Fikih I'tikaf (Bag. 8)

๐Ÿ“† Sabtu,  13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016 M

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ *Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.*

๐Ÿ“‹ *Fikih I'tikaf  (Bag. 8)*

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“š *_Aktifitas Yang Diperbolehkan Selama I’tikaf_*

  Berikut ini aktifitas yang diperbolehkan selama I’tikaf (diringkas dari Fiqhus Sunnah):

1⃣.  Tawdi’  (melepas keluarga yang mengantar), sebagaimana yang nabi lakukan thdp Shafiyyah

 2⃣.    Menyisir dan mencukur rambut, sebagaimana yang ‘Aisyah lakukan terhadap nabi

4⃣.  Keluar untuk memenuhi hajat manusiawi, seperti buang hajat

4⃣.  Makan, minum, dan tidur ketika I’tikaf di masjid, atau mencuci pakaian, membersihkan najis, dan perbuatan lain yang tidak mungkin dilakukan di masjid.

   Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan shalat jumat bagi yang I’tikafnya di masjid ghairu jami’, antara yang membolehkan dan yang mengatakan batal I’tikafnya. Wallahu A’lam

๐Ÿ“š *_Pembatal-Pembatal I’tikaf_*

  Pembatal-pembatal tersebut antara lain:
1⃣. Secara sengaja Keluar dari masjid tanpa ada keperluan walau sebentar
 2⃣.  Murtad
 3⃣. Hilang akal
 4⃣. Gila
 5⃣. Mabuk
 6⃣. Jima’  (hubungan badan). (Lihat semua dalam Fiqhus Sunnah, 1/481-483)

๐Ÿ“š *_Aktifitas Selama I’tikaf_*

Hendaknya para mu’takifin memanfaatkan waktunya selama I’tikaf untuk aktifitas ketaatan, seperti membaca Al Quran, dzikir dengan kalimat yang ma’tsur,  muhasabah, shalat sunnah mutlak,  boleh saja diselingi dengan kajian ilmu.
Berbincang dengan tema yang membawa manfaat juga tidak mengapa, namun hal itu janganlah menjadi spirit utama. Tidak sedikit orang yang I’tikaf berjumpa kawan lama, akhirnya mereka ngobrol urusan dunianya; nanya kabar, jumlah anak, kerja di mana, dan seterusnya, atau disibukkan oleh SMS, WA, telegram, yang keluar masuk tanpa hajat yang jelas, akhirnya membuatnya lalai dari aktifitas ketaatan.

Syaikh Ibnul Utsaimin Rahimahullah mengomentari hal ini, katanya:

ูˆู‚ูˆู„ู‡: «ู„ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡» ุงู„ู„ุงู… ู‡ู†ุง ู„ู„ุชุนู„ูŠู„، ุฃูŠ: ุฃู†ู‡ ู„ุฒู…ู‡ ู„ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡، ู„ุง ู„ู„ุงู†ุนุฒุงู„ ุนู† ุงู„ู†ุงุณ، ูˆู„ุง ู…ู† ุฃุฌู„ ุฃู† ูŠุฃุชูŠู‡ ุฃุตุญุงุจู‡ ูˆุฑูู‚ุงุคู‡ ูŠุชุญุฏุซูˆู† ุนู†ุฏู‡، ุจู„ ู„ู„ุชูุฑุบ ู„ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒّ ูˆุฌู„.
ูˆุจู‡ุฐุง ู†ุนุฑู ุฃู† ุฃูˆู„ุฆูƒ ุงู„ุฐูŠู† ูŠุนุชูƒููˆู† ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ، ุซู… ูŠุฃุชูŠ ุฅู„ูŠู‡ู… ุฃุตุญุงุจู‡ู…، ูˆูŠุชุญุฏุซูˆู† ุจุฃุญุงุฏูŠุซ ู„ุง ูุงุฆุฏุฉ ู…ู†ู‡ุง، ูู‡ุคู„ุงุก ู„ู… ูŠุฃุชูˆุง ุจุฑูˆุญ ุงู„ุงุนุชูƒุงู؛ ู„ุฃู† ุฑูˆุญ ุงู„ุงุนุชูƒุงู ุฃู† ุชู…ูƒุซ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ู„ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡ ู€ ุนุฒّ ูˆุฌู„ ู€، ุตุญูŠุญ ุฃู†ู‡ ูŠุฌูˆุฒ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุฃู† ูŠุชุญุฏุซ ุนู†ุฏู‡ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ู‡ ู„ุฃุฌู„ ู„ูŠุณ ุจูƒุซูŠุฑ ูƒู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ّู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ّู… ูŠูุนู„ ุฐู„ูƒ

“Perkataannya (untuk ketaatan kepada Allah) huruf Lam di sini adalah untuk menunjukkan sebab (‘ilat- istilahnya lam ta’lil), yaitu bahwa dia menetap di masjid dalam rangka ketaatan kepada Allah, bukan untuk memisahkan diri dari manusia, bukan pula karena ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya, kerabatnya, lalu berbincang dengan mereka, tetapi untuk memfokuskan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan inilah kita tahu bahwa mereka sedang i’tikaf di masjid. Lalu, datang kepada mereka sahabat-sahabat mereka, dan ngobrol dengan tema pembicaraan yang tidak berfaidah, mereka ini datang tidak dengan ruh (spirit) untuk beri’tikaf, karena ruh yang ingin beri’tikaf, berdiamnya di masjid adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Benar, bahwa manusia boleh saja berbincang kepada sebagian anggota keluarganya  tetapi tidaklah memperbanyaknya, sebagaimana yang dilakukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Ada pun untuk menuntut ilmu di majelis I’tikaf, beliau berkata:

ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ุทู„ุจ ุงู„ุนู„ู… ู…ู† ุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡، ู„ูƒู† ุงู„ุงุนุชูƒุงู ูŠูƒูˆู† ู„ู„ุทุงุนุงุช ุงู„ุฎุงุตุฉ، ูƒุงู„ุตู„ุงุฉ، ูˆุงู„ุฐูƒุฑ، ูˆู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒ، ูˆู„ุง ุจุฃุณ ุฃู† ูŠَุญุถุฑ ุงู„ู…ุนุชูƒู ุฏุฑุณุงً ุฃูˆ ุฏุฑุณูŠู† ููŠ ูŠูˆู… ุฃูˆ ู„ูŠู„ุฉ؛ ู„ุฃู† ู‡ุฐุง ู„ุง ูŠุคุซุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุนุชูƒุงู، ู„ูƒู† ู…ุฌุงู„ุณ ุงู„ุนู„ู… ุฅู† ุฏุงู…ุช، ูˆุตุงุฑ ูŠุทุงู„ุน ุฏุฑูˆุณู‡، ูˆูŠุญุถุฑ ุงู„ุฌู„ุณุงุช ุงู„ูƒุซูŠุฑุฉ ุงู„ุชูŠ ุชุดุบู„ู‡ ุนู† ุงู„ุนุจุงุฏุฉ ุงู„ุฎุงุตุฉ، ูู‡ุฐุง ู„ุง ุดูƒ ุฃู† ููŠ ุงุนุชูƒุงูู‡ ู†ู‚ุตุงً، ูˆู„ุง ุฃู‚ูˆู„ ุฅู† ู‡ุฐุง ูŠู†ุงููŠ ุงู„ุงุนุชูƒุงู.

“Tidak ragu bahwa menuntut ilmu termasuk ketaatan kepada Allah, tetapi i’tikaf terdapat ketaatan khusus, seperti shalat, dzikir, membaca Al Quran, dan yang serupa itu. Tidak apa-apa mu’takif menghadiri satu pelajaran atau dua dalam sehari atau malam, sebab itu tidak mempengaruhi I’tikafnya, tetapi jika majelis ilmu diadakan terus menerus, akan membuatnya mengkaji materinya, menghadiri berbagai majelis yang memalingkannya dari ibadah khusus, ini tidak ragu lagi membuatMajelis Ilmu Farid Nu'man:
I’tikafnya berkurang, di sini saya tidak katakan menganulir I’tikafnya. (Lihat semua dalam Syarhul Mumti’,  6/163)

๐Ÿ”ธBersambung๐Ÿ”ธ

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Fikih I'tikaf (Bag. 8)"

Post a Comment

loading...
loading...