Beberapa Adab dan Sunah Berhari Raya (Bag. 3) selesai

๐Ÿ“† Senin,  29 Ramadhan 1437 H / 4 Juli 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Beberapa Adab dan Sunah Berhari Raya (Bag. 3)* selesai.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

9⃣  *Mengucapkan selamat hari raya: “taqabbalallahu minna wa minka”*

Telah diriwayatkan dari Al Watsilah, bahwa beliau berjumpa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucakan:  Taqabballahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amal kami dan Anda). Namun sanad riwayat ini DHA'IF (lemah/tidak valid), sebagaimana yang dikatakan Al Imam Al Hazifh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul Bari.

 Namun, Imam Ibnu Hajar berkata:

ูˆَุฑَูˆَูŠْู†َุง ูِูŠ " ุงู„ْู…َุญุงู…ِู„ِูŠَّุงุชِ " ุจِุฅِุณْู†َุงุฏٍ ุญَุณَู†ٍ ุนَู†ْ ุฌُุจَูŠْุฑِ ุจْู†ِ ู†ُูَูŠْุฑٍ ู‚َุงู„َ " ูƒَุงู†َ ุฃَุตْุญَุงุจُ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐَุง ุงِู„ْุชَู‚َูˆْุง ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุนِูŠุฏِ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ู„ِุจَุนْุถٍ : ุชَู‚َุจَّู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َّุง ูˆَู…ِู†ْูƒ "

“Kami meriwayatkan dalam kitab Al Mahalliyat, dengan sanad yang hasan (bagus), dari Jubeir bin Nufair, katanya: dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mereka berjumpa pada hari raya, satu sama lain berkata: “taqabbalallahu minna wa minka.” (Fathul Bari, 2/446. Darul Fikr)

Hal ini juga diriwayatkan oleh Muhammad bin Ziyad, bahwa beliau bersama Abu Umamah Al Bahili dan para sahabat nabi lainnya, bahwa mereka jika satu sama lain berjumpa sepulang shalat Id, mengucapkan: taqabballahu minna wa minka. Menurut Imam Ahmad bin Hambal sanadnya jayyid (bagus/baik). (Syaikh Al Albani, Tamamul Minnah, hal. 355-356)

Ucapan inilah yang lebih baik dan sunnah para sahabat nabi.

Adapun ucapan Minal 'Aidin wal Faaizin merupakan potongan dari kalimat Ja'alanallahu wa iyyakum minal 'aaidin wal faaizin, artinya semoga Allah jadikan kami dan anda termasuk orang kembali (suci) dan menang.

Atau, di sebagian negeri muslim ada yang mentradisi ucapan 'iduka mubaarak - semoga hari rayamu diberkahi.

Ada pula kullu 'aam wa antum bikhair - setiap tahun semoga anda dalam kebaikan

Semua ini tidaklah terlarang, sebagai sebuah kalimat baik dan doa yang baik, walau bukan dari Nabi dan sahabatnya.

 Sebagaimana perkataan Imam Asy Syafi'i bahwa perkataan itu dihukumi bagaimana isinya, jika baik maka itu baik, jika buruk maka itu buruk. Maka, sikap tergesa-gesa sebagian da'i yang membid'ah-bid'ahkan ini adalah sikap ghuluw yang tidak perlu terjadi.

๐Ÿ”Ÿ *Bersenang-senang dan bergembira dengan mengadakan pesta dan permainan yang halal*

Bersenang dan bergembira ketika hari raya adalah bagian dari ketentuan syariat, selama semua dilakukan sesuai syariat pula, tidak berlebihan, dan tidak membuat lupa dengan kewajiban.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุงู„ู„ุนุจ ุงู„ู…ุจุงุญ، ูˆุงู„ู„ู‡ูˆ ุงู„ุจุฑุฆ، ูˆุงู„ุบู†ุงุก ุงู„ุญุณู†، ุฐู„ูƒ ู…ู† ุดุนุงุฆุฑ ุงู„ุฏูŠู† ุงู„ุชูŠ ุดุฑุนู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ููŠ ูŠูˆู… ุงู„ุนูŠุฏ، ุฑูŠุงุถุฉ ู„ู„ุจุฏู† ูˆุชุฑูˆูŠุญุง ุนู† ุงู„ู†ูุณ

Melakukan permainan yang dibolehkan, gurauan yang baik, nyanyian yang baik, semua itu termasuk di antara syiar-syiar agama yang Allah tetapkan pada hari raya  , untuk menyehatkan   badan dan mengistirahatkan jiwa. (Fiqhus Sunnah, 1/323)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

ู‚َุฏِู…َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉَ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ูŠَูˆْู…َุงู†ِ ูŠَู„ْุนَุจُูˆู†َ ูِูŠู‡ِู…َุง ูَู‚َุงู„َ ู…َุง ู‡َุฐَุงู†ِ ุงู„ْูŠَูˆْู…َุงู†ِ ู‚َุงู„ُูˆุง ูƒُู†َّุง ู†َู„ْุนَุจُ ูِูŠู‡ِู…َุง ูِูŠ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู‚َุฏْ ุฃَุจْุฏَู„َูƒُู…ْ ุจِู‡ِู…َุง ุฎَูŠْุฑًุง ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฃَุถْุญَู‰ ูˆَูŠَูˆْู…َ ุงู„ْูِุทْุฑِ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, saat itu mereka memiliki dua hari untuk bermain-main. Lalu Beliau bersabda: “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab: “Dahulu, ketika kami masih jahiliyah kami bermain-main pada dua hari ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kalian dua hari itu dengan yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Daud No. 1134, Ahmad No. 12006, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5918, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1091, Abu Ya’la No. 3820)

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bercerita:

ุฃَู†َّ ุงู„ْุญَุจَุดَุฉَ ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَู„ْุนَุจُูˆู†َ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูِูŠ ูŠَูˆْู…ِ ุนِูŠุฏٍ، ู‚َุงู„َุชْ: ูَุงุทَّู„َุนْุชُ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِ ุนَุงุชِู‚ِู‡ِ ، ูَุทَุฃْุทَุฃَ ู„ِูŠ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู…َู†ْูƒِุจَูŠْู‡ِ، ูَุฌَุนَู„ْุชُ ุฃَู†ْุธُุฑُ ุฅِู„َูŠْู‡ِู…ْ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِ ุนَุงุชِู‚ِู‡ِ ุญَุชَّู‰ ุดَุจِุนْุชُ، ุซُู…َّ ุงู†ْุตَุฑَูْุชُ

Orang-orang Habasyah (Etiopia) mengadakan permainan di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari raya. Dia (‘Aisyah) berkata: “Aku pun menonton di atas bahunya, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merendahkan bahunya untukku, sehingga aku bisa melihat mereka di atas bahunya sampai aku puas, kemudian aku berpaling.” (HR. Ahmad No. 24296, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1798, dan Sunan An Nasa’i No. 1594. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 1594, juga Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24296)

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha juga cerita:

ุฏَุฎَู„َ ุฃَุจُูˆ ุจَูƒْุฑٍ ูˆَุนِู†ْุฏِูŠ ุฌَุงุฑِูŠَุชَุงู†ِ ู…ِู†ْ ุฌَูˆَุงุฑِูŠ ุงู„ْุฃَู†ْุตَุงุฑِ ุชُุบَู†ِّูŠَุงู†ِ ุจِู…َุง ุชَู‚َุงูˆَู„َุชْ ุงู„ْุฃَู†ْุตَุงุฑُ ูŠَูˆْู…َ ุจُุนَุงุซَ ู‚َุงู„َุชْ ูˆَู„َูŠْุณَุชَุง ุจِู…ُุบَู†ِّูŠَุชَูŠْู†ِ ูَู‚َุงู„َ ุฃَุจُูˆ ุจَูƒْุฑٍ ุฃَู…َุฒَุงู…ِูŠุฑُ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ูِูŠ ุจَูŠْุชِ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุฐَู„ِูƒَ ูِูŠ ูŠَูˆْู…ِ ุนِูŠุฏٍ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุง ุฃَุจَุง ุจَูƒْุฑٍ ุฅِู†َّ ู„ِูƒُู„ِّ ู‚َูˆْู…ٍ ุนِูŠุฏًุง ูˆَู‡َุฐَุง ุนِูŠุฏُู†َุง

“Abu Bakar masuk ke rumah dan di hadapanku ada dua orang  jariyah (budak remaja wanita) dari Anshar, mereka berdua sedang bernyanyi dengan syair yang mengingatkan kaum Anshar terhadap hari perang Bu’ats.”  Dia (‘Aisyah) berkata: “Mereka berdua bukanlah penyanyi.” Lalu Abu Bakar berkata: “Apakah seruling-seruling syetan ada di rumah Rasulullah?” Saat itu sedang hari raya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, Setiap kaum ada hari rayanya, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim No. 892, Imam Muslim menambahkan bahwa dua jariyah ini memainkan duff /rebana)

Dalam riwayat lain ada tambahan:

ุฏุนู‡ู† ูŠุง ุฃุจุง ุจูƒุฑ ูุฅู†ู‡ุง ุฃูŠุงู… ุนูŠุฏ ูุชุนู„ู… ูŠู‡ูˆุฏ ุฃู† ูู‰ ุฏูŠู†ู†ุง ูุณุญุฉ ุฅู†ู‰ ุฃุฑุณู„ุช ุจุญู†ูŠููŠุฉ ุณู…ุญุฉ

Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya ini adalah hari raya, agar orang Yahudi tahu bahwa pada agama kita ada kelapangan, dan aku diutus dengan membawa agama yang hanif lagi lapang. (HR. Ahmad No. 24855, Alauddin A

l Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 40628. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hadits ini kuat, dan sanadnya hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24855)

1⃣1⃣ *Bertakbir Pada Hari Raya*

Kita dianjurkan untuk bertakbir pada hari raya, selain ini menjadi syiar Islam yang  begitu kuat, ini juga diperintahkan dalam Al Quran dan dicontohkan dalam As Sunnah.

Ada dua pembahasan dalam hal ini, yaitu bertakbir pada IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA.

▶️❗️ Untuk bertakbir pada Idul Fitri

 Allah Ta’ala berfirman:

ูˆَู„ِุชُูƒْู…ِู„ُูˆุง ุงู„ْุนِุฏَّุฉَ ูˆَู„ِุชُูƒَุจِّุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ู…َุง ู‡َุฏَุงูƒُู…ْ ูˆَู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุดْูƒُุฑُูˆู†َ

                           Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Baqarah (2): 185)

๐Ÿ“Œ Waktunya

Ayat  di atas dijadikan dalil oleh Imam Asy Syafi’i dan yang menyepakatinya, bahwa bertakbir pada hari Idul Fitri adalah dimulai ketika berakhirnya Ramadhan pada saat tenggelamnya matahari. Istilah di negeri kita adalah malam takbiran. Pada ayat ini, diperintahkan untuk  mulai bertakbir ketika sudah sempurna bilangan puasanya, dan bilangan puasa telah cukup sempurna setelah mereka berbuka pada puasa terakhir Ramadhan di malam harinya.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุงู„ ู‚ูˆู… ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ู…ู† ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ูุทุฑ ุฅุฐุง ุฑุฃูˆุง ุงู„ู‡ู„ุงู„ ุญุชู‰ ูŠุบุฏูˆุง ุฅู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ู‰ ูˆุญุชู‰ ูŠุฎุฑุฌ ุงู„ุงู…ุงู…

Segolongan ulama mengatakan bahwa bertakbir dilakukan sejak malam hari raya Idul Fitri jika telah terlihat hilal, sampai pagi hari hari menuju lapangan dan sampai keluarnya imam ke tempat shalat. (Fiqhus Sunnah, 1/325)

Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu berkata dalam Al Umm ketika mengomentari ayat di atas:

ูَุณَู…ِุนْุช ู…ู† ุฃَุฑْุถَู‰ ู…ู† ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ุจِุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู„َ ู„ِุชُูƒْู…ِู„ُูˆุง ุงู„ْุนِุฏَّุฉَ ุนِุฏَّุฉَ ุตَูˆْู…ِ ุดَู‡ْุฑِ ุฑَู…َุถَุงู†َ ูˆَุชُูƒَุจِّุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุนِู†ْุฏَ ุฅูƒْู…َุงู„ِู‡ِ ุนู„ู‰ ู…ุง ู‡َุฏَุงูƒُู…ْ ูˆَุฅِูƒْู…َุงู„ُู‡ُ ู…َุบِูŠุจُ ุงู„ุดَّู…ْุณِ ู…ู† ุขุฎِุฑِ ูŠَูˆْู…ٍ ู…ู† ุฃَูŠَّุงู…ِ ุดَู‡ْุฑِ ุฑَู…َุถَุงู†َ

Aku mendengar dari orang-orang yang aku ridhai dari kalangan ulama yang mengerti Al Quran, yang mengatakan “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya” yaitu bilangan puasa di bulan Ramadhan, dan bertakbir ketika sempurna bilangannya “atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu” sempurnanya itu adalah ketika tenggelamnya matahari pada akhir hari di hari-hari bulan Ramadhan.

Lalu, Imam Asy Syafi’i melanjutkan:

ูุฅุฐุง ุฑَุฃَูˆْุง ู‡ِู„َุงู„َ ุดَูˆَّุงู„ٍ ุฃَุญْุจَุจْุชُ ุฃَู†ْ ูŠُูƒَุจِّุฑَ ุงู„ู†ุงุณ ุฌَู…َุงุนَุฉً ูˆَูُุฑَุงุฏَู‰ ููŠ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูˆَุงู„ْุฃَุณْูˆَุงู‚ِ ูˆَุงู„ุทُّุฑُู‚ِ ูˆَุงู„ْู…َู†َุงุฒِู„ِ ูˆَู…ُุณَุงูِุฑِูŠู†َ ูˆَู…ُู‚ِูŠู…ِูŠู†َ ููŠ ูƒู„ ุญَุงู„ٍ ูˆَุฃَูŠْู†َ ูƒَุงู†ُูˆุง ูˆَุฃَู†ْ ูŠُุธْู‡ِุฑُูˆุง ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑَ ูˆَู„َุง ูŠَุฒَุงู„ُูˆู†َ ูŠُูƒَุจِّุฑُูˆู†َ ุญุชู‰ ูŠَุบْุฏُูˆَุง ุฅู„َู‰ ุงู„ْู…ُุตَู„َّู‰ ูˆَุจَุนْุฏَ ุงู„ْุบُุฏُูˆِّ ุญุชู‰ ูŠَุฎْุฑُุฌَ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ู„ِู„ุตَّู„َุงุฉِ ุซُู…َّ ูŠَุฏَุนُูˆุง ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑَ

                           Maka, jika sudah terlihat hilal bulan Syawal aku suka bila manusia bertakbir baik secara berjamaah atau sendiri di masjid, pasar, jalan-jalan, rumah-rumah, para musafir, dan para mukimin pada setiap keadaan, di mana saja mereka berada hendaknya menampakkan takbirnya, dan terus menerus takbir sampai datangnya pagi hingga menunju lapangan dan setelah itu sampai imam keluar untuk shalat, kemudian mereka sudahi takbir itu. (Al Umm, 1/231. Darul Ma’rifah)

Jadi, bertakbir bukan hanya di masjid tapi juga di rumah, dk jalan-jalan, pasar, dan lainnya. Tapi, sayangnya -khusus penduduk DKI JAKARTA-  ini dilarang oleh pemerintahnya. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Lalu .. jumhur ulama mengatakan, bahwa mulainya adalah sejak pagi hari menuju lapangan hingga khutbah Id.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:    

                                  ูˆุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ููŠ ุนูŠุฏ ุงู„ูุทุฑ ู…ู† ูˆู‚ุช ุงู„ุฎุฑูˆุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅู„ู‰ ุงุจุชุฏุงุก ุงู„ุฎุทุจุฉ.ูˆู‚ุฏ ุฑูˆูŠ ููŠ ุฐู„ูƒ ุฃุญุงุฏูŠุซ ุถุนูŠูุฉ ูˆุฅู† ูƒุงู†ุช ุงู„ุฑูˆุงูŠุฉ ุตุญุช ุจุฐู„ูƒ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ. ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูƒู…: ู‡ุฐู‡ ุณู†ุฉ ุชุฏุงูˆู„ู‡ุง ุฃู‡ู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ.ูˆุจู‡ ู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญู‚ ูˆุฃุจูˆ ุซูˆุฑ.

                          Mayoritas ulama berpendapat bahwa bertakbir pada Idul Fitri dimulai sejak keluar menuju shalat Id, sampai mulainya khutbah. Hal itu telah diriwayatkan dalam hadits-hadits dhaif, walau ada yang shahih hal itu dari Ibnu Umar dan selainnya dari kalangan sahabat nabi. Berkata

Al Hakim: ini adalah sunah yang tersebar dikalangan ahli hadits. Dan inilah pendapat Malik, Ahmad, ishaq, dan Abu Tsaur.  (Fiqhus Sunnah, 1/325)                                                                        
๐Ÿ“Œ Shighat Takbir (Kalimat Takbir)

 Syaikh Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah merinci sebagai berikut:

-  Bacaan takbir menurut kalangan Hanafiyah dan Hanabilah

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha Illallah wallahu Akbar Allahu Akbar (dibaca 2 kali), lalu walillahil hamd.

Bacaan ini berdasarkan riwayat dari Jabir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan juga yang dibaca dua khalifah, dan juga Ibnu Mas’ud.

-  Menurut Malikiyah dan Syafi’iyah dalam pendapat barunya (Qaul Jadid)

(Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar) dan ini adalah yang terbaik menurut Malikiyah, jika mau menambahkan (Laa Ilaha Ilallah wallahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil Hamd), maka ini bagus, amalan ini berdasarkan riwayat dari Jabir dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, disunahkan menurut Syafi’iyah setelah membaca takbir yang ketiga: (Allahu Akbar Kabira wal Hamdulillah Katsira wa Subhanallahu Bukrataw wa Ashila), sebagaimana yang nabi ucapkan di bukti Shafa.

 Disunahkan pula setelah itu dengan menambahkan:

ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ุง ู†ุนุจุฏ ุฅู„ุง ุฅูŠุงู‡، ู…ุฎู„ุตูŠู† ู„ู‡ ุงู„ุฏูŠู† ، ูˆู„ูˆ ูƒุฑู‡ ุงู„ูƒุงูุฑูˆู†، ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡، ุตุฏู‚ ูˆุนุฏู‡، ูˆู†ุตุฑ ุนุจุฏู‡، ูˆู‡ุฒู… ุงู„ุฃุญุฒุงุจ ูˆุญุฏู‡، ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ

Tambahan ini dilakukan jika mau saja menurut Hanafiyah, lalu ditutup dengan membaca:

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ِّ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ู…ุญู…ุฏ، ูˆุนู„ู‰ ุฃุตุญุงุจ ู…ุญู…ุฏ، ูˆุนู„ู‰ ุฃุฒูˆุงุฌ ู…ุญู…ุฏ، ูˆุณู„ู… ุชุณู„ูŠู…ุงً ูƒุซูŠุฑุงً
  Demikian. (Lihat semua dalam: Al Fiqhu Al Islami wa Adillatuhu, 2/532)              

  Imam Ath Thabarani meriwayatkan tentang takbirnya Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:

ุฃู†ู‡ ูƒุงู† ูŠูƒุจุฑ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุบุฏุงุฉ ู…ู† ูŠูˆู… ุนุฑูุฉ ูˆูŠู‚ุทุน ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนุตุฑ ู…ู† ูŠูˆู… ุงู„ู†ุญุฑ ูŠูƒุจุฑ ุฅุฐุง ุตู„ู‰ ุงู„ุนุตุฑ ู‚ุงู„ : ูˆูƒุงู† ูŠูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฃูƒุจุฑ ูˆู„ู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏ

Bahwasanya Abdullah bin Mas’ud bertakbir pada shalat subuh pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), dan memutuskannya pada shalat ‘ashar hari nahr (penyembelihan), Beliau bertakbir jika shalat ‘ashar: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa Ilaha Illallah wallahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.” (Al Mu’jam Al Kabir No. 9538. Lihat juga  Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 5679, )

 Serupa dengan ini  juga dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib. (Kanzul ‘Ummal No. 12754)

 Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir sejak shalat subuh pada hari ‘Arafah, hingga hari-hari tasyriq, tidak bertakbir pada maghribnya. Kalimat takbir Ibnu Abbas:

ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูƒَุจِูŠุฑًุง ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูƒَุจِูŠุฑًุง ، ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูˆَุฃَุฌَู„ُّ ، ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูˆَู„ِู„َّู‡ِ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ.

Allahu Akbar Kabira (2X), Allahu Akbar wa Ajall, Allahu Akbar wa lillahil Hamd. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah No. 5692)

Mana saja dari kalimat ini yang kita pakai, maka semuanya adalah baik. Ini adalah masalah yang lapang dan luwes.

๐Ÿ“Œ Dianjurkan Mengeraskan Suara

Tertulis di dalam Al Mausu’ah:

  ุฃَู…َّุง ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑُ ูِูŠ ุนِูŠุฏِ ุงู„ْูِุทْุฑِ ูَูŠَุฑَู‰ ุฌُู…ْู‡ُูˆุฑُ ุงู„ْูُู‚َู‡َุงุกِ ุฃَู†َّู‡ُ ูŠُูƒَุจَّุฑُ ูِูŠู‡ِ ุฌَู‡ْุฑًุง ูˆَุงุญْุชَุฌُّูˆุง ุจِู‚َูˆْู„ِู‡ِ ุชَุนَุงู„َู‰ : { ูˆَู„ِุชُูƒَุจِّุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ู…َุง ู‡َุฏَุงูƒُู…ْ }   ู‚َุงู„ ุงุจْู†ُ ุนَุจَّุงุณٍ : ู‡َุฐَุง ูˆَุฑَุฏَ ูِูŠ ุนِูŠุฏِ ุงู„ْูِุทْุฑِ ุจِุฏَู„ِูŠู„ ุนَุทْูِู‡ِ ุนَู„َู‰ ู‚َูˆْู„ู‡ ุชَุนَุงู„َู‰ : { ูˆَู„ِุชُูƒْู…ِู„ُูˆุง ุงู„ْุนِุฏَّุฉَ }  ูˆَุงู„ْู…ُุฑَุงุฏُ ุจِุฅِูƒْู…َุงู„ ุงู„ْุนِุฏَّุฉِ ุจِุฅِูƒْู…َุงู„ ุตَูˆْู…ِ ุฑَู…َุถَุงู†َ

Ada pun pada Idul Fitri jumhur (mayoritas) fuqaha memandang bahwa bertakbir dilakukan dengan suara dikeraskan. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala:   “hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,” berkata Ibnu Abbas: ayat ini berbicara tentang Idul Fitri karena kaitannya dengan firmanNya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya,” maksudnya dengan menyempurnakan jumlahnya, dengan menggenapkan puasa Ramadhan.  (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 13/213)

Ada pun kalangan Hanafiyah mereka menganjurkan bertakbir secara disirr-kan, pada hari raya Idul Fitri. Berikut ini keterangannya:

ูˆَุฐَู‡َุจَ ุฃَุจُูˆ ุญَู†ِูŠูَุฉَ ุฅِู„َู‰ ุนَุฏَู…ِ ุงู„ْุฌَู‡ْุฑِ ุจِุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑِ ูِูŠ ุนِูŠุฏِ ุงู„ْูِุทْุฑِ ู„ุฃِู†َّ ุงู„ุฃْุตْู„ ูِูŠ ุงู„ุซَّู†َุงุกِ ุงู„ุฅْุฎْูَุงุกُ ู„ِู‚َูˆ

ْู„ِู‡ِ ุชَุนَุงู„َู‰ {ูˆَุงุฐْูƒُุฑْ ุฑَุจَّูƒَ ูِูŠ ู†َูْุณِูƒَ ุชَุถَุฑُّุนًุง ูˆَุฎِูŠูَุฉً ูˆَุฏُูˆู†َ ุงู„ْุฌَู‡ْุฑِ ู…ِู†َ ุงู„ْู‚َูˆْู„ }  ูˆَู‚َูˆْู„ُู‡ُ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ุงู„ْุฎَูِูŠُّ. ูˆَู„ุฃِู†َّู‡ُ ุฃَู‚ْุฑَุจُ ู…ِู†َ ุงู„ุฃْุฏَุจِ ูˆَุงู„ْุฎُุดُูˆุนِ ، ูˆَุฃَุจْุนَุฏُ ู…ِู†َ ุงู„ุฑِّูŠَุงุกِ

Pendapat Abu Hanifah adalah takbir tidak dikeraskan saat Idul Fitri, karena pada asalnya pujian itu mesti disembunyikan, karena Allah Ta’ala berfirman:  “dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara,” dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sebaik-baiknya dzikir adalah yang tersembunyi.”    Karena hal itu lebih dekat dengan adab, khusyu’, dan lebih jauh dari riya’. (Al Mausu’ah, 13/214)

๐Ÿ“Œ Takbir Pada Idhul Adha                                          
  Allah Ta’ala berfirman:

ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูِูŠ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…َุนْุฏُูˆุฏَุงุชٍ
  Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. (QS. Al Baqarah (2): 203)

Maksud  “hari-hari yang telah ditentukan” adalah hari-hari tasyriq, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas. (Al Baihaqi dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar No. 3354)

๐Ÿ“Œ  Waktunya

  Bertakbir pada Idul Adha, sudah dimulai sejak pagi hari 9 Dzulhijah hingga akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah)  sebelum maghrib. Sebenarnya tidak ada keterangan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, oleh karena itu mereka berbeda dalam kapankah mulainya? Dan kapan berakhirnya?  Ada pun sebagian sahabat melakukannya sejak subuh hari Arafah hingga ashar 13 Dzulhijjah, itulah yang dilakukan oleh para sahabat seperti Ali dan Ibnu Mas’ud sebagaimana keterangan sebelumnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar menceritakan:

ูˆَู„ِู„ْุนُู„َู…َุงุกِ ุงِุฎْุชِู„َุงูٌ ุฃَูŠْุถًุง ูِูŠ ุงِุจْุชِุฏَุงุฆِู‡ِ ูˆَุงู†ْุชِู‡َุงุฆِู‡ِ ูَู‚ِูŠู„َ : ู…ِู†ْ ุตُุจْุญِ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…ِู†ْ ุธُู‡ْุฑِู‡ِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…ِู†ْ ุนَุตْุฑِู‡ِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…ِู†ْ ุตُุจْุญِ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ู†َّุญْุฑِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…ِู†ْ ุธُู‡ْุฑِู‡ِ . ูˆَู‚ِูŠู„َ ูِูŠ ุงู„ِุงู†ْุชِู‡َุงุกِ ุฅِู„َู‰ ุธُู‡ْุฑِ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ู†َّุญْุฑِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ุฅِู„َู‰ ุนَุตْุฑِู‡ِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ุฅِู„َู‰ ุธُู‡ْุฑِ ุซَุงู†ِูŠู‡ِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ุฅِู„َู‰ ุตُุจْุญِ ุขุฎِุฑِ ุฃَูŠَّุงู…ِ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ุฅِู„َู‰ ุธُู‡ْุฑِู‡ِ ، ูˆَู‚ِูŠู„َ ุฅِู„َู‰ ุนَุตْุฑِู‡ِ . ุญَูƒَู‰ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ْุฃَู‚ْูˆَุงู„َ ูƒُู„َّู‡َุง ุงู„ู†َّูˆَูˆِูŠُّ ุฅِู„َّุง ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَ ู…ِู†ْ ุงู„ِุงู†ْุชِู‡َุงุกِ . ูˆَู‚َุฏْ ุฑَูˆَุงู‡ُ ุงู„ْุจَูŠْู‡َู‚ِูŠُّ ุนَู†ْ ุฃَุตْุญَุงุจِ ุงِุจْู†ِ ู…َุณْุนُูˆุฏٍ ูˆَู„َู…ْ ูŠَุซْุจُุชْ ูِูŠ ุดَูŠْุกٍ ู…ِู†ْ ุฐَู„ِูƒَ ุนَู†ْ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุญَุฏِูŠุซٌ ، ูˆَุฃَุตَุญُّ ู…َุง ูˆَุฑَุฏَ ูِูŠู‡ِ ุนَู†ْ ุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉِ ู‚َูˆْู„ُ ุนَู„ِูŠٍّ ูˆَุงุจْู†ِ ู…َุณْุนُูˆุฏٍ ุฃَู†َّู‡ُ ู…ِู†ْ ุตُุจْุญِ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ุขุฎِุฑِ ุฃَูŠَّุงู…ِ ู…ِู†ًู‰ ุฃَุฎْุฑَุฌَู‡ُ ุงِุจْู†ُ ุงู„ْู…ُู†ْุฐِุฑِ ูˆَุบَูŠْุฑُู‡ُ ูˆَุงَู„ู„َّู‡ُ ุฃَุนْู„َู…ُ      

  Para ulama berbeda pendapat juga tentang mulai dan berakhirnya. Ada yang bilang: sejak subuh hari ‘Arafah, ada pula yang bilang sejak zhuhur, ada yang sejak ashar, ada yang bilang sejak subuh hari nahr (penyembelihan – 10 Dzulhijah, pen), ada yang bilang sejak zhuhur hari nahr. Ada yang mengatakan berakhirnya sampai zhuhur hari nahr, ada yang bilang sampai ashar, ada yang bilang sampai zhuhur hari tasyriq kedua, ada yang bilang sampai subuh pada akhir hari tasyriq, ada yang bilang sampai zuhurnya, dan ada yang sampai asharnya.   Semua pendapat ini diceritakan oleh An Nawawi kecuali pendapat  berakhirnya takbir sampai zhuhur hari kedua tasyriq. Dan, Al Baihaqi telah meriwayatkan dari para sahabat, dari Ibnu Mas’ud.  Tidak ada yang pasti sedikit pun  hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hal ini, yang shahih adalah apa yang diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas’ud bahwa mereka melakukannya sejak subuh hari Arafah hingga akhir hari-hari di Mina –hari tasyriq. (Fathul Bari, 2/462)                          

  Syaikh Sayyid Sabiq menambahkan:

ูˆูˆู‚ุชู‡ ููŠ ุนูŠุฏ ุงู„ุงุถุญู‰ ู…ู† ุตุญูŠุญ ูŠูˆู… ุนุฑูุฉ ุฅู„ู‰ ุนุตุฑ ุฃูŠุงู… ุงู„ุชุดุฑูŠู‚ ูˆู‡ูŠ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุญุงุฏูŠ ุนุดุฑ، ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ ุนุดุฑ، ูˆุงู„ุซุงู„ุซ ุนุดุฑ ู…ู† ุฐูŠ ุงู„ุญุฌุฉ.

Waktu bertakbir bagi Idul Adha yang shahih adalah sejak hari ‘Arafah sampai ashar hari-hari tasyriq, yaitu 11,12,13, dari Dzulhijjah. (Fiqhus Sunnah, 1/325)

  Sebenarnya, dalam hadits shahih ada isyarat bahwa mulainya bertakbir bagi Idul Adha adalah sejak hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), yaitu beberapa riwayat berikut:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ูŠَูˆْู…ُ ุนَุฑَูَุฉَ ูˆَูŠَูˆْู…ُ ุงู„ู†َّุญْุฑِ ูˆَุฃَูŠَّุงู…ُ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุนِูŠุฏُู†َุง ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ูˆَู‡ِูŠَ ุฃَูŠَّุงู…ُ ุฃَูƒْู„ٍ ูˆَุดُุฑْุจٍ

Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.” )

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘
Majelis Ilmu Farid Nu'man:
Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃَูŠَّุงู…ُ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุฃَูŠَّุงู…ُ ุฃَูƒْู„ٍ ูˆَุดُุฑْุจٍ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141) ), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: “dan hari berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim No. 1141)

Maka jika dipadukan semua hadits ini kita simpulkan, hari   berdzikir (bertakbir) sudah dimulai sejak hari ‘Arafah hingga hari tasyriq.  Dan, yang dilakukan para sahabat adalah sejak subuh hari ‘Arafah hingga ashar 13 Dzulhijjah.

Pada hari-hari tersebut (9,10,11,12,13 Dzulhijjah) kita bisa melakukan takbir kapan pun, sejak subuh tanggal 9 hingga ashar tanggal 13. Kita bisa melakukannya di masjid, setelah shalat wajib, di pasar, di rumah, dan di mana pun tempat yang layak untuk berdzikir.

Khadimus Sunnah, Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah rahmatan waasi’ah berkata:

ูˆุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ููŠ ุฃูŠุงู… ุงู„ุชุดุฑูŠู‚ ู„ุง ูŠุฎุชุต ุงุณุชุญุจุงุจู‡ ุจูˆู‚ุช ุฏูˆู† ูˆู‚ุช، ุจู„ ู‡ูˆ ู…ุณุชุญุจ ููŠ ูƒู„ ูˆู‚ุช ู…ู† ุชู„ูƒ ุงู„ุงูŠุงู….
ู‚ุงู„ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ: ูˆูƒุงู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูŠูƒุจุฑ ููŠ ู‚ุจุชู‡ ุจู…ู†ู‰ ููŠุณู…ุนู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ููŠูƒุจุฑูˆู† ูˆูŠูƒุจุฑ ุฃู‡ู„ ุงู„ุณูˆู‚ ุญุชู‰ ูŠุฑุชุฌ ู…ู†ู‰ ุชูƒุจูŠุฑุง. ูˆูƒุงู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ูŠูƒุจุฑ ุจู…ู†ู‰ ุชู„ูƒ ุงู„ุงูŠุงู… ูˆุฎู„ู ุงู„ุตู„ูˆุงุช ูˆุนู„ู‰ ูุฑุงุดู‡ ูˆููŠ ูุณุทุงุทู‡ ูˆู…ุฌู„ุณู‡ ูˆู…ู…ุดุงู‡ ุชู„ูƒ ุงู„ุงูŠุงู… ุฌู…ูŠุนุง، ูˆูƒุงู†ุช ู…ูŠู…ูˆู†ุฉ ุชูƒุจุฑ ูŠูˆู… ุงู„ู†ุญุฑ، ูˆูƒุงู† ุงู„ู†ุณุงุก ูŠูƒุจุฑู† ุฎู„ู ุฃุจุงู† ุจู† ุนุซู…ุงู† ูˆุนู…ุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ู„ูŠุงู„ูŠ ุงู„ุชุดุฑูŠู‚ ู…ุน ุงู„ุฑุฌุงู„ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ

Bertakbir pada hari-hari tasyriq tidak dikhususkan kesunahannya itu pada satu waktu tidak pada waktu lainnya, tetapi disunahkan pada tiap kesempatan di hari-hari itu. Imam Al Bukhari berkata: “Umar Radhiallahu ‘Anhu bertakbir di Kubah di kota Mina, hal itu didengar oleh orang di masjid maka mereka ikut bertakbir, dan bertakbir pula orang yang ada di pasar, sehingga kota Mina riuh dengan takbir. Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu, baik setelah shalat, di atas tempat tidur, ketika duduk, atau ketika berjalan, pada hari itu semuanya. Maimunah bertakbir pada hari nahr (10 Dzulhijah), kaum wanita bertakbir bersama kaum laki-laki di masjid pada malam-malam tasyriq, di belakang Abban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz. (Fiqhus Sunnah, 1/326)

Namun, sebagian ulama  ada yang merinci waktunya dan tata caranya. Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menceritakan sedikit perbedaan waktu-waktu takbir tersebut, sebagai berikut:

ูˆَู‚َุฏْ ุงِุดْุชَู…َู„َุชْ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ْุขุซَุงุฑُ ุนَู„َู‰ ูˆُุฌُูˆุฏِ ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑِ ูِูŠ ุชِู„ْูƒَ ุงู„ْุฃَูŠَّุงู…ِ ุนَู‚ِุจَ ุงู„ุตَّู„َูˆَุงุชِ ูˆَุบَูŠْุฑِ ุฐَู„ِูƒَ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฃَุญْูˆَุงู„ِ . ูˆَูِูŠู‡ِ ุงِุฎْุชِู„َุงูٌ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกِ ูِูŠ ู…َูˆَุงุถِุนَ : ูَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู…َู†ْ ู‚َุตَุฑَ ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑَ ุนَู„َู‰ ุฃَุนْู‚َุงุจِ ุงู„ุตَّู„َูˆَุงุชِ ، ูˆَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู…َู†ْ ุฎَุตَّ ุฐَู„ِูƒَ ุจِุงู„ْู…َูƒْุชُูˆุจَุงุชِ ุฏُูˆู†َ ุงู„ู†َّูˆَุงูِู„ِ ، ูˆَู…ِู†ْู‡ُู…ْ ู…َู†ْ ุฎَุตَّู‡ُ ุจِุงู„ุฑِّุฌَุงู„ِ ุฏُูˆู†َ ุงู„ู†ِّุณَุงุกِ ، ูˆَุจِุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ ุฏُูˆู†َ ุงู„ْู…ُู†ْูَุฑِุฏِ ، ูˆَุจِุงู„ْู…ُุคَุฏَّุงุฉِ ุฏُูˆู†َ ุงู„ْู…َู‚ْุถِูŠَّุฉِ ، ูˆَุจِุงู„ْู…ُู‚ِูŠู…ِ ุฏُูˆู†َ ุงู„ْู…ُุณَุงูِุฑِ ، ูˆَุจِุณَุงูƒِู†ِ ุงู„ْู…ِุตْุฑِ ุฏُูˆู†َ ุงู„ْู‚َุฑْูŠَุฉِ . ูˆَุธَุงู‡ِุฑُ ุงِุฎْุชِูŠَุงุฑِ ุงู„ْุจُุฎَุงุฑِูŠِّ ุดُู…ُูˆู„ُ ุฐَู„ِูƒَ ู„ِู„ْุฌَู…ِูŠุนِ ، ูˆَุงู„ْุขุซَุงุฑُ ุงู„َّุชِูŠ ุฐَูƒَุฑَู‡َุง ุชُุณَุงุนِุฏُู‡ُ

Semua atsar ini memuat bahwa adanya takbir itu adalah dilakukan pada hari-hari  itu, setelah shalat, dan dilakukan pula pada berbagai keadaan lain. Para ulama berbeda pendapat dalam berbagai hal: diantara mereka ada yang mempersempit bahwa takbir itu hanya setelah shalat, ada pula yang mengkhususkan lagi hanya pada shalat wajib bukan sunah, ada yang mengkhsuskan itu hanya buat laki-laki bukan wanita, pada shalat berjamaah bukan shalat sendiri, pada shalat yang dilakukan pada waktunya bukan shalat qadha, bagi orang yang mukim bukan musafir, dan pada kota-kota besar bukan pedesaan. Pendapat yang benar, yang dipilih oleh Imam Al Bukhari adalah bertakbir bisa dilakukan pada semua waktu dan keadaan tersebut, dan atsar-atsar yang telah disebutkan mendukung pendapatnya itu. (Fathul Bari, 2/462)

Apa yang dipilih oleh Imam Al Bukhari nampaknya  lebih baik,  karena tidak ada petunjuk yang mengkhususkannya, apalagi petunjuk dari para sahabat menunjukkan bahwa bertakbir bisa dilakukan kapan saja, pada hari-hari tersebut. Wallahu A’lam

๐Ÿ“ŒDianjurkan dikeraskan

 Dalam hal ini, tidak ada beda pendapat para fuqaha, bahwa sunahnya mengeraskan takbir Idul Adha. Berbeda dengan Idul fitri yang masih terjadi perselisihan.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

ู„ุงَ ุฎِู„ุงَูَ ุจَูŠْู†َ ุงู„ْูُู‚َู‡َุงุกِ ูِูŠ ุฌَูˆَุงุฒِ ุงู„ุชَّูƒْุจِูŠุฑِ ุฌَู‡ْุฑًุง ูِูŠ ุทَุฑِูŠู‚ِ ุงู„ْู…ُุตَู„َّู‰ ูِูŠ ุนِูŠุฏِ ุงู„ุฃْุถْุญَู‰

Tidak ada perbedaan pendapat di antara fuqaha tentang kebolehan bertakbir dengan dikeraskan di jalan menuju lapangan saat Idul Adha. (Al Mausu’ah, 13/213)
Tentang bentuk kalimat takbirnya, sama dengan takbir pada Idul Fitri.

Selesai. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Beberapa Adab dan Sunah Berhari Raya (Bag. 3) selesai"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI