KEKUATAN MLM (serial tulisan AYAH PENGEMBARA bag. 2)

πŸ“ Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ 🌿

Jangan antipati dulu kalau kali ini saya memuat tulisan bertemakan MLM. Terlebih curiga kepada saya kalau ujung dari tulisan ini adalah mengajak pembaca untuk jadi downline saya. Sama sekali tidak. Tapi kalau ada yang mau, gakpapa juga sih hehe...teuteup. Maksud MLM disini bukan Multi  Level Marketing yang lazim kita kenal, melainkan Mulut Lewat Mulut. Istilah yang sudah sering kita dengar untuk menggambarkan daya viral atau multiplier effect dari sebuah informasi hingga menjadi buah bibir dari mulut ke mulut. Baik sesuatu yang sifatnya baik atau buruk. Jika keburukan yang disebar dan diceritakan, pihak yang mendengarnya makin jijik dan benci. Ujung-ujungnya jadi hater. Walaupun hater itu hakikatnya adalah fans yang tertunda #tsaaah.

Namun jika kebaikan yang tersebar dan diceritakan dari mulut ke mulut, makin banyaklah pihak yang jatuh cinta. Hal ini menaikkan pencitraan. Tinggal tunggu kapan Pemilu, siapa tau beruntung terpilih jadi Presiden. Yah namanya juga Indonesia.

Nah, dalam urusan pengasuhan, ayah pengembara harus cerdas memanfaatkan kekuatan MLM ini sebagai upaya membentuk persepsi di kepala anak bahwa ayahnya yang super duper sibuk tersebut adalah lelaki yang baik, hebat dan layak dijadikan teladan. Yang ada dalam benak anak, ayahnya ini sosok layaknya superman. Jarang bersua, namun namanya masyhur sebagai tokoh yang dicintai dan dinantikan kehadirannya, khususnya di saat-saat genting. Anak mana yang tidak bangga jika memiliki ayah seperti ini. Maka dengan diam-diam sang anak berusaha untuk menjadi seperti ayah. Inilah efek dari persepsi yang baik akan ayah di mata anak.

πŸ”…Disinilah peran ibu atau pengasuh utama anak amat berperan besar membentuk persepsi baik ayah di mata anak. Bukan hanya ibu. Orang terdekat dengan anak entah itu pembantu di rumah, neneknya atau paman serta bibi dari si anak juga berperan besar mewujudkan persepsi akan kebaikan ayah. Dari lisan mereka lah mengalir cerita kebaikan akan sosok ayah yang tak habis-habis. Mirip cerita komik superhero best seller yang terus terbit hingga ratusan episode. Anak serasa disuguhkan sosok pahlawan baru. Namanya fatherman. Lelaki yang disebut dengan ayah.

πŸ”…Maka, ayah pengembara memiliki tugas utama : menorehkan kebaikan kepada orang di sekitar anak hingga getarannya sampai kepadanya. Dan pihak yang paling utama merasakan kebaikan ayah adalah sang ibu. Jangan sampai ibu malah curcol kepada anaknya tentang tabiat ayah. “Jangan kayak bapakmu nak. Tukang bohong. Kasar. Udah gitu jarang mandi. Bau. Ngoroknya stereo. Plis cukup ibu saja yang merasa tersakiti”. Dengan mata mendelik dan nafas tersengal sambil banting-banting foto sang ayah ke lantai. Ih lebay. Tapi jika benar, ini bahaya. Ibu yang suka menceritakan keburukan ayah berdampak dengan pudarnya kepercayaan akan sosok ayah. Tugas ayah pengembara adalah mencegah hal ini. Dengan berbuat baik kepada ibu si anak akan berbuah kepada cerita kebaikan ayah yang meskipun jauh namun berbekas di hati.  “Ayahmu sosok yang luar biasa. Meski jarang pulang tapi ia selalu memikirkan kita nak. Buktinya kemarin ayahmu kasih kejutan. Tau-tau kirim I-Phone 6 buat ibu. Plus batangan emas tiga kilo. Baik banget ya ayahmu.” Wow, anak mana yang tak kagum dengan sosok ayah seperti ini?

Sekali lagi, jangan abaikan untuk berbuat baik kepada pasangan setiap saat. Ia lah sejatinya Public Relation atau Humas bagi sang ayah. Keburukan atau aib ayah akan ditutup rapat-rapat. Sementara kebaikan ayah mengalir deras tanpa henti. Perhatikan bagaimana nabi Ibrahim melakukan hal ini kepada istrinya, Hajar. Meskipun Hajar harus ditinggalkan di negeri yang tandus tak ada tanam-tanaman, yakni Mekkah di zaman dahulu, Hajar tak sekalipun curcol. Ia tak protes kepada anaknya seraya berkata “Bapakmu tegaaaaa! Kok bisa kita ditempatkan disini? Udah tandus, kering. Gak ada mall, tempat fitness dan swimming pool. Sungguh terlalu!” Sama sekali tidak. Hajar bahkan menceritakan kebaikan Nabi Ibrahim kepada anaknya, Ismail. Sehingga meskipun Ibrahim hanya pulang setahun sekali tetap mampu mengikat hati sang anak. Ismail pun mengagumi sang Ayah. Dan ia pun menjadi salah satu penerus perjuangan ayahnya. Menjadi Nabi setelahnya. Like father like son.

Ayah yang begitu berbekas di dalam jiwa anak menjadikan anak selalu bercita-cita seperti ayahnya. Dari sisi inilah seorang ayah bisa melihat indikator kesuksesan perannya sebagai orang tua. Dan semua berawal dari sosok ayah yang peduli dengan ibu si anak alias istrinya. Jika ayah terpaksa LDR an dengan keluarga, maka saat menelpon dari jauh, tanyakan dulu kabar pasangan. Dengarkan dulu curhatnya dari jauh. Gembirakan hatinya. Baru kemudian bertanya kabar tentang anak. Hal ini mirip dengan instruksi keselamatan di pesawat saat oksigen berkurang, seorang ayah harus dahulukan yang dewasanya baru kemudian menyelamatkan anaknya.

Jika kebaikan yang dilakukan kepada Ibu si anak saja memberi pengaruh akan persepsi yang baik tentang ayah, apalagi kalau ayah senantiasa berbuat baik kepada pembantu, orangtua alias kakek dan nenek dari anak kita, yang sering kali dilibatkan dalam mengasuh. Makin banyak lah cerita kebaikan yang mengalir dari tiap mulut. Dan makin bertambah kagum lah si anak akan ayahnya.

Mulai dari sekarang, bertekadlah untuk berbuat baik kepada siapa saja, khususnya yang paling dekat dengan kehidupan anak. Bukan berniat riya’. Namun agar menjadi teladan dan contoh bagi sang anak. Berbuat baiklah khususnya kepada istri. Alias ibu dari anak kita. Bikin ia bahagia. Kalau perlu tawarkan “Kamu seratus juta sebulan cukup gak sayang? Kalau gak cukup bilang ya. Aku tinggal nambah lilin aja. Grogh..grogh..”. Ups emangnya ngepet? Hehe... πŸ”…Yah intinya ayah yang baik bermula dari suami yang peduli. Jangan abaikan itu.
(bersambung)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "KEKUATAN MLM (serial tulisan AYAH PENGEMBARA bag. 2)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI