Kitab Ath Thaharah (bersuci) (10) - Bab Al Miyah (Tentang Air)

๐Ÿ“† Selasa,  13 Jumadil Akhir 1437H / 22 Maret 2016

๐Ÿ“š Fiqih dan Hadits

๐Ÿ“ Ustadz Farid Nu'man Hasan, SS.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

๐Ÿ“šHadits ke 10:

ูˆَุนَู†ْ ุงِุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ุฑَุถِูŠَ ุงَู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง; - ุฃَู†َّ ุงَู„ู†َّุจِูŠَّ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ูƒَุงู†َ ูŠَุบْุชَุณِู„ُ ุจِูَุถْู„ِ ู…َูŠْู…ُูˆู†َุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงَู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡َุง - ุฃَุฎْุฑَุฌَู‡ُ ู…ُุณْู„ِู…ٌ

๐Ÿ“ŒDari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma; bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi dengan memakai air sisa Maimunah Radhiallahu ‘Anha. Dikeluarkan oleh Muslim


๐Ÿ“šTakhrij Hadits:


-๐Ÿ”น          Imam Muslim dalam Shahihnya No.  323

-๐Ÿ”น          Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 3465

-๐Ÿ”น          Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Ash Shaghir No.  141,  juga As Sunan Ash Shughra No. 191, juga As Sunan Al Kubra No. 857

-๐Ÿ”น         Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 1033

-๐Ÿ”น         Imam Ad Daruquthni dalam Sunannya, 1/53

-๐Ÿ”น         Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 108

-๐Ÿ”น          Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 808

-๐Ÿ”น          Imam Al Bazzar dalam Musnadnya No. 5261

-๐Ÿ”น          Imam Abdurrazzaq dalam Al MushannafNo. 1037


๐Ÿ“šStatus Hadits:


                Hadits ini shahih, dimasukkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dan lain-lain. Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Shahih Bukhari.


                Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:


ุฃูˆู„ ู…ุตู†ู ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญ ุงู„ู…ุฌุฑุฏ، ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ، ุซู… ู…ุณู„ู…، ูˆู‡ู…ุง ุฃุตุญ ุงู„ูƒุชุจ ุจุนุฏ ุงู„ู‚ุฑุขู†، ูˆุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุฃุตุญู‡ู…ุง ูˆุฃูƒุซุฑู‡ู…ุง ููˆุงุฆุฏ، ูˆู‚ูŠู„ ู…ุณู„ู… ุฃุตุญ، ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ุงู„ุฃูˆู„

       ๐Ÿ“Œ     "Kitab pertama yang paling shahih adalah Shahih Al Bukhari, kemudian Shahih Muslim. Keduanya adalah kitab paling shahih setelah Al Quran. Dan Shahih Al Bukhari paling shahih di antara keduanya dan paling banyak manfaatnya. Ada yang mengatakan Shahih Muslim paling shahih, tapi yang benar adalah yang pertama." (Imam An Nawawi, At Taqrib wat Taisir, Hal. 1. Mawqi' Ruh Al Islam)



๐Ÿ“šKandungan Hadits:

                Ada beberapa hal yang bisa diambil maknanya dari hadits ini:

๐Ÿ“‹1⃣ .       Hadits ini dari Ibnu Abbas, yakni Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, siapakah dia?

Abdullah bin Abbas memiliki kun-yah (gelar) Abu ‘Abbas (bapaknya Abbas). Namanya adalah  Abdullah, putera Abbas bin Abdul Muthalib.   Beliau dan ayahnya adalah sahabat sekaligus famili  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Abbas bin Abdul Muthalib adalah adik dari ayah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abdullah. Maka, ‘Abbas bin Abdul Muthalib adalah paman nabi, sedangkan Abdullah bin ‘Abbas adalah sepupu nabi. Jadi, ayah beliau bernama ‘Abbas, anaknya juga bernama ‘Abbas.

                Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:
                “Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf, Abul Abbas Al Qursyi Al Hasyimi. Dia adalah anak dari paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diberikan kun-yah (gelar panggilan) dengan nama anaknya Al ‘Abbas,   sebagai anaknya yang paling besar, dan ibunya bernama Lubabah Al Kubra binti Al Harits bin Khuznul Al Hilaliyah.

                Abdullah bin Abbas juga dinamakan Al Bahr (samudera) karena ilmunya yang luas, dia juga dinamakan Hibrul Ummah (tintanya umat). Dia dilahirkan di celah bukit di Mekkah tiga tahun sebelum hijrah, Beliau di-tahnik[1]oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Usadul Ghabah, Hal. 630)

                Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menyebutnya dengan istilah Al Bahr(Samudera), Hibrul Ummah (tintanya umat),Faqihul ‘Ashr (ahli fiqih zamannya), dan  Imamut Tafsir (imam ahli tafsir).

                Beliau mengambalih hadits secara baik dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga meriwayatkan dari Umar, Ali, Muadz, ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan Sakhr bin Harb, Abu Dzar, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Beliau membacakan Al Quran di hadapan Ubay dan Zaid (karena Ubay dan Zaid di antara sahabat nabi yang menulis wahyu Allah Ta’ala, pen).

                Sederetan nama beken dari kalangan tabi’in senior telah menjadi muridnya, seperti Urwah bin Zubeir, Said bin Jubeir, Ikrimah, Abu Asy Sya’tsa Jabir, Mujahid bin Jabr, Al Qasim bin Muhammad, Abu Raja’ Al ‘Atharidi, Abul ‘Aliyah, ‘Atha bin Yasar, ‘Atha bin Abi Rabah, Asy Sya’bi, Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin,  Muhammad bin Ka’ab Al Qurzhi, Syahr bin Hausyab, Ibnu Abi Malikah, Amru bin Dinar, Dhahak bin Muzahim, Ismail As Suddi, dan lainnya.

                Beliau memiliki beberapa anak, paling tua adalah Al Abbas, paling kecil Ali Abu Al Khulafa’. D antara mereka ada Al Fadhl, Muhammad, Ubaidullah, Lubabah, dan Asma’.

                Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, usia beliau adalah  10 tahun, ada juga riwayat yang menyebut 13 tahun, ada juga yang menyebut 15 tahun. (Siyar A’lam An Nubala, 3/331-335)

                Menurut Ali bin Al Madini,  Ibnu Abbas wafat pada tahu 68 atau 67 Hijriyah. Sementara Al Waqidi, Al Haitsam, dan Abu Nu’aim mengatakan: tahun 68. Disebutkan bahwa Beliau hidup selama 71 tahun.  (Ibid, 3/359)

                 Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma memiliki banyak keutamaan dan pujian untuknya. Diantaranya sebagai berikut:

                 Beliau mengatakan:

ุฏَุนَุง ู„ِูŠ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู†ْ ูŠُุคْุชِูŠَู†ِูŠ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ْุญِูƒْู…َุฉَ ู…َุฑَّุชَูŠْู†ِ

๐Ÿ“Œ                Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan untukku sebanyak dua kali, agar Allah memberikanku hikmah (ilmu). (HR. At Tirmidzi No. 3823, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani menshahihkannya. LihatRaudh An Nadhir No. 395, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3823)

                Ibnu ‘Abbas mengatakan, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di rumah Maimunah, dia membawa air wudhu buat nabi, lalu berkata kepada nabi: “Abdullah bin Abbas telah menyediakan air wudhu untukmu.” Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ู„ู‡ู… ูู‚ู‡ู‡ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ูˆ ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุชุฃูˆูŠู„

             

๐Ÿ“ŒYa Allah, fahamkanlah agama baginya, dan ajarkanlah ia ta’wil. (HR. Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6280, katanya: shahih, dan Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Imam Adz Dzahabi menyepakati keshahihannya. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 10587, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 2159)

                Sementara dalam riwayat Imam At Tirmidzi yang lain berbunyi: ‘Allimhu Al Hikmah - Ajarkanlah dia Al Hikmah. (No. 3824, katanya:hasan shahih)

                Ada pun dalam riwayat Imam Al Bukhari, hanya: “Allahumma faqqihhu fiddin – Ya Allah, fahamkanlah agama baginya. (HR. Bukhari No. 143), juga dalam Kitab Al Fadhail,berbunyi: Allahumma ‘allimhu Al kitab – Ya Allah ajarkanlah dia Al Kitab (Al Quran).


๐Ÿ“‹2⃣ .       Hadits ini menunjukkan kebalikan dari hadits sebelumnya, yakni bolehnya suami menggunakan air bekas mandi istrinya, atau sebaliknya.  Sebab, dengan jelas bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri   memakai air   sisa yang dipakai istrinya. Kenyataan ini menguatkan apa yang dikatakan oleh para ulama, bahwa larangan yang ada pada hadits sebelumnya bukanlah larangan yang menunjukkan haram atau makruh, tetapi larangan untuk mendidik dan membimbing suami istri.

Inilah pandangan mayoritas ulama, bolehnya seorang suami bersuci memakai air bekas istrinya atau sebaliknya, secara bergantian.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

ูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ู† ุฅู†ุงุก ูˆุงุญุฏ ูู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ุจุฅุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุชูŠ ููŠ ุงู„ุจุงุจ ูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุจูุถู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูุฌุงุฆุฒ ุจุงู„ุงุฌู…ุงุน ุฃูŠุถุงูˆุฃู…ุง ุชุทู‡ูŠุฑ ุงู„ุฑุฌู„ ุจูุถู„ู‡ุง ูู‡ูˆ ุฌุงุฆุฒ ุนู†ุฏู†ุง ูˆุนู†ุฏ ู…ุงู„ูƒ ูˆุฃุจูŠ ุญู†ูŠูุฉ ูˆุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก


๐Ÿ“ŒAda pun seorang laki-laki (suami) dan wanita (istri) bersuci dari bejana yang sama, maka itu boleh berdasarkan ijma’ kaum muslimin karena adanya hadits-hadits dalam bab ini. Ada pun bersucinya wanita dengan menggunakan sisa air laki-laki adalah boleh berdasarkan ijma’ juga. Ada pun bersucinya laki-laki dengan air sisa wanita, maka itu boleh menurut kami (Syafi’iyah), Malik, Abu Hanifah, dan mayoritas ulama. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/2)


Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal, Imam Daud Azh Zhahiri, mengatakan hal itu terlarang, begitu juga menurut sebagian tabi’in seperti Abdullah bin Sarjis dan Al Hasan Al Bashri.  Sedangkan Imam Sa’d bin Al Musayyib memakruhkannya. (Ibid)


Lalu, Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:


ูˆุงู„ู…ุฎุชุงุฑ ู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ุงู„ุฌู…ุงู‡ูŠุฑ ู„ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุตุญูŠุญู‡ ููŠ ุชุทู‡ูŠุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ ุณู„ู… ู…ุน ุฃุฒูˆุงุฌู‡ ูˆูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู…ุง ูŠุณุชุนู…ู„ ูุถู„ ุตุงุญุจู‡

๐Ÿ“ŒPendapat yang dipilih adalah apa yang dikatakan oleh mayoritas ulama, karena hadits-haditsnya yang shahih menunjukkan bersucinya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama istri-istrinya, keduanya masing-masing menggunakan sisa yang lainnya. (Ibid, 4/3)


Pernyataan Imam An Nawawi bahwa telah terjadi ijma’ kebolehan wanita bersuci dengan air bekas suaminya telah dikritik ulama lain. Sebab, pada kenyataannya telah terjadi pendapat juga sebagaimana perbedaan pendapat tentang laki-laki yang bersuci dengan air bekas istrinya.


Berikut ini penjelasan Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri Rahimahullah:


 ู‚ُู„ْุช ู‡َุฐَุง ุงู„ِุงุฎْุชِู„َุงูُ ูِูŠ ุชَุทْู‡ِูŠุฑِ ุงู„ุฑَّุฌُู„ِ ุจِูَุถْู„ِ ุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉِ ูˆَุฃَู…َّุง ุชَุทْู‡ِูŠุฑُ ุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉِ ุจِูَุถْู„ِ ุงู„ุฑَّุฌُู„ِ ูَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّูˆَูˆِูŠُّ ุฌَุงุฆِุฒٌ ุจِุงู„ْุฅِุฌْู…َุงุนِ ، ูˆَุชَุนَู‚َّุจَู‡ُ ุงู„ْุญَุงูِุธُ ุจِุฃَู†َّ ุงู„ุทَّุญَุงูˆِูŠَّ ู‚َุฏْ ุฃَุซْุจَุชَ ูِูŠู‡ِ ุงู„ْุฎِู„َุงูَ

๐Ÿ“ŒAku berkata: inilah perbedaan pendapat tentang bersucinya laki-laki dengan air bekas wanita. Ada pun bersucinya wanita dengan air bekas laki-laki Imam An Nawawi mengatakan boleh menurut ijma’. Hal ini telah dikomentari oleh Al Hafizh (Ibnu Hajar) dengan pernyataan Ath Thahawi bahwa telah pasti adanya perbedaan pendapat di dalamnya. (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/168)

Namun demikian umumnya para ulama memang memberikan keringanan atas kebolehan kaum laki-laki bersuci dengan air bekas istrinya, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berikut ini keterangannya:


ู‚َุงู„َ ุงِุจْู†ُ ุชَูŠْู…ِูŠَّุฉَ ูِูŠ ุงู„ْู…ُู†ْุชَู‚َู‰ ุฃَูƒْุซَุฑُ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ุนَู„َู‰ ุงู„ุฑُّุฎْุตَุฉِ ู„ِู„ุฑَّุฌُู„ِ ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِ ุทَู‡ُูˆุฑِ ุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉِ


๐Ÿ“ŒBerkata Ibnu Taimiyah dalam Al Muntaqa, bahwa mayoritas ulama memberikan keringanan bolehnya bagi laki-laki menggunakan air bekas bersucinya wanita.(Ibid)

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Kitab Ath Thaharah (bersuci) (10) - Bab Al Miyah (Tentang Air)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI