Mendidikkan Sikap Adil

๐Ÿ“† Rabu,  14 Jumadil Akhir 1437H / 23 Maret 2016

๐Ÿ“š Tarbiyatul Awlad

๐Ÿ“ Ustadz Solikhin

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ’ฆAyah, sering kali kedekatan dengan sanak kerabat, menjadikan kita berlaku tidak adil.
Dari situlah muncul kekacauan dalam keluarga dan akhirnya merambah ke ranah yang lebih luas. Kita mesti berhati-hati.
Sekali salah kemudian terulang akan menjadi rekam jejak yang sulit dihapuskan.

๐Ÿ’ฆNabi Saw mengajari kita berlaku adil meski kepada seorang anak kecil.

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., Rasulullah Saw pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang bocah dan di sebelah kiri beliau duduk orang tua.

Beliau bertanya kepada si bocah, “Apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka?”

Si Bocah menjawab, “Aku tidak rela, ya Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku dari Tuan.”

Rasulullah Saw meletakkan minuman tersebut ke tangan bocah kecil itu. (H.r. Bukhari Muslim)

๐Ÿ’ฆAyah, sebagai pemimpin besar Rasulullah Saw mendidikkan nilai-nilai luhur dengan rela berkumpul dengan anak-anak kecil dan orantua dalam suatu tempat.

Inilah nilai ketawadhuan sekaligus keadilan yang menjadi jembatan menuju kecintaan.

Tanpa jarak, rasa cinta itu tumbuh sekaligus merekahkan berkah berjamaah.

Bahkan hak seorang bocah kecil terlindungi dalam naungan cinta. Nabi memberi ruang dengan bertanya kepadanya.

Prolog Nabi ini membangun rasa aman, menumbuhkan rasa hormat, menambahkan rasa cinta dan menghadirkan moralitas yang luhur akan pentingnya menanamkan nilai keadilan di tengah umat, terhadap siapa pun.

Namun bagaimana bila Ayah dihadapkan pada orang-orang yang begitu dekat dan begitu cinta yang hendak melakukan upaya mencederai keadilan seperti yang dilakukan Usamah, orang yang dicintai Nabi.

Usamah diutus menjadi perantara bagi keluarga Bani Makhzum yang kedapatan melakukan tindak kriminal untuk meminta keringanan hukuman.

๐Ÿ’งNamun, sikap tegas Nabi menjadi sebuah monumen bersejarah, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya.”

Itulah keadilan Nabi.

Akhirnya Siapa pun tak bermain-main untuk mempermainkan hukum.

๐Ÿ’ฆAyah, ujian terbesar bagi seorang ayah adalah ketika yang terlibat kasus hukum adalah anaknya sendiri sedangkan ayah dituntut menegakkan keadilan itu. Inilah saat-saat integritas harus benar-benar ditegakkan.

Bagaimana mampu berlaku adil terhadap darah dagingnya sendiri, orang-orang yang dicintai. Lebih-lebih bila hal itu akan berimplikasi kepada harta, jabatan, kehormatan. Bagaimana seorang Ayah harus bersikap?

๐ŸŒทSyuraih dikenal sebagai hakim yang adil dan piawai dalam menyelesaikan masalah-masalah pelik. Kini beliau harus memutuskan kasus hukum yang menimpa anaknya.

Syuraih yang terkenal keadilannya didatangi oleh putranya.

Dia berkata, “Ayah, saya punya masalah dengan seseorang. Tolong Ayah dengar dulu permasalahannya. Jika menurut Ayah saya yang benar, maka saya bermaksud membawanya ke pengadilan. Namun jika sebaliknya, saya akan menyelesaikannya secara damai.”

Setelah mendengar pemaparan permasalahannya, hakim Syuraih tahu bahwa putranya berada di pihak yang salah. Namun dia tidak memberitahukannya secara terus terang.

Bahkan sebaliknya dia mendorong putranya untuk maju ke pengadilan. “Perkarakan saja ke pengadilan,” begitu kata Qadhi Syuraih kepada putranya.

Ketika sidang digelar, putranya tidak menyangka ternyata ayahnya, Qadhi Syuraih sebagai hakim menyatakan putranya kalah dalam perkara tersebut.

Anak itu marah dan kecewa. Dia merasa ditipu oleh ayahnya sendiri. Setelah keduanya sama-sama di rumah, sang anak melampiaskan kekecewaan kepada ayahnya.

Syuraih pun menjelaskan, “Dengarlah, wahai anakku. Di dunia ini kamu adalah orang yang paling aku cintai. Namun, Allah jauh lebih aku cintai.

Seandainya aku berterus terang bahwa kamu berada di pihak yang salah sebelum kamu maju ke pengadilan, aku khawatir kamu akan berdamai dengan cara menyuap orang yang punya masalah denganmu. Bila itu kamu lakukan, itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, wahai anakku.”

Sikap adil Qadhi Syuraih telah melahirkan rasa aman bagi lawan hukum anaknya. Pada saat yang sama sikap ini mengajarkan kepada anaknya rasa aman bagi yang lain. Rasa aman karena tidak melanggar hukum apalagi menyuap orang lain. Inilah pendidikan tentang keluhuran jiwa agar anak-anak berani bertanggung jawab.

๐Ÿ’ฆAyah, memang anak-anak kita tidak harus selalu berhasil dalam semua hal, namun pastikan bahwa mereka harus bertanggung jawab menjadi dirinya sendiri.

Sehingga, setiap anak akan belajar untuk menghormati hukum, peraturan, dan menjunjung nilai-nilai keadilan. Ini adalah kerja iman yang tertanam dalam jiwa dan hati anak-anak kita. Iman yang menghidupkan. Iman yang melahirkan keluhuran jiwa.

Bagaimana memulainya?
Keteladanan ayah dalam menegakkan keadilan pada setiap permasalahan keluarga akan menjadi bekal yang mahal bagi ananda tercinta.

Mereka yang akan merekam sikap ayah dalam file fitrah yang akan diputar saat mereka menghadapi masalah.

Keadilan sikap ini perlu dikomunikasikan agar tidak disalahtafsirkan oleh anak-anak kita. Sebab, jika tidak dikomunikasikan akan bisa menimbulkan permasalahan yang lebih besar.

Qadhi Syuraih telah mengajarkan komunikasi itu dengan indah sehingga putranya bisa menerimanya dan masyarakat merasa aman karenanya.

๐Ÿ’ฆSemoga kita bisa meneladani kisah ini dan menerapkannya dalam membersamai anak-anak kita agar berintegritas, berkeadilan, tidak mendompleng kepada kebesaran ayahnya dalam soal hukum dan keadilan.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Mendidikkan Sikap Adil"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI