Fiqih Shalat Witir (Bag. 1)

๐Ÿ“† Selasa,  16 Ramadhan 1437 H / 21 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

๐Ÿ“‹  *Fiqih Shalat Witir (Bag. 1)*
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *Definisi*

  Secara bahasa artinya Al ‘Adad Al Fardi (angka ganjil), seperti 1, 3, 5, 7, dst. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/289) .

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ๏ทบ bersabda:

ู„ِู„ู‡ِ ุชِุณْุนَุฉٌ ูˆَุชِุณْุนُูˆู†َ ุงุณْู…ًุง ู…ِุงุฆَุฉٌ ุฅِู„َّุง ูˆَุงุญِุฏًุง ู„َุง ูŠَุญْูَุธُู‡َุง ุฃَุญَุฏٌ ุฅِู„َّุง ุฏَุฎَู„َ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ูˆَู‡ُูˆَ ูˆَุชْุฑٌ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْูˆَุชْุฑَ

๐Ÿ“ŒAllah memiliki 99 nama, seratus dikurang satu. Tidak ada yang menghafalnya melainkan dia akan masuk surga. Dia adalah witir (ganjil), menyukai yang ganjil. (HR. Al Bukhari No. 6410, Muslim No. 2677)

 Secara syariat, Shalat Witir adalah:

ูˆู‡ูŠ ุตู„ุงุฉ ุชูุนู„ ู…ุง ุจูŠู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนุดุงุก ูˆุทู„ูˆุน ุงู„ูุฌุฑ ، ุชุฎุชู… ุจู‡ุง ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ، ุณู…ูŠุช ุจุฐู„ูƒ ู„ุฃู†ู‡ุง ุชุตู„ู‰ ูˆุชุฑุง ، ุฑูƒุนุฉ ูˆุงุญุฏุฉ ، ุฃูˆ ุซู„ุงุซุง ، ุฃูˆ ุฃูƒุซุฑ ، ูˆู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฌุนู„ู‡ุง ุดูุนุง

๐Ÿ“ŒDia adalah shalat yang dikerjakan antara shalat Isya dan terbitnya fajar, dengannya shalat malam ditutup. Dinamakan witir karena shalatnya dlakukan secara witir (ganjil), 1 rakaat, atau tiga, atau lebih, dan tidak boleh menjadikannya genap. (Al Mausu’ah, 27/289)

Dari definisi ini kita dapat memahami bahwa durasi untuk melaksanakan witir adalah setelah shalat Isya sampai menjelang fajar (subuh).

๐Ÿ“š *Hukumnya*

  Hukumnya sunnah muakkadah (sunah yang sangat dianjurkan). Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุงู„ูˆุชุฑ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ุญุซ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฑุบุจ ููŠู‡

๐Ÿ“Œ  Shalat witir adalah sunnah muakadah, Rasulullah ๏ทบ sangat mendorongnya  dan begitu menyukainya. (Fiqhus Sunnah, 1/191)

  Namun, Imam Abu Hanifah mewajibkannya, dan tidak ada ulama yang menyetujuinya. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan:

ูˆู…ุง ุฐู‡ุจ ุฅู„ูŠู‡ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ ู…ู† ูˆุฌูˆุจ ุงู„ูˆุชุฑ ูู…ุฐู‡ุจ ุถุนูŠู. ู‚ุงู„ ุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ: ู„ุง ุฃุนู„ู… ุฃุญุฏุง ูˆุงูู‚ ุฃุจุง ุญู†ูŠูุฉ ููŠ ู‡ุฐุง.

๐Ÿ“Œ  Apa yang menjadi pendapat Abu Hanifah bahwa witir adalah wajib merupakan pendapat yang lemah. Ibnul Mundzir berkata: “Tidak aku ketahui seorang pun yang sepakat dengan Abu Hanifah dalam hal ini.” (Ibid, 1/192)

  Dengan sanad yang shahih, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ุงู„ْูˆَุชْุฑُ ู„َูŠْุณَ ุจِุญَุชْู…ٍ ู…ِุซْู„َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูˆَู„َูƒِู†َّู‡ُ ุณُู†َّุฉٌ ุณَู†َّู‡َุง ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…

๐Ÿ“Œ  Witir bukanlah kewajiban seperti shalat wajib, tetapi itu adalah sunnah yang dibiasakan oleh Rasulullah ๏ทบ. (HR. At Tirmidzi No. 453, Musnad Ahmad No. 652, 786, 1220)

๐Ÿ”ธBersambung ๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Fiqih Shalat Witir (Bag. 1)"

Post a Comment

loading...
loading...