Hadiah Sebagai Sarana Diplomasi dan Upaya Untuk Melengahkan Lawan!

📆 Kamis, 22 Jumadil Akhir 1437H / 31 Maret 2016

📚 SIROH DAN TARIKH

📝 Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Kisah Jatuhnya Syam kepada Turki Utsmani
Pertempuran Marj-Dabiq - 24 Agustus 1516

Pertenpuran ini ditulis juga sebagai Marj Dābiq (dalam bahasa 'Arabi: مرج دابق‎, yang bermakna "the meadow of Dābiq" atau Padang Rumput Dābiq; dalam bahasa Turki: Mercidabık Muharebesi) adalah bentrok militer bersejarah di Timur-Tengah. Lokasi pertempuran ini ada di Desa Dābiq sekitar 44 km sebelah utara kota Aleppo (Halab), Syria.

Pertempuran ini adalah bagian awal dari peperangan antara Khilafah Turki Utsmani melawan Kesultanan Mamluk sepanjang tahun 1516-1517 yang berakhir dengan kemenangan pada Turki Utsmani. Konsekuensi kekalahan Mamluk di Marj-Dabiq adalah lepasnya seluruh wilayah Syam. Bahkan setelah kekalahan total Kesultanan Mamluk nantinya serta jatuhnya Mesir dan Hijaz barulah secara resmi Turki Utsmani menyandang titel Khadimul-Haramain; pelayan Kedua Tanah Suci.

🏇🏿Persiapan Perang

Sultan Al-Asyraf Qansuh al-Ghawri sempat menghabiskan musim dingin 1515 hingga musim semi 1516 menyiapkan pasukannya guna bergerak maju ke perbatasan Turki Utsmani di sebelah timur Anatolia yang konon ingin berpindah haluan ke Mesir. Karena mengantisipasi adanya perlawanan dari Turki Utsmani maka ia mempersiapkan diri secara maksimal; tentu berita kekalahan Kerajaan Safawi di Chaldiran tahun sebelumnya (tulisan tentang Chaldiran baru saja saya muat beberapa menit yang lalu) menjadi salah satu pertimbangan persiapan ini.

Ketika ia hendak berangkat, tibalah utusan dari Yavuz Sultan Selim I yang membawa berita persahabatan yang menjanjikan untuk menunjuk wakil dari Mesir sebagai penguasa wilayah perbatasan antara Turki Utsmani dan Mamluk. Sultan al-Asyraf menginginkan bahwa perbatasan, khususnya propinsi Dulkadir dalam wilayah Turki Utsmani, tunduk pada perintahnya atas nama Mamluk yang berkuasa di Mesir. Diantara janji yang juga dibawa oleh utusan Sultan Selim I adalah membuka perbatasan untuk perlintasan perdagangan dan bahkan menyerahkan sebagian wilayah taklukan bekas Safawi kepada al-Asyraf.

🏇🏿Keberangkatan dari Kairo

Memasuki awal musim panas, pada hari Ahad 16 Rabi'uts Tsani 922 Hijriah (18 Mei 1516), al-Asyraf berangkat dari Kairo bersama pasukan yang banyak termasuk 20 ribu pasukan berkuda kelas berat; yang tidak ia miliki adalah kesatuan meriam lapangan. Al-Asyraf menugaskan Tuman Bey II sebagai pemimpin di Kairo selama ia memimpin ekspedisi tersebut; keberangkatan yang mewah dengan pertunjukan yang meriah melepas keberangkatan pasukan al-Asyraf. Ikut bersama pasukan ini tidak kurang dari 15 amir, kesatuan kawal kesultanan 5.000 kavaleri Mamluk, dan satuan milisi Beduin (Badw, Badui) lainnya yang bergabung di sepanjang perjalanan di Syam.

🔅Khilafah 'Abbasiyah di Kairo

Pada rombongan terkawal paling belakang terdapat Khalifah al-Mutawakkil III dari Daulah 'Abbasiyah. Daulah 'Abbasiyah berdiri di Kairo setelah Baghdad dihancurkan oleh Mongol pada tahun 1258. Kesultanan Mamluk menerima dan melindungi institusi kekhalifahan pada tahun 1261 ketika Sultan Baybars I al-Bunduqdārī secara resmi mengangkat Khalifah al-Mustanshir sebagai pelanjut Daulah 'Abbasiyah di Kairo.

Dalam rombongan belakang ini terdapat juga Ahmed yang merupakan keponakan Selim I yang memiliki hak atas kekhilafahan Turki Utsmani. Al-Asyraf membawa serta Ahmed dengan tujuan dapat menarik simpati para pemimpin dari pihak lawannya. Al-Asyraf melaju pelan sehingga baru sampai ke Damakus pada tanggal 9 Juni. Ia pun diterima di kota ini dengan karpet terbentang serta perayaan besar lagi mewah yang disediakan oleh Amir Sibay, gubernur Mamluk untuk Damaskus. Setelah itu ia terus bergerak menuju kota Hims dan Hammah dengan penerimaan yang sama mewahnya hingga persiapan menuju Aleppo (Halab).

Diantara yang menyebabkan lambannya pasukan Mamluk yang dahulu terkenal gesit adalah bahwa setiap pasukan membawa perlengkapam dan persenjataan dalam jumlah yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh besarnya pembagian bonus dana perang yang diberikan oleh al-Asyraf kepada setiap pasukan elit kavalerinya berupa; 100 dinar, 4 bulan gaji ke depan, serta dana pembelian unta.

🔅Diplomasi

Sementara itu tiba pula utusan dari pihak Turki Utsmani dengan membawa hadiah yang mahal kepada al-Asyraf maupun al-Mutawakkil III serta para pemuka lainnya. Disampaikan oleh utusan bahwa Sultan Selim I memelas untuk diberikan gula khas Mesir serta kue dan gula-gula lainnya. Di kemudian hari ternyata ditemukan bahwa aksi diplomasi ini ditujukan agara al-Asyraf dan para pemimpin Mamluk menganggap remeh Sultan Selim I yang justru sedang bersiap tempur tanpa disadarinya.

Utusan dari al-Asyraf datang ke tenda Selim I dengan membawa hadiah ala kadarnya sebagai balasan merendahkan utusan sebelumnya. Sultan Selim I mengerti pesan simbolik pelecehan itu dan menangkap utusan serta mengembalikannya setelah dicukur hingga gundul dan ditunggangkan di atas keledai. Balasan ini mengangetkan al-Aysraf yang mengira Sultan Selim I akan tunduk dan patuh pada perintahnya begitu saja.

📌Gejalan Pengkhianatan pada Barisan Mamluk

Di kota Aleppo, gubernur Mamluk yang dijabat oleh Khair Bey menerima rombongan al-Asyraf dengan kemewahan yang sama dengan kota-kota sebelumnya untuk menyembunyikan perjanjiam rahasianya dengan Sultan Selim I. Penduduk Aleppo sebenarnya tidak menyukai al-Asyraf karena kekejamannya terhadap Aleppo di masa silam.

Kurang hangatnya penerimaan penduduk Aleppo sangat kontras dibandingkan dengan jamuan Kair Bey sehingga para penasihat al-Asyraf memberi masukan agar ia siaga. Al-Asyraf merasa tidak nyaman di Aleppo kemudian mengambil lagi janji setia para komandan dengan membagikan hadiah kepada mereka; sebagian yang tidak atau kurang mendapatkan bagian mulai merasa tersisihkan. Pertimbangan untuk menangkap Khair Beg Malbai karena tingkah-lakunya yang mencurigakan sudah disampaikan kepada al-Asyraf namun perintah itu digagalkan oleh Amir Janberdi Al-Ghazali.

⚔Pertempuran

Pada hari Rabu 21 Rajab 922 Hijriah (20 Agustus 1516) pasukan Mamluk sudah sampai di padang rumput Marj-Dabiq sekitar 1 hari perjalanan dari Aleppo. Al-Asyraf yang tiba lebih dahulu di tempat ini tidak segera menyusun barisan tempurnya sehingga kehadiran pasukan Turki Utsmani yang datang belakangan masih dapat memilih lokasi yang menguntungkannya.

Pertempuran dimulai dengan serbuan kavaleri Mamluk yang legendaris itu, sayap kanan dipimpin Amir Sibay dari Damaskus dan sayap kiri dipimpin Amir Khair Beg Malbai. Serangan keras ini berhasil memukul mundur sayap kiri Turki Utsmani setelah dibantu oleh infanteri Panglima Amir Su'dun; bahkan dalam catatan resmi diperoleh keterangan bahwa Selim I sudah mempertimbangkan untuk mundur. Namun, barisan meriam lapangan Turki Utsmani berhasil menewaskan panglima Amir Su'dun dan gubernur Amir Sibay dalam serangan balasan. Pada kondisi genting ini, sebenarnya Mamluk masih dapat meneruskan terjangan jika barisan kavaleri sayap kirinya terus mendesak maju. Hanya saja, Amir Kahir Beg Malbai menarik pasukannya sesuai komitment rahasianya dengan Selim I pada situasi tersebut sehingga sisa kavaleri dan infanteri Mamluk kini justru terkepung. Hampir semuanya terbunuh dengan tembakan jitu Janisari yang kini dilengkapi dengan senapan api Musket yang canggih untuk zamannya. Kavaleri Mamluk yang legendaris itu tercabik-cabik oleh peluru meriam lapangan yang ditembakkan secara terkoordinir dari berbagai arah membentuk "kill zone" yang mematikan.

📌Kepanikan dan Tutupnya Gerbang Aleppo

Sisa pasukan Mamluk di garis belakang mundur secara panik karena sinyal komando mundur ditiupkan oleh Amir Khair Beg Malbai ketika barisan masih mencoba bertahan. Sia-sialah upaya menyusun ulang barisan karena kini semua pasukan sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Masalah semakin bertambah karena kota Aleppo atas perintah Amir Kahir Beg Malbai menutup pintu gerbangnya. Sultan al-Asyraf Qansuh al-Ghawri terbunuh ketika ia mengalami stroke selagi menunggangi kudanya dan jatuh.

Khalifah al-Mutawakkil III memilih untuk menyerah dan berpindah pihak berikut beberapa amir yang sedari awal tidak merasa diperhatikan oleh Sultan al-Asyraf. Ada beberapa versi tentang akhir hayat al-Asyraf; pertama ia wafat karena stroke dan kepalanya dipenggal oleh pengawalnya untuk dikubur agar tidak menjadi tropi bagi lawan, kedua ia melarikan diri dan terbunuh bersama pengawalnya tapi tidak dapat ditemukan jazadnya, dan ketiga ia terbunuh dan dipenggal oleh pasukan Turki Utsmani yang hampir mendapatkan hukuman dari Selim I karena ia tidak menginginkan penistaan seperti itu.

🔅Kesudahan

Yavuz Sultan Selim I masuk dan diterima oleh penduduk Aleppo sebagai sang pembebas dari kekejaman mendiang al-Asyraf. Sultan Selim I menerima dengan hangat Khalifah al-Mutawakkil III namun ia memarahi para 'ulama yang menurut Selim i tidak berhasil menasihati sang sultan yang bertindak semena-mena di wilayah Syam serta tidak memerangi syi'ah di Kerajaan Safawi.

Tidak lama setelah itu Damaskus pun membuka gerbangnya dan Mesir menyusul untuk ditaklukan karena basis Mamluk masih ada di wilayah tersebut.

Agung Waspodo, mencatat berbagai taktik diplomasi yang menyebabkan al-Asyraf menjadi lengah dan Selim I menjadi sangat diuntungkan oleh kelengahan lawannya.. Indonesia pun sering terkesima dengan diplomasi berpura-pura baik dari negeri-negeri lain yang tidak menginginkan majunya negeri kita, negeri-negeri itupun telah menanam agennya di dalam pemerintahan Indonesia untuk mengalahkan semangat juang bangsa kita dari dalam.. taktik lama yang masih relevan hingga 501 setelah itu.. besok

Depok, 23 Agustus 2015.. sebentar lagi tengah malam..

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁🌹

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

💼 Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Hadiah Sebagai Sarana Diplomasi dan Upaya Untuk Melengahkan Lawan!"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI