Kitab Ath Thaharah (bersuci) (8) - Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ 

๐Ÿ“šHadits 8

                Al Hafizh Ibnu Hajar juga menambahkan:

ูˆَู„ِุฃَุจِูŠ ุฏَุงูˆُุฏَ: - ูˆَู„َุง ูŠَุบْุชَุณِู„ُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุงَู„ْุฌَู†َุงุจَุฉِ

๐Ÿ“Œ                Dan pada riwayat Abu Daud: “Janganlah mandi janabah padanya (fiihi).”

                Lengkapnya adalah:

ู„َุง ูŠَุจُูˆู„َู†َّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ูِูŠ ุงู„ْู…َุงุกِ ุงู„ุฏَّุงุฆِู…ِ ูˆَู„َุง ูŠَุบْุชَุณِู„ُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฌَู†َุงุจَุฉِ

๐Ÿ“Œ                Janganlah salah seorang kalian kencing pada air tergenang dan janganlah  mandi janabah padanya.


๐Ÿ“šTakhrij Hadits:

๐Ÿ”น          Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 70
๐Ÿ”น          Imam An Nasa’i dalam Sunannya No. 398
๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 9596
๐Ÿ”น          Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 285
๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 1064
๐Ÿ”น          Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No.  1257
๐Ÿ”น          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalamKanzul ‘Ummal No. 26422

๐Ÿ“šStatus Hadits:

๐Ÿ”น          Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, dengan dimasukkannya hadits ini dalam kitab Shahihnya.

๐Ÿ”น          Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menceritakan bahwa semua perawi hadits ini, adalah jujur dan terpercaya. (Lihat rinciannya dalam Syarh Sunan Abi Daud,  1/286)

๐Ÿ”น          Syaikh Al Albani menilai: hasan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 70)

๐Ÿ“šKandungan hadits:


๐Ÿ“‹1⃣ .       Hadits ini sama dengan sebelumnya, yakni larangan kencing di air diam, dan larangan mandi dalam keadaan junub di air diam, atau larangan mandi janabah di air yang telah dikencingi.

๐Ÿ“‹2⃣ .       Hikmah dilarangnya mandi di air tergenang adalah karena air tersebut memiliki potensi besar tidak aman dari najis dan kotoran yang berasal dari manusia dan hewan. Biasanya ini terjadi pada air tergenang yang berada di alam terbuka seperti kubangan, empang, kolam ikan, bahkan kolam renang, yang semuanya tidak dialirkan sehingga tidak terganti dengan air yang baru. Maka, maka itulah sebabnya  menjadi terlarang.

⚠Namun, sebagaian fuqaha berpandangan lain, bahwa larangan orang junub untuk mandi di air tergenang, disebabkan karena keadaan junub mereka membuat air tersebut menjadi rusak, dan tidak layak dijadikan air untuk mandi dan bersuci; seakan air itu juga menjadi junub karenanya

Al ‘Allamah Ibnu At Turkumani Rahimahullah menjelaskan hal tersebut berserta alasannya:


ูุงุณุชุฏู„ ุจู‡ ุจุนุถ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ุนู„ู‰ ุงู† ุงุบุชุณุงู„ ุงู„ุฌู†ุจ ููŠ ุงู„ู…ุงุก ูŠูุณุฏู‡ ู„ูƒูˆู†ู‡ ู…ู‚ุฑูˆู†ุง ุจุงู„ู†ู‡ูŠ ุนู† ุงู„ุจูˆู„ ููŠู‡

๐Ÿ“ŒSebagian ahli fiqih berdalil dengan hadits ini, bahwa mandinya orang junub pada air maka itu bisa merusakkannya, alasannya adalah karena hal ini dibarengi dengan pernyataan larangan kencing di dalamnya. (Al Jauhar An Naqiy, 8/323)

๐Ÿ”‘Jadi, sebagaimana kencing di air yang tergenang bisa merusak air tersebut, maka orang junub yang  nyebur di dalamnya juga bisa merusakannya, oleh karenanya keduanya dilarang dalam hadits ini.

Tetapi, pemahaman ini dipandang lemah dan bertentangan dengan riwayat berikut:


ุนَู†ْ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ู‚َุงู„َ ุงุบْุชَุณَู„َ ุจَุนْุถُ ุฃَุฒْูˆَุงุฌِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูِูŠ ุฌَูْู†َุฉٍ ูَุฌَุงุกَ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„ِูŠَุชَูˆَุถَّุฃَ ู…ِู†ْู‡َุง ุฃَูˆْ ูŠَุบْุชَุณِู„َ ูَู‚َุงู„َุชْ ู„َู‡ُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†ِّูŠ ูƒُู†ْุชُ ุฌُู†ُุจًุง ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِู†َّ ุงู„ْู…َุงุกَ ู„َุง ูŠُุฌْู†ِุจُ


๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas, katanya: “Sebagian istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi dijafnah (bak besar), lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang untuk berwudhu dari air tersebut atau dia mandi. Berkatalah isterinya kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, saya sedang keadaan junub.’ Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab; “Sesungguhnya air tidaklah junub.” (HR. Abu Daud No. 68, At Tirmidzi No. 65, katanya: hasan shahih. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 859, Ibnu Hibban No. 1248, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 355)


๐Ÿ“‹3⃣ .       Adapun air tergenang yang memang berasal dari air tanah yang suci dan bersih, telaga, mata air, sungai,  atau air tadah hujan, lalu semuanya ditampung di bak mandi, tempayan, tangki air, atau ember, yang semuanya pada asalnya adalah suci dan bersih secara meyakinkan. Maka, semua ini –walau termasuk air diam karena memang diwadahkan- adalah boleh dimanfaatkan karena bersih dan sucinya, baik keperluan makan minum, atau bersuci dan mandi. Ini dibenarkan oleh syara’ selama air tersebut tidak terkena najis yang membuatnya berubah warna, bau, dan rasa (sebagaimana pembahasan pada hadits 1-4), dibenarkan pula oleh ‘urf (kebiasaan) yang berlaku pada masyarakat kaum muslimin dari zaman ke zaman tanpa ada yang mengingkarinya. Sebab, air pada wadah-wadah ini jauh dari kemungkinan terkena najis dan kotoran, kecuali memang sengaja dibuat demikian.

Wallahu A’lam


๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Kitab Ath Thaharah (bersuci) (8) - Bab Al Miyah (Tentang Air)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI