Sekilas Seputar Zakat (Bag. 2)

๐Ÿ“† Senin,  22 Ramadhan 1437 H / 27 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Sekilas Seputar Zakat (Bag. 2)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Pembagian Jenis Zakat Menurut Macam-Macam Harta*

  Tentang zakat, secara global ada dua macam.

1⃣ Zakat Fitri

Beberapa waktu lalu sudah saya bahas. Saya ulangi sedikit.

Zakat Fitri atau Fitrah Yaitu zakat yang dikeluarkan pada saat menjelang hari raya, paling lambat sebelum shalat Idul Fitri, untuk mengenyangkan kaum fakir miskin saat hari raya, dan hukumnya wajib.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

ุฃูŠ ุงู„ุฒูƒุงุฉ ุงู„ุชูŠ ุชุฌุจ ุจุงู„ูุทุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู†. ูˆู‡ูŠ ูˆุงุฌุจุฉ ุนู„ู‰ ูƒู„ ูุฑุฏ ู…ู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†، ุตุบูŠุฑ ุฃูˆ ูƒุจูŠุฑ، ุฐูƒุฑ ุฃูˆ ุฃู†ุซู‰، ุญุฑ ุฃูˆ ุนุจุฏ

๐Ÿ“ŒYaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan). Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:

ุชุฌุจ ุนู„ู‰ ุงู„ุญุฑ ุงู„ู…ุณู„ู…، ุงู„ู…ุงู„ูƒ ู„ู…ู‚ุฏุงุฑ ุตุงุน، ูŠุฒูŠุฏ ุนู† ู‚ูˆุชู‡ ูˆู‚ูˆุช ุนูŠุงู„ู‡، ูŠูˆู…ุง ูˆู„ูŠู„ุฉ. ูˆุชุฌุจ ุนู„ูŠู‡، ุนู† ู†ูุณู‡، ูˆุนู…ู† ุชู„ุฒู…ู‡ ู†ูู‚ุชู‡، ูƒุฒูˆุฌุชู‡، ูˆุฃุจู†ุงุฆู‡، ูˆุฎุฏู…ู‡ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุชูˆู„ู‰ ุฃู…ูˆุฑู‡ู…، ูˆูŠู‚ูˆู… ุจุงู„ุงู†ูุงู‚ ุนู„ูŠู‡ู….

๐Ÿ“Œ  Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu sha’    makanan bagi dirinya dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib,  bagi dirinya, bagi orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan itu merupakan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

 Harta yang dikeluarkan adalah makanan pokok di negeri masing-masing, kalau di negeri kita sebanyak (+/-) 2,5 Kg beras. Ini pandangan jumhur (mayoritas) imam madzhab seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka menolak pembayaran zakat fitri dengan nilai harganya (uang), karena hal itu dianggap bertentangan dengan sunah nabi. Ini juga menjadi pandangan sebagian besar ulama kerajaan Arab Saudi, dan yang mengikuti mereka.

Dasarnya adalah:
  ุนَู†ْ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจْู†ِ ุนُู…َุฑَ
ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَุฑَุถَ ุฒَูƒَุงุฉَ ุงู„ْูِุทْุฑِ ู…ِู†ْ ุฑَู…َุถَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ู†َูْุณٍ ู…ِู†ْ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ุญُุฑٍّ ุฃَูˆْ ุนَุจْุฏٍ ุฃَูˆْ ุฑَุฌُู„ٍ ุฃَูˆْ ุงู…ْุฑَุฃَุฉٍ ุตَุบِูŠุฑٍ ุฃَูˆْ ูƒَุจِูŠุฑٍ ุตَุงุนًุง ู…ِู†ْ ุชَู…ْุฑٍ ุฃَูˆْ ุตَุงุนًุง ู…ِู†ْ ุดَุนِูŠุฑٍ

๐Ÿ“ŒDari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri pada bulan Ramadhan untuk setiap jiwa kaum muslimin, baik yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau dewasa, sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’  biji-bijian. (HR. Muslim No. 984)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mesti dikeluarkan dalam zakat fitri adalah makanan pokok pada sebuah negeri, sebagaimana contoh dalam hadits ini. Maka, menggunakan nilai atau harga dari makanan pokok merupakan pelanggaran terhadap sunah ini.

Sedangkan Imam Abu Hanifah, menyatakan bolehnya zakat fitri dengan uang. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

 ูˆุฌูˆุฒ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ุฅุฎุฑุงุฌ ุงู„ู‚ูŠู…ุฉ

๐Ÿ“ŒAbu Hanifah membolehkan mengeluarkan harganya. (Fiqhus Sunnah, 1/413)

Ini juga pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam ‘Atha, Imam Al Hasan Al Bashri,  Imam Bukhari, Imam Muslim, dan juga sahabat nabi, seperti Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu dan Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, membolehkannya dengan nilainya, sebab yang menjadi prinsip  adalah terpenuhi kebutuhan fakir miskin pada hari raya dan agar mereka tidak meminta-minta pada hari itu. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

ูุฑุถ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ุฒูƒุงุฉ ุงู„ูุทุฑ ูˆู‚ุงู„ ุฃุบู†ูˆู‡ู… ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ูŠูˆู…

๐Ÿ“ŒRasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, Beliau bersabda: “Penuhilah kebetuhan mereka pada hari ini.” (HR. Ad Daruquthni, 2/152)

Dalam riwayat lain:

ุฃَุบْู†ُูˆู‡ُู…ْ ุนَู†ْ ุทَูˆَุงูِ ู‡َุฐَุง ุงู„ْูŠَูˆْู…ِ
๐Ÿ“ŒPenuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mereka berkeliling (untuk minta-minta) pada hari ini. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No.  7528)

Dari riwayat ini, bisa dipahami bahwa yang menjadi substansi adalah terpenuhinya kebutuhan mereka ketika hari raya dan jangan sampai mereka mengemis.  Pemenuhan kebutuhan itu bisa saja dilakukan dengan memberikan  nilai dari kebutuhan pokoknya, atau juga  dengan barangnya. Apalagi untuk daerah pertanian, bisa jadi mereka lebih membutuhkan uang

dibanding makanan pokok, mengingat daerah seperti itu biasanya tidak kekurangan makanan pokok.

Ini juga menjadi pendapat dari Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah:

ูˆَุงู„ْุฅِุบْู†َุงุกُ ู‚َุฏْ ูŠَูƒُูˆู†ُ ุจِุฏَูْุนِ ุงู„ْู‚ِูŠู…َุฉِ ، ูƒَู…َุง ูŠَูƒُูˆู†ُ ุจِุฏَูْุนِ ุงู„ْุฃَุตْู„

๐Ÿ“ŒMemenuhi kebutuhan dapat terjadi dengan membayarkan harganya, sama halnya dengan membayarkan yang asalnya. (Imam Abul Hasan Al Mawardi, Al Hawi fi Fiqh Asy Syafi’i, 3/179)

Sebagaian ulama kontemporer, seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullahu Ta’ala membolehkan dengan uang, jika memang itu lebih membawa maslahat dan lebih dibutuhkan oleh mustahiq, tapi jika tidak, maka tetaplah menggunakan makanan pokok. Ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hanya saja Beliau membicarakannya bukan dalam konteks zakat fitri tapi zakat peternakan, bolehnya dibayarkan dengan uang jika memang itu lebih membawa maslahat, jika tidak ada maslahat, maka tetap tidak boleh menggunakan uang (harganya). Wallahu A’lam  

Kepada siapa dibagikan zakat fitri? Tidak ada bedanya dengan zakat lain, bahwa zakat fitri hendaknya diberikan kepada delapan ashnaf yang telah dikenal. Tetapi, untuk zakat fitri penekanannya adalah kepada fakir miskin, sebagaimana riwayat di atas, agar mereka terpenuhi kebutuahnya dan tidak mengemis.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

ูˆุงู„ูู‚ุฑุงุก ู‡ู… ุฃูˆู„ู‰ ุงู„ุงุตู†ุงู ุจู‡ุง
๐Ÿ“ŒOrang-orang fakir, mereka adalah ashnaf yang lebih utama untuk memperoleh zakat fitri.  (Fiqhus Sunnah, 1/415)

Dasarnya adalah hadits:

ุนَู†ْ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ู‚َุงู„َ ูَุฑَุถَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฒَูƒَุงุฉَ ุงู„ْูِุทْุฑِ ุทُู‡ْุฑَุฉً ู„ِู„ุตَّุงุฆِู…ِ ู…ِู†ْ ุงู„ู„َّุบْูˆِ ูˆَุงู„ุฑَّูَุซِ ูˆَุทُุนْู…َุฉً ู„ِู„ْู…َุณَุงูƒِูŠู†ِ
๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, untuk mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia,  perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR. Abu Daud No. 1609, Ibnu Majah No. 1827. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1488, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari. Imam Ibnu Mulqin mengatakan:  hadits ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/618.)


Bersambung ...
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Sekilas Seputar Zakat (Bag. 2)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI