berhadapan dengan penguasa diktator yang gencar mengintimidasi dengan teror-teror fisik dan psikis. Kepada siapapun yang enggan menyembah sesembahan dan tunduk pada agama mereka.

📚 *Konsisten dan Sabar*

Kunci kisah heroik ashâbul kahfi sebenarnya terletak pada konsistensi mereka mempertahankan semangat dakwah mereka serta kesabaran mereka. Terlihat jelas dari kejelian mereka mengatur strategi berdakwah.

Menyembunyikan keimanan mereka dan kemudian berani lantang menyuarakan kebenaran pada saat yang tepat. Meski pada akhirnya Allah lah yang mengatur strategi lebih jitu dan memiliki rencana. Di atas semua rencana hamba-hamba-Nya.

Di antara sebab-sebab diturunkannya Surat al-Kahfi –sebagaimana yang ditulis oleh as-Suyuthi dalam Lubâb an-Nuqûl, demikian juga ath-Thabari dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya-

Ibnu Abbas ra meriwayatkan, saat itu Nadhar bin Harits dan Uqbah bin Abi Mu’ith pergi ke pendeta-pendeta Yahudi. Singkat cerita mereka menyuruh Nadhar dan Uqbah untuk bertanya tiga hal pada Nabi Muhammad saw. : tentang ashâbul kahfi, Raja Zulkarnaen dan tentang ruh. Jika bisa terjawab maka Muhammad benar-benar seorang Nabi utusan Allah. Maka mereka pun bergegas menguji Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad seketika menjawab,”Akan aku jawab besok.” Ternyata sampai lima belas malam belum juga turun wahyu. Nabi pun bersedih dan khawatir umatnya semakin berani mengolok-olokkan dan mendustakannya.

Allah pun menurunkan wahyu-Nya. Beliau ditegur karena memastikan sesuatu, tidak mengatakan ”insya Allah”. ”Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu:

Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): *“Insya Allah”*. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.” (QS. 18 : 23-24)

📚 *Tanda-tanda Kekuasaan Allah*

Pada ayat sembilan Allah berfirman,” Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan kami yang mengherankan?” (QS. 18 :9).

Karena terkadang kita terjebak pada hal-hal yang seperti ini. Cenderung mengultuskan orang-orang yang diberi karomah oleh Allah. Padahal sebenarnya Allah ingin menyampaikan pesan kekuasaan-Nya melalui mereka. Sebagaimana memberi para rasul dan nabi-Nya dengan berbagai mukjizat.

📚 *Siapakah Ashâbul Kahfi*

Ashâbul kahfi hidup membawa ajaran Nabi Isa as.
Hanya saja al-Qur’an tidak menjelaskan dengan detail kapan mereka hidup. Al-Qur’an hanya menyebutkan berapa lama mereka ditidurkan Allah dalam gua.

 ”Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun” (QS. 18: 25) Yaitu selama 300 tahun (Kalender Masehi) atau sama dengan 309 tahun (Kalender Hijriyah). Karena itu Allah menyebutkannya dengan ”wazdâdû tis’an”.

Mereka adalah sekelompok pemuda yang jumlahnya diperselisihkan[1]. Ada yang mengatakan jumlah mereka tujuh orang ditambah satu anjing penjaga. Bahkan di antara mereka menjadi orang kepercayaan Gubernur Romawi saat itu -menurut Ibnu Katsir bernama Diqyanus. Sekaligus menepis rumor bahwa agama Islam hanya dianut oleh orang-orang miskin dan lemah. Justru sebaliknya agama ini mampu menembus dinding-dinding istana meski dikawal ketat oleh para algojo kezhaliman.
Sebagaimana dakwah Nabi Musa as. yang masuk istana dengan tenang meski Fir’aun secara membabi buta telah membunuh ratusan, bahkan mungkin ribuan bayi.

🔹Bersambung🔹

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "PEMUDA-PEMUDA OBSESIF (Sebuah Refleksi Ashâbul Kahfi)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI