Judul : Resiko Membawa Isteri Ke Medan Perang & Pembuktian Bahwa Mursyid Agama Syi'ah-Qizilbasy Ternyata Bisa Dikalahkan!

๐Ÿ“† Kamis, 22 Jumadil Akhir 1437H / 31 Maret 2016

๐Ÿ“š SIROH DAN TARIKH

๐Ÿ“ Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Pertempuran Chaldiran - 23 Agustus 1514

Pertempuran ini juga disebut Chaldoran (dalam bahasa Persia: ฺ†ุงู„ุฏุฑุงู†‎; dalam bahasa Turki: ร‡aldฤฑran) membuahkan kemenangan bagi Khilafah Turki Utsmani atas Kerajaan Safawi (Safavi). Dampak dari kemenangan tersebut adalah masuknya wilayah Anatolia bagian timur dan Irak bagian utara ke dalam lingkup Turki Utsmani.

Walau kemudiam sebagian wilayah tersebut direbut kembali oleh Safawi, namun pada konflik berikutnya tahun 1532-55 wilayah tersebut dikuasai lagi serta dikokohkan menjadi wilayah Turki Utsmani. Disamping itu, Turki Utsmani juga menguasai wilayah barat-laut Iran walau sementara. Pertempuran ini hanyalah pembuka dari 41 tahun konflik yang menguras energi kedua pihak sampai Perjanjian Amasya pada tahun 1555.

Pada umumnya keunggulan ada pada pihak Turki Utsmani walau Safawi tetap bertahan; terutama pada daerah dengan populasi Syi'ah yang padat seperti Luristan dan Kermanshah. Dua wilayah Mesopotamia dan Armenia barat sempat direbut kembali oleh Safawi, tetapi hilang secara permanen ke Turki Utsmani pada Perjanjian Zuhab pada tahun 1639.

Di palagan Chaldiran, pihak Turki Utsmani mendatangkan pasukan dengan jumlah yang lebih besar antara 60-200 ribu personil dipimpin okeh Yavuz Sultan Selim I dengan peralatan perang yang lebih maju. Sedangkan pasukan Qizilbasy Safawi yang dipimpin oleh Shah Isma'il I membawa sekitar 40-80 ribu personil. Shah Isma'il nyaris tertangkap di medan perang dan pengalaman tersebut membuatnya terguncang secara psikologis sampai mundur dari pengelolaan perang sekembalinya dari Chaldiran. Dalam pertempuran ini ia tidak sempat menyelamatkan isteri-isterinya dari rombongan kerajaan yang tertangkap oleh pasukan Turki Utsmani.

Pertempuran ini penting dalam sejarah karena ia membuktikan anggapan bahwa tidak benar mursyid (pimpinan spiritual) agama Syi'ah Qizilbasy tidak dapat dikalahkan. Selain itu, pertempuran ini juga penting karena menandai perpindahan loyalitas Bangsa Kurdi dari ke Safawi kepada Turki Utsmani.

Latar Belakang

Setelah Yavuz Sultan Selim I berhasil mengonsolidasikan kekhilafahan Turki Utsmani maka ia segera mengalihkan perhatiannya pada faktor eksternal yang selama ini menyokong instabilitas dalam negeri. Agama Syi'ah Qizilbasy yang bernaung di bawah Kerajaan Safawi selama ini memihak pada elemen minoritas yang mengingingkan kejatuhan Turki Utsmani; bahkan menyokong pihak keluarga Bayezid II yang memberontak.

Kekhawatiran Selim I adalah populasi syi'ah yang banyak bermukim di perbatasan Turki Utsmani yang selama ini tunduk kepada pemerintahan akan terpancing untuk membuat rusuh dengan adanya aktivitas Shah Isma'il di seberang perbatasan. Selim I merasa perlu untuk memberikan pelajaran pada Shah Isma'il I yang menjadi pemimpin spiritual sekaligus raja bagi Safawi yang aparturnya simpatik kepada Agama Syi'ah. Propaganda yang dikirimkan ke wilayah perbatasan adalah bahwa Kerajaan Safawi berasal dari keturunan Nabi (saw).

Sebelum berangkat perang, Selim I sudah meminta fatwa kepada 'alim-'ulama Turki Utsmani yang terkenal berani "berseberangan" dari pandangan sultan; bahkan terhadap Sultan Fatih sebelumnya. Fatwa yang dikeluarkan oleh Syaikhul Islam pada waktu itu adalah bahwa Qizilbasy adalah musyrik atau murtad. Sebagai balasannya, Shah Isma'il menuduh Selim I sebagai agresor tanah kaum Muslimin, pezina, penumpah darah, serta tuduhan lain guna menggoyahkan stabilitas internal Turki Utsmani.

Ketika Yavuz Sultan Selim I memulai ekspedisi militernya, Kerajaan Safawi diserang dari timur oleh Kesultanan Uzbek dipimpin oleh Abu-l Fath Muhammad yang juga mengalami permasalahan dengan propaganda Agama Syi'ah Qizilbasy di negerinya. Shah Isma'il I yang mengkhawatirkan dirinya bakal menghadapi perang dari dua front mengeluarkan perintah untuk "bumi-hangus" (scorched earth) setiap jengkal tanah yang hendak dikuasai Turki Utsmani.

Wilayah timur Anatolia dan Kaukasus merupakan tanah dengan iklim dan medan yang sangat tidak bersahabat kepada manusia. Ditambah lagi dengan kebijakan bumi-hangus Shah Isma'il serta sulitnya membawa perbekalan untuk pasukan yang berjumlah banyak mengakibatkan banyak pasukan Selim I yang gelisah. Bahkan ada satu orang prajurit elit Janisari yang mengamuk serta menembakkan senapannya ke arsh tenda sultan. Ketika Selim I mendapatkan informasi intelijen bahwa Shah Isma'il sedang menyusun pasukannya dekat Desa Chaldiran, maka ia menyegerakan pasukannya untuk bergerak ke sana.

๐Ÿ“ŒPertempuran

Pasukan Turki Utsmani membawa dengan susah payah meriam lapangan berikut ribuan pasukan elit Janisari. Kedua elemen kekuatan andalan itu diposisikan di belakang gerobak logistik yang kini berfungsi sebagai benteng lapangan. Kerajaan Safawi mengerahkan pasukan berkudanya untuk menyerang lini kanan dan kiri Turki Utsmani menghindari deretan meriam yang berada di tengah. Hal yang tidak diantispasi oleh Safawi bahwa meriam tersebut sangat lincah bermanuver sehingga korban berjatuhan. Keunggulan teknologi ini menjadi faktor pengunggul yang besar dalam pertempuran ini disamping kekalahan Safawi pada perencanaan serta kedisiplinan prajuritnya.

Kekalahan ini begitu tak terduga oleh pihak Safawi sehingga mundurnya pasukan yang tersisa menjadi tak terkendali. Semua menyelamatkan diri masing-masing tanpa koordinasi. Pasukan kawal Shah Isma'il menyelamatkan pimpinannnya namun terpisah dari rombongan tenda kerajaan. Diantara rombongan tenda kerajaan yang tertinggal dan tidak dapat diselamatkan adalah iringan kedua isteri Shah Isma'il yang tertawan oleh pasukan kavaleri Turki Utsmani yang mengejar rombongan yang mundur tak tentu arah itu.

๐Ÿ“ŒKesudahan

Pertempuran singkat itu menyebabkan tidak hanya hancurnya pasukan utama Safawi namun hilangnya pertahanan kota Tabriz. Kota ini tetap melawan walaupun tidak ada harapan untuk bertahan sehingga mengalami kehancuran yang besar; bentengnya diratakan dengan tanah sebelum ditinggalkan.

Efek dari kekalahan ini adalah padamnya pemberontakan Syi'ah di sepanjang perbatasan serta keterpukulan Shah Isma'il atas harga dirinya yang jatuh, aura mistik tak-terkalahkan yang buyar, serta hilangya tulang-punggung pasukan Safawi. Setelah perisitiwa Chaldiran, Shah Isma'il tidak lagi tampil ke depan publik maupun urusan administrasi kerajaannya.

Balatentara Safawi mengalami perubahan drastik dengan didatangkannya senapan api dari negara-negara Eropa. Anak Shah Isma'il yang bernama Tahmasp I juga mendatangkan meriam untuk melengkapi ketentaraam yang baru dibentuk ulang setelah kekalahan di Chaldiran.

Satu kekeliruan strategik Yavuz Sultan Selim I adalah ia tidak meneruskan kemenangan ini hingga ke jatung wikayah Safawi di Iran namun justru meembelokkan pasukannya ke selatan untuk menghadapi faktor ancaman kedua yaitu Kesultanan Mamluk yang juga merongrong wilayah perbatasan Turki Utsmani.

Agung Waspodo, mencatat bahwa jika Sultan Selim I tidak ke Mesir untuk mengalahkan Mamluk maka Portugis di Samudera Hindia mungkin menjadi lebih bebas lagi berkeliaran mengancurkan kesultanan Muslimin lainnya di region tersebut. Semua tikungan dan belokan sejarah sudah ada Yang mengaturnya, persis 501 tahun yang lalu..

Depok, 23 Agustus 2015

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ๐ŸŒน

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผ Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Judul : Resiko Membawa Isteri Ke Medan Perang & Pembuktian Bahwa Mursyid Agama Syi'ah-Qizilbasy Ternyata Bisa Dikalahkan!"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI