Hubungan Dengan Kerabat Non Muslim

✏Ustadz Dr.Wido Supraha

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamualaikum, saya Angelina Lily, grup Manis 30, ingin bertanya, saya mualaf, asal agama katolik, yang memeluk Islam karena  mempelajari agama nasrani, orangtua saya masih katolik. Bagaimana hukumnya dalam agama tentang hubungan saya dengan orangtua. Almarhum mama wafat masih nasrani. Haruskah saya mendoakan beliau?

Dan kepada papa yang masih hidup, apakah saya masih wajib berbakti?

Sejak saya mualaf hubungan kami merenggang karena kami dari keluarga aktifis gereja. Soo.. saya dianggap aib keluarga karena masuk Islam walau asal agama orangtua juga Islam semua, karena nenek saya semua muslim. Terimakasih atas jawabannya, jazakumullah khairan.

Jawaban:

Wa 'alaikumusalaam warahmatullah Saudari Angelina Lily.
Sebelumnya saya mendoakan keberkahan dan rahmat-Nya atas keputusan Ibu untuk kembali memeluk Islam, semoga sentiasa dalam hidayah dan istiqomah, dan teruslah menuntut ilmu berpandukan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Terkait pertanyaan Ibu, sungguh kita turut bersedih atas wafatnya sang Ibunda tanpa sempat kembali memeluk Islam sementara orangtua beliau sejatinya adalah Muslim. Hal yang sama terjadi kepada Nabi Muhammad, yakni ketika pamannya wafat, atau jauh sebelumnya telah pernah terjadi kepada Nabi Ibrahim a.s. ketika ayahnya, Azar, wafat. Sekian lama Nabi Ibrahim a.s. berdakwah mengajak ayah kandungnya untuk kembali ke dalam Islam, namun hidayah adalah milik Allah.


ูˆَุงุฐْูƒُุฑْ ูِูŠ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุตِุฏِّูŠู‚ًุง ู†َุจِูŠًّุง (41) ุฅِุฐْ ู‚َุงู„َ ู„ِุฃَุจِูŠู‡ِ ูŠَุง ุฃَุจَุชِ ู„ِู…َ ุชَุนْุจُุฏُ ู…َุง ู„َุง ูŠَุณْู…َุนُ ูˆَู„َุง ูŠُุจْุตِุฑُ ูˆَู„َุง ูŠُุบْู†ِูŠ ุนَู†ْูƒَ ุดَูŠْุฆًุง (42) ูŠَุง ุฃَุจَุชِ ุฅِู†ِّูŠ ู‚َุฏْ ุฌَุงุกَู†ِูŠ ู…ِู†َ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ู…َุง ู„َู…ْ ูŠَุฃْุชِูƒَ ูَุงุชَّุจِุนْู†ِูŠ ุฃَู‡ْุฏِูƒَ ุตِุฑَุงุทًุง ุณَูˆِูŠًّุง (43) ูŠَุง ุฃَุจَุชِ ู„َุง ุชَุนْุจُุฏِ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†َ ุฅِู†َّ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†َ ูƒَุงู†َ ู„ِู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุนَุตِูŠًّุง (44) ูŠَุง ุฃَุจَุชِ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุฎَุงูُ ุฃَู†ْ ูŠَู…َุณَّูƒَ ุนَุฐَุงุจٌ ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ูَุชَูƒُูˆู†َ ู„ِู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ูˆَู„ِูŠًّุง (45)

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quraan) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”.” (QS. Maryam [19] : 41-45)

Pada saat ayahnya wafat, Nabi Ibrahim a.s. sangatlah sedih karena hingga ayahnya wafat, ia tidak mampu meng-Islam-kan-nya, padahal ia mampu meng-Islam-kan orang lain, sehingga secara naluri anak, beliau berdo'a atas keselamatan ayahnya di akhirat.


ู…َุง ูƒَุงู†َ ู„ِู„ู†َّุจِูŠِّ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฃَู†ْ ูŠَุณْุชَุบْูِุฑُูˆุง ู„ِู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠู†َ ูˆَู„َูˆْ ูƒَุงู†ُูˆุง ุฃُูˆู„ِูŠ ู‚ُุฑْุจَู‰ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ู…َุง ุชَุจَูŠَّู†َ ู„َู‡ُู…ْ ุฃَู†َّู‡ُู…ْ ุฃَุตْุญَุงุจُ ุงู„ْุฌَุญِูŠู…ِ (*) ูˆَู…َุง ูƒَุงู†َ ุงุณْุชِุบْูَุงุฑُ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ู„ِุฃَุจِูŠู‡ِ ุฅِู„َّุง ุนَู†ْ ู…َูˆْุนِุฏَุฉٍ ูˆَุนَุฏَู‡َุง ุฅِูŠَّุงู‡ُ ูَู„َู…َّุง ุชَุจَูŠَّู†َ ู„َู‡ُ ุฃَู†َّู‡ُ ุนَุฏُูˆٌّ ู„ِู„َّู‡ِ ุชَุจَุฑَّุฃَ ู…ِู†ْู‡ُ ุฅِู†َّ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ู„َุฃَูˆَّุงู‡ٌ ุญَู„ِูŠู…ٌ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah: 113-114)

Oleh karenanya, sebaiknya Ibu saat ini lebih memfokuskan kepada ayah yang masih hidup bersama Ibu. Berbaktilah kepadanya, karena Islam menganjurkan birrul walidain tanpa memandang agama orang tua. Islam pun mengajarkan umatnya untuk terus mendoakan ayah yang belum kembali ke dalam Islam, agar semoga Allah memberikannya hidayah.

Dalam posisi Ibu yang dianggap terhina karena memeluk agama Islam, maka inilah saat yang tepat untuk menunjukkan Kasih, Damai, dan Keindahan Islam. Bahwa Islam is beautifull. Pada fase awal ini, sering-seringlah ibu memberikan ayah ragam kebaikan, senyuman, hadiah dan hal-hal yang disukainya. Berlatihlah sabar dalam hal ini untuk tujuan yang lebih besar dan mulia. Umumnya, hati manusia pelan-pelan akan berubah, laksana batu yang kokoh namun terus menerus tertetesi air yang sejuk. Minimalkan berbicara agama dalam fase ini, hingga kemudian Ibu berhasil membawa ayah untuk siap menerima diskusi ilmiah dan logis, dan membawanya pada ketertarikan untuk menemukan kebenaran, kebahagiaan dan cahaya yang sejati itu, yakni Al-Islam, Din Al-Anbiya wa al-Mursalin.

Yassirlana wa lakum.


Wassalam,
supraha.com

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐Ÿ„๐Ÿ€๐ŸŒธ๐ŸŒป๐ŸŒท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

๐Ÿ’ผSebarkan! Raih bahagia..

0 Response to "Hubungan Dengan Kerabat Non Muslim"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI