BERJ-UANG (seri tulisan AYAH PENGEMBARA bag. 2)

πŸ“ Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ 🌿

Ada satu pertanyaan dalam benak anak yang ingin diajukan kepada sang ayah pengembara : “Apa yang sebenarnya dikerjakan ayah di luar sana hingga menyebabkan jarang pulang?” Tentu ayah jangan keburu sensi atas pertanyaan ini lantas buru-buru menjawab ”Kamu mau tau aja apa mau tau bingits? Ayah di luar sibuk kerja keleeeuuss. Plis deh ah”. Jreng jreng. Ini mah bukan jawaban ayah pengembara. Ini komen Alay penggembira yang biasa kita saksikan setiap pagi di tayangan musik stasiun TV swasta. Ye ye ye..la la la.

πŸ”…Mengapa anak bertanya hal demikian? Mereka hanya ingin tahu seberapa worth it aktivitas ayah di luar hingga harus meninggalkan mereka. Naluri kecemburuan mendasari pertanyaan ini. Sebab hakikatnya setiap anak ingin senantiasa diperlakukan istimewa dan spesial meskipun gak harus pakai telor dan karetnya dua. Apa sih? Emangnya nasi goreng? Hehe. 
Mereka senantiasa menginginkan hanya diri merekalah yang jadi prioritas dari lelaki yang mereka sebut dengan ayah. Itulah kenapa rasa ingin tahu mereka akan aktivitas ayah di luar terasa amat penting. Untuk membandingkan apakah tak hadirnya ayah di rumah benar-benar memiliki nilai.

πŸ”…Karena itu, aktivitas ayah pengembara amat mempengaruhi persepsi anak. Jika anak mengetahui ayah di luar sekedar hura-hura, berburu kesenangan demi kepuasan diri semata, semakin anak merasa tak berharga. Ayah akan dipersepsikan sebagai sosok yang cuek, egois dan tak peduli keluarga. Namun jika ayah yang tak pulang-pulang ini terdengar kabar sebagai pejuang dalam bidangnya masing-masing, bahkan namanya masyhur dibicarakan berbagai kalangan akan kegigihan dan usahanya, dibarengi dengan berderetnya penghargaan akan prestasi ayah, inilah ayah yang mengagumkan. Ayah telah membuat bangga akan dirinya. Mengharumkan nama keluarga. Hingga tanpa sungkan ia sebut dan  pamerkan aktivitas sang ayah di hadapan kawan-kawannya.

πŸ”…Belajarlah dari sosok ayah bernama Farukh. Seorang da’i sekaligus mujahid di masa tabi’in. Tuntutan iman dan kerinduannya untuk mati syahid ‘memaksa’ ia harus tinggalkan anak yang masih dalam kandungan istrinya. Tak tanggung-tanggung. Ia tinggalkan rumah hingga hampir 30 tahun lamanya. Itu artinya selama 30 kali lebaran ia gak pulang-pulang. Ini lebih dahsyat daripada bang thoyyib yang baru 3 kali lebaran gak pulang. Jadi buat pemerhati bang thoyyib harap sabar menanti kedatangannya.

Sang anak pun tumbuh dan besar tanpa sosok ayah. Masa kecil dan remaja dilalui hanya lewat sentuhan ibu. Namun ketidakhadiran ayah di sisi ia maklumi. Bahkan mengundang puji. Seiring dengan kabar beredar bahwa sang ayah adalah mujahid yang luar biasa, pejuang tangguh dan pembela agama nomor wahid di zamannya. Jadilah sang anak berupaya mengikuti jejak ayah. Berjuang dengan cara yang beda tanpa perlu angkat senjata. Ia dikenal sebagai pendidik umat lewat ilmunya yang menderas. Dialah Rabi’ah Ar Ra’yi. Guru dari Imam Malik, Sufyan Tsauri dan ulama besar lainnya. Sosok ayah yang bertahun-tahun tak hadir menjadi inspirasi bagi sang anak meski tak pernah bersua. Sebab ia tahu, ayah meninggalkan rumah bukan sekedar mencari UANG tapi lebih luhur dari itu yakni berjUANG.

Disinilah kata kuncinya. Ayah pengembara punya misi besar yakni untuk berjUANG. Ada kata “berj” yang disandingkan dengan kata “uang”. Kalau mau dicari-cari maknanya, meskipun terkesan maksa, kurang lebih begini : “Berj” ini mirip bunyinya dengan “Burj”. Artinya menara yang tinggi. Digandengkan dengan kata “uang”. Kesimpulannya, kalau ayah mau dapat uang harus bekerja di menara yang tinggi ya? Hellow...kamu bukan herp atau cak lontong kan? Ini serius nih. Saya lagi mau berfilosofi. Maksudnya begini, seorang Ayah seharusnya selain bertanggung jawab mencari uang juga dituntut untuk mengukir nama sekaligus prestasi yang menjulang tinggi bagai menara. Semakin tinggi prestasi yang dibuat sekaligus nama baik yang diukir, makin membuat anak kagum dan bangga. Inilah kompensasi yang adil dan setara atas ketidakhadiran ayah di sisi anak khususnya dalam rentang waktu yang lama.

Jangan sampai justru kabar yang sampai ke telinga anak adalah tentang ‘kenakalan” ayah di luar. Ayah terkenal sebagai pribadi yang suka berbohong, korupsi, main perempuan, menipu banyak orang, menyakiti kawan dan dibenci rekan sekerja karena sikapnya yang menyebalkan. Ditambah dengan tak ada satupun prestasi yang diukir ayah dalam bidangnya. Bahkan sering gagal dalam tugas. Ini ayah pecundang. The loser. Hal tersebut menjadikan anak layaknya peserta MOS. Tercoreng-moreng wajahnya dengan arang seraya memakai topi yang terbuat dari panci. Digantungi karton bertuliskan “aku anak idiot” dengan tali rafia berumbai-rumbai. Dengan kata lain, perilaku ayah di luar tersebut hanya membuat anak super duper malu. Dan inilah yang membuat rasa respect kepada sosok ayah menjadi sirna.

πŸ”…Agar anak senantiasa menjadikan ayah sebagai figur utama, maka ukirlah prestasi dengan cara terhormat dalam bidang yang ayah geluti. Tunjukkan bahwa ayah selagi di luar bukan cuma untuk senang-senang namun sedang berjuang. Setiap keberhasilan dan prestasi yang ayah peroleh di luar akan tersiar ke rumah hingga menjadi pesan pengasuhan bagi anak meski bukan berasal langsung dari lisan ayah. Kalau perlu pajanglah segala foto, penghargaan dan sertifikat yang ayah miliki berikut pernak-pernik perkakas yang dipakai selama berjuang. Dari situ anak belajar akan nilai kesungguhan, kerja keras, pengorbanan dan kemanfaatan kepada sesama. Ini amat berpengaruh dalam perjalanan hidup sang anak.

Ayah pengembara punya tekad untuk menjaga nama baik keluarga selagi di luar. Hindari perilaku yang tak terhormat. Sebab jika ayah membuat malu keluarga karena sikap yang tak elok, anak akan kecewa, malu dan minder. Hati mereka menjerit seraya berkata “aku tuh gak bisa dibeginiin”. Sambil ngambil tissue basah. Plis ayah, jaga kehormatanmu dimanapun berada selain juga jaga dompetmu agar isinya selalu utuh begitu tiba di rumah. Anak pun menyambut sumringah begitu ayah tiba. Mereka bersenandung gembira : akhirnya bang thoyyib pulang juga

Ahay. Buat yang kasmaran, ini tema udah lama ditunggu-tunggu kayaknya. Sementara bagi jomblo, judul tulisan ini aja udah menyiksa.  Rentan untuk dibully. Apa coba yang dekat dengan hati mereka? Paling ya lambung atau paru-paru dikelilingi usus besar dan usus kecil hehe...Padahal semestinya gak perlu baper. Tulisan ini masih lurus kok ngebahas relasi antara ayah dan anak. Bukan ngebahas jomblo dan jodohnya yang udah beberapa kali lebaran gak kunjung datang. Jadi santai aja vrooh..

Lagipula apa yang dirasakan oleh jomblo, dirasakan juga oleh ayah pengembara. Mereka hidup sendiri jauh dari keluarga. Meski gak sampai ngenes jejeritan, kebayang  kan bagaimana sang AYAH menjalani malam? Hanya berteman guling dan bantal. Sekalinya nyamuk datang beramai-ramai dianggap hiburan agar malam tak kesepian. Namun yang membedakan, sang ayah hatinya masih tertambat ke rumah. Kalau jomblo? Tertambat ke gadget biasanya. Betah mantengin layar berjam-jam sambil berharap akan ada aplikasi “download jodoh” di playstore #eaaa.  

Bagi ayah pengembara, berlama-lama di luar tentu amat menyiksa. Ada buah hati yang dirindukan, selain istri tentunya. Konon katanya, anak itu lebih ngangenin dibandingkan istri. Sebab anak sudah cukup bahagia jika pulang dihadiahkan balon. Sementara Istri mesti dibawain I-Phone. Kalau anak lagi sedih, cukup dipeluk dan diajak bermain. Sementara istri harus dipeluk dan diajak belanja. Beda kan?

Meski terpisah, lewat kejauhan, sosok AYAH pengembara masih bisa jalankan peran. Yakni tetap terpaut hati dengan si anak meski raga terpisahkan. Dimana anak merasakan kehadiran AYAH walau tak ada di sisinya.

Bagaimana caranya? Kita bisa belajar dari sosok AYAH luar biasa yang mencetak pemimpin hebat yang digelari oleh rakyatnya sebagai Khalifatur Rasyidin yang kelima yakni Umar bin abdul aziz. Sang AYAH, Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang birokrat. Khalifah saat itu menunjuknya menjadi gubernur di Mesir. Sementara ia dan keluarganya telah lama bermukim di Madinah. Sebagai pribadi yang bertanggungjawab maka ia tunaikan amanah tersebut hingga tuntas. Gak tertarik ikut pencapresan. Sebab ia tak butuh pencitraan. Meski konsekuensinya ia harus rela tinggalkan anaknya seorang diri di Madinah, jauh dari pengawasannya. Sebab hanya istrinya saja yang boleh ia bawa ke Mesir.

Sebagai AYAH yang peduli, ia tak ingin anaknya melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia tahu ia sulit membagi waktunya sebagai abdi negara, khususnya dalam mengajarkan pendidikan agama kepada sang anak. Karena itu, ia menunjuk seorang ulama ternama di Madinah saat itu, sebagai guru sekaligus mentor spiritual bagi anaknya. Ulama itu bernama Syaikh Sholih bin Kaisan.

Saat hendak berangkat ke Mesir untuk tunaikan tugas hingga waktu yang lama, ia meminta kepada Syaikh Sholih tuk ajarkan anaknya agar selalu sholat tepat waktu. Hal ini atas dasar keyakinan sang AYAH bahwa sholat adalah pilar awal pembentukan karakter seorang anak. Jika sholatnya baik, maka amal yang lain pun baik. Dan jika sholatnya buruk, perilaku yang lain pun buruk. Dan demi memantau pendidikan anaknya, ia meminta Syaikh Sholih melaporkan jika ada perilaku anaknya yang harus ia evaluasi.

Setibanya dii Mesir, hari-harinya disibukkan dengan mengurus rakyatnya. Hingga suatu hari datanglah sepucuk surat Syaikh  Sholih yang memberi kabar yang tak ia sukai. Anaknya, Umar, mulai punya kebiasaan buruk yakni suka menunda-nunda sholat hingga selalu masbuk dalam sholat berjamaah. Demi mendapatkan informasi yang benar, maka Syaikh Sholih diminta untuk datang ke Mesir menceritakan ihwal anaknya.

Begitu tiba di Mesir, Syaikh Sholih berujar “Anakmu memiliki rambut panjang. Ia suka sekali menyisir rambutnya hingga melalaikannya dari waktu sholat” Setelah paham akan apa yang terjadi, maka sang AYAH menulis surat untuk anaknya, Umar. “Nak, bersamaan dengan surat ini, AYAH mengutus tukang cukur khusus dari Mesir untuk membotaki kepalamu agar kamu tak lagi terlambat sholat”

Alhasil, Umar bin Abdul Aziz muda pun langsung dibotaki begitu Syaikh Sholih tiba di Madinah. Ia  merasakan kehadiran AYAHnya lewat hukuman tersebut. Kepalanya yang plontos menjadi pengingat bahwasanya sang AYAH ternyata terus memantaunya dari kejauhan meski lewat berita yang disampaikan gurunya. Inilah contoh AYAH yang jauh di mata dekat di hati. Umar yang terlena dengan rambutnya yang membuat ia terlambat sholat harus merelakan rambutnya dicukur habis. Zaman sekarang banyak anak muda yang terlambat sholat karena sibuk ngurus batu akik, main HP atau motor kesayangannya. Kisah Umar tadi bisa jadi inspirasi buat AYAH di zaman ini apa yang semestinya dilakukan.

Kata kunci agar AYAH pengembara senantiasa dekat di hati anak adalah mengetahui kondisi anak dalam berbagai situasi. Jika dahulu, AYAH dari Umar mendapatkan kiriman informasi lewat kiriman surat, maka di zaman sekarang tentunya lebih mudah. AYAH bisa memantau anak lewat social media. Ataupun mendapatkan kabar dari istri via gadget lewat kiriman gambar atau Video. Intinya AYAH tetap tahu perkembangan anaknya setiap saat, setiap waktu.

Jangan sampai ada kejadian ketika AYAH kembali ke rumah dari pengembaraannya, mendadak diminta istri mengambil raport anak. Sang AYAH pun menyanggupi. Dengan pede berangkat ke sekolah anak dan masuk ke dalam kelas. Hingga selesai pengambilan ternyata nama anak gak juga dipanggil. AYAH lantas buru-buru menelpon istrinya seraya mengomel,
“Mah, gimana sih? Kok dari tadi papa gak dipanggil guru kelasnya?”
“Lho, memang papa dimana sekarang?”
“Papa di ruangan kelas 2A”
“Duh papa, anak kita sekarang udah kelas 6”

Duaaarr...Malu bener kan? So, jadilah AYAH pengembara yang selalu update akan perkembangan anaknya. Dan bertindaklah jika ada sesuatu yang dirasa “istimewa”. Jika diperoleh info bahwa anak sukses dalam suatu bidang, segeralah jadi orang pertama yang mengapresiasi. Atau jika anak melakukan tindakan yang tak pantas, biarlah AYAH yang bertugas mengeksekusi tuk anak kembali ke jalan yang benar. Sekali lagi, dari jauh AYAH tetap bisa mengasuh. Modalnya cuma koleksi informasi tentang anak. Meski resikonya AYAH akan dicap sebagai AYAH kepo. Takpapa. Sebab ketahuilah di dalam kepo ada kepodulian (maksa!). Dan inilah AYAH yang dibanggakan 

(bersambung)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to " BERJ-UANG (seri tulisan AYAH PENGEMBARA bag. 2)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI