MENJADI RINGAN SAAT DITUNAIKAN BERSAMA

๐Ÿ“† Sabtu, 16 Rajab 1437H / 23 April 2016

๐Ÿ“š KELUARGA

๐Ÿ“ Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag

๐Ÿ“‹ MENJADI RINGAN SAAT DITUNAIKAN BERSAMA
(Kerjasama Suami Istri Memaksimalkan Tanggung Jawab Bersama)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Suami dan Istri perlu menjalin kerjasama untuk memaksimalkan tanggung jawab ;
   
1⃣ Dalam hal nafkah :
๐ŸŒทMenggunakan nafkah yang diberikan suami secara arif

Nafkah yang diberikan suami untuk keluarga adalah amanah. Amanah yang harus dikelola dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika istri memiliki kelemahan untuk mengelola nafkah yang diberikan suami, maka suami perlu membimbing istri agar cakap mengelola nafkah yang ia berikan. Keterampilan mengelola keuangan mencakup peruntukan(list kebutuhan), alokasi (berapa untuk poin apa), prioritas (mana yang harus didahulukan), dll. Sangat baik jika suami istri bermusyawarah untuk menentukan penggunaan keuangan keluarga. Kemampuan mengelola akan menentukan cukup atau tidak nafkah yang diberikan suami. Semata-mata bukan hanya terletak pada sedikit atau banyak.

๐ŸŒทBersedekah dari nafkah yang diberikan suami

Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seorang istri bersedekah dari makanan rumahnya untuk sesuatu yang tidak memunculkan kerusakan, maka baginya pahala dari apa yang ia sedekahkan dan bagi suaminya pahala dari apa yang ia nafkahkan.” (HR Muslim)
Sedekah selalu membawa berkah. Alokasikan dana untuk sedekah dari nafkah yang diberikan suami agar keberahan meliputi keluarga dan seluruh anggotanya.

๐ŸŒทMemberi hadiah dari nafkah yang diberikan suami

“Saling memberi hadiahlah kalian, agar kalian saling mencintai”. Demikin Rasulullah SAW bersabda. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa : “Rasulullah SAW menikah, lalu beliau menemui keluarganya. Ibuku (Ummu Sulaim) membuat makanan yang terbuat dari tepung, minyak samin dan gandum. Kemudian ia simpan di atas bejana kecil dan berkata kepadaku : ‘Anas, antarkan ini kepada Rasulullah dan sampaikan kepadanya bahwa aku memberikan hadiah untuknya dan menitipkan salam.”

๐ŸŒทBantulah suami yang membutuhkan

Maha Besar Allah yang telah menebar rizki demikian banyak dan luas. Tidak hanya untuk kaum laki-laki tetapi juga untuk kaum perempuan. Bersyukurlah para perempuan yang Allah taqdirkan harta berada di tangannya. Tidak selamanya kondisi nafkah suatu keluarga berada dalam kondisi ideal. Kondisi ekonomi sebagian keluarga kadang stabil kadang tidak. Kadang lebih banyak situasi sulitnya. Dalam kondisi seperti itulah para perempuan perlu berkontribusi. Membantu para suami, bukan untuk mengambil alih tanggung jawabnya.

Diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudry RA bahwa Zainab istri Ibnu Mas’ud datang kepada Rasulullah SAW dan berkata : “Ya Nabi Allah, hari ini engkau menyuruh kami untuk bersedekah. Aku memiliki perhiasan dan aku ingin bersedekh dengannya. Tapi Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ia dan anak-anaknya lebih berhak menerima sedekah itu.” Nabi SAW berkata: “Benar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud. Suamimu dan anak-anakmu lebih berhak mendapatkan sedekahmu itu.” (HR Bukhri)
Terpujilah para istri dermawan yang ikhlas bersedekah untuk suami, anak-anak dan keluarganya berdasar kesadaran melaksanakan perintah Rasulullah SAW.

2⃣ Dalam Hal Mengatur Urusan Rumah Tangga

Diriwayatkan dari Al-Aswad : “Aku bertanya kepada Aisyah RA apa saja yang dilakukan Rasulullah SAW dirumahnya?” Aisyah menjawab :”Beliau memberikan pelayanan kepada keluarganya. Apabila tiba waktu shalat, beliau pergi menunaikan shalat.” (HR Bukhari)

Disebutkan dalam kitab Fathul Baari juz 11:366, suatu hari Ali berkata kepada Fathimah :”Demi Allah, aku telah mengambil air dari dalam sumur hingga dadaku sakit” . Dan Fathimah berkata : “Dan aku menggiling gandum hingga kedua tanganku lecet.” (HR Ahmad)
Saat urusan rumah tangga menjadi tanggung jawab istri, bukan berarti dia yang harus melakukan semuanya. Istri berperan sebagai manajer yang mengatur pekerjaan apa dilakukan oleh siapa. Jika pekerjaan sudah terbagi kepada anggota keluarga dan masih tersisa pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan anggota keluarga, diperbolehkan untuk meminta tolong orang lain. Misalnya dengan menghadirkan khadimat. Khadimat berfungsi membantu menunaikan pekerjaan yang tidak tertangani bukan menggantikan peran istri atau ibu.

3⃣ Bermusyawarah dalam permasalahan keluarga

Musyawarah adalah akhlak yang harus dibawa seorng muslim dalam semua lini kehidupannya. “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS As-Syuura : 38)
Suami dan istri seyogyanya saling memahami dan bermusyawarah dalam urusan keluarga. Tidak meremehkan juga tidak bergantung pada pendapat pasangannya.

Simaklah bagaimana Rasulullah SAW membiasakan musyawarah dengan istrinya dan sangat menghargai pendapatnya. Peristiwa di hari Hudaibiyah dimana Ummu Salamah sangat berperan dengan ide cemerlangnya mendorong Rasulullah SAW melakukan hadyu dan tahallul saat para sahabat menolak mengikuti perintah yang diucapkan Rasulullah SAW.
Atau seperti yang diceritakan Umar RA : “Ketika aku berada dalam suatu urusan yang membuatku sibuk memikirkannya, tiba-tiba istriku menegurku :’Coba engkau lakukan ini dan itu.’ Aku menyergahnya : ‘Kenapa engkau ini. Kenapa engkau ada didekatku. Apa yang membuatmu ikut campur dalam masalahku?’. Istrinya menjawab :’Engkau aneh wahai putra Al-Khottob. Tidakkah engkau mengevaluasi dirimu sendiri? Lihatlah bagaimana putrimu (Hafsah) mengevaluasi Rasulullah SAW sampai-sampai beliau marah sepanjang hari.” (HR Bukhari Muslim).

Demikianlah beberapa hal yang perlu dilakukan oleh suami dan istri agar tanggung jawab menjadi lebih ringan, dan menjadi ringan saat semua hal tsb ditunaikan bersama.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "MENJADI RINGAN SAAT DITUNAIKAN BERSAMA"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI