Keteguhan Para Prajurit, Keteladan Para Perwira Menjelang Masa Akhir Kekhalifahan Turki Utsmani

๐Ÿ“† Kamis, 15 Jumadil Akhir 1437H / 24 Maret 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Pertempuran Bukit Scimitar - 21 Agustus 1915

Pertempuran di "Bukit Pedang Bengkok" ini dikenal di Turki sebagai Yusufรงuk Tepe atau Bukit Capung (Dragonfly Hill) adalah serangan terakhir yang dilancarkan oleh Inggris di Suvla menghadapi Khilafah Turki Utsmani pada perang di Gallipoli, Perang Dunia Pertama.

Serangan ini adalah yang terbesar dalam satu hari yang pernah digelar oleh Sekutu di Gallipoli dengan mengerahkan 3 divisi. Tujuan dari serangan ini adalah untuk menghilangkan potensi ancaman Turki Utsmani atas pantai pendaratan Suvla serta mencoba menghubungkannya dengan sektor pendaratan ANZAC di selatan.

Serangan ini dilancarkan pada hari Ahad 4 Syawal 1333 Hijriah (21 Agustus 1915) yang diserentakkan dengan penyerangan terhadap Bukit-60. Serangan ini membuahkan kegagalan yang meminta korban dalam jumlah yang banyak bukan hanya pihak sekutu namun juga dari pihak Turki Utsmani. Pertempuran ini berlangsung hingga masuk waktu malam dimana parit pertahanan sempat berganti tangan beberapa kali.

๐Ÿ“ŒPermulaan

Kemandegan menghampiri Sekutu pada kampanye militer di front Gallipoli ini sejak sulitnya mereka merebut Helles di ujung semenanjung sejak pendaratan gelombang pertama pada tanggal 25 April. Bukit Scimitar mendapatkan nama julukannya karena puncaknya yang berbentuk cembung. Bukit ini pada mulanya menjadi sasaran hari-pertama (7 Agustus) namun Jend. Stopford sangat ragu-ragu untuk maju tanpa kepastian dukungan artileri.

Pada pagi hari tanggal 9 Agustus, pasukan Inggris baru memulai upaya serius untuk menguasai tebing Tekke Tepe. Dalam konteks manuver di atas, Bukit Scimitar yang menghalangi arah serangan ke Tekke Tepe dari arah barat-daya sebenarnya sudah dikuasai lebih dahulu tanpa perlawanan oleh Batalion ke-6 dari Resimen East-Yorkshire sehari sebelumnya.

Hanya saja, Bukit Scimitar kemudian ditinggalkan oleh kesatuan tersebut tanpa sebab yang jelas sehingga diduduki kembali oleh pasukan Turki Utsmani. Inggris berusaha merebutnya kembali dan sempat terjadi perpindahan kekuasaan beberapa kali sebelum akhirnya Turki Utsmani berjaya sekitar tengah hari. Keesokan harinya, Divisi Infanteri Ke-53 kembali menyerbu Bukit Scimitar namun tetap menemui kegagalan; bahkan menyebabkan daya tempur divisi tersebut berkurang drastis.

๐Ÿ“ŒPertempuran

Pada 15 Agustus, Jend. Stopford dibebas-tugaskan serta digantikan olrh Mayor Jend. Beauvoir De Lisle sebagai komandan sementara Korps IX sampai datangnya Jend. Julian Byng. De Lisle menghentikan semua penyerangan karena banyaknya korban yanb berjatuhan dari aksi sebelumnya. De Lisle hanya memusatkan perhatiannya pada penguatan atas area yang telah dikuasainya.

Rencana pada tanggal 21 Agustus adalah untuk menyerang Bukit Scimitar dengan Divisi Ke-29 dan Bukit-W diserang oleh Divisi Ke-11 dengan Yeomanry sebagai cadangan. Sebagaimana biasa pada pendahuluan serangan, tembakan artileri Inggris begitu sengit menembak namun kebanyakan tidak tepat sasaran karena faktor alam serta minimnya pantauan udara. Di lain pihak, posisi Turki Utsmani yang berada di atas dataran yang lebih tinggi memudahkan mereka untuk membaca gerakan lawannya serta lebih akurat mengarahkan tembakannya.

Serbuan Divisi Ke-11 menjadi berantakan karena menghadapi banyaknya titik-kuat pasukan Turki Utsmani yang tidak terlihat sebelumnya; disamping tembakan artileri lawan dari balik bukit yang akurasinya mematikan. Oleh karena itu, ketika Batalion Ke-1 dari Royal Inniskilling Fusiliers berhasil mencapai Bukit Scimitar mereka dihujani tembakan dari berbagai arah termasuk dari Bukit-W yang belum berhasil dikuasai. Kesatuan Irlandia ini terpaksa mundur dari Bukit Scimitar sambil menerobos rerumputan kering yang terbakar akibat bertubinya tembakan artileri Turki Utsmani. Sebuah neraka kecil bagi prajurit yang tidak sempat meloloskan dirinya.

Sekitar pukul 17.00 sore, Inggris mengerahkan kesatuan baru yaitu Divisi Kavaleri Ke-2 dari pantai Lala Baba untuk merebut kembali Bukit Scimitar melintasi dasar danau kering. Mereka maju berbaris rapi seperti perang zaman baheula. Mereka maju menerobos medan yang berkabut dan asap yang menutupi pandangan. Ke-5.000 pasukan dalam 5 brigade itu maju dengan gagah di lapangan terbuka sehingga menjadi sasaran empuk para penembak jitu Turki Utsmani di bukit yang lebih tinggi. Banyaknya korban yang gugur memaksa mereka untuk menghentikan langkah di dekat Bukit Green untuk berlindungan dari kematian sia-sia. Namun, Brig. Jend. Lord Longford tetap memaksa Brigade Kavaleri Ke-2 South Midland untuk terus maju, mereka semua disapu bersih oleh tembakan yang sangat akurat.

Serangan ini merupakan yang terakhir dilakukan Inggris di area operasi Suvla. Tapal batas kedua pihak antara Bukit Scimitar dan Bukit Green menjadi perbatasan statik hingga ke akhir kampanye Gallipoli pada tanggal 20 Desember.

๐Ÿ“ŒCatatan Tambahan

Dalam satu hari pertempuran ini telah menelan korban pada pihak Inggris sebanyak 5.300 personil dari 14.300 yang dikerahkan. Hanya dua penganugerahan bintang Victoria Cross di front Suvla diberikan pada 9 Agustus kepada Kapten Percy Hansen yang menolong prajuritnya yg terluka turun dari Bukit Scimitar dan satu lagi kepada Prajurit Frederick Potts pada pertempuran di Bukit Scimitar pada tanggal 21 Agustus.

Agung Waspodo, merasakan bahwa setiap jengkal pantai dan setiap tapakan bukit di Gallipoli adalah bukti atas keteguhan para prajurit serta keteladanan para perwira di penghujung akhir kekhilafahan, 100 tahun berlalu lebih 2 hari..

Depok, 23 Agustus 2015, subuh lewat sedikit..

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Keteguhan Para Prajurit, Keteladan Para Perwira Menjelang Masa Akhir Kekhalifahan Turki Utsmani"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI