BERBAGI CERITA (seri tulisan AYAH PENGEMBARA bag.3)

πŸ“† Sabtu, 10 Jumadil Akhir 1437H / 19 Maret 2016

πŸ“š KELUARGA & PARENTING

πŸ“ Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ 🌿

Pernah dengar ungkapan ini gak?

“Kedekatan hubungan antar pribadi ditandai dengan seberapa dalam seseorang mengetahui kondisi atau keadaan pihak lain”.

Ini kaedah sakti dari pakar Komunikasi Interpersonal, Joseph A. Devito buat yang ingin menjalin keakraban dengan orang lain. Biasa dipakai oleh anak belia labil alias ABABIL untuk deketin gebetan sebagai bagian dari mantra motivasi. Intinya, seberapa dalam kita kenal orang tersebut menunjukkan seberapa dekat hubungan kita dengannya. Jangan ngaku-ngaku akrab kalau yang diketahui dari orang tersebut cuma nama lengkap dan tanggal lahirnya aja. Masih kalah sama batu nisan yang sampai tertulis jelas tanggal wafatnya. Disebut akrab kalau lebih mengenal dalam dari itu. Mulai dari makanan favorit, - minuman juga, kalau gak, bisa keselek – nomorsepatu, merk shampoonya, kebiasaan di pagi hari sampai aroma badannya pun tau. Inilah asal mula kepo. Mau tau segalanya tentang dia. Andai dia dijadikan soal UN niscaya sang pelaku lulus dengan nilai tertinggi. Tau banget soalnya hehe..

Konsekuensi dari hal di atas juga membuat seseorang dapat dengan mudah menangkap suatu maksud yang tersirat lewat bahasa tubuh atau bahasa kiasan. Tanpa butuh penjelasan panjang, kita sudah paham maksud dari orang yang dekat dengan kita tersebut. Contohnya Nabiyullah Ibrahim dengan anaknya, Ismail. Disebutkan dalam kisah bahwa suatu hari Ibrahim hendak mengunjungi Ismail. Saat itu, Ismail sedang tak ada di rumah. Hanya istrinya saja yang ada. Begitu Ibrahim datang dan menyapa, istrinya spontan malah bercerita kalau hidupnya sengsara selama menikah dengan Ismail. Ibrahim hanya diam mendengarkan. Kemudian menitip pesan kepada Ismail via mantunya tersebut untuk mengganti palang pintu di depan rumah.

Begitu Ismail pulang, sang Istri pun menyampaikan pesan sang mertua yakni meminta ismail mengganti palang pintu depan rumahnya. Dan Ismail pun sontak menjawab

“Ketahuilah istriku, Ayah meminta aku menceraikanmu. Dan aku ikuti perintah Ayahku”.

Jreng jreng. Cuma pakai istilah ‘palang pintu’ aja ternyata Ismail sudah paham maksud ayahnya. Padahal sejarah menyebutkan antara Ibrahim dan Ismail jarang bertemu. Kok bisa Ismail paham bahasa kode-kodean dari sang AYAH? Padahal ia bukan anggota intelijen. Itu karena hubungan yang begitu kuat dan dekat hingga memahami bahasa yang tersirat.

Ayah pengembara memiliki tugas agar mampu mengikat hati anak meskipun terpisah jarak. Sehingga tak membutuhkan banyak bahasa agar mudah dipahami anak. Jika sebelumnya dibahas bagaimana ayah sebisa mungkin mengetahui keadaan anak, maka tugas ayah berikutnya membuat anak mengetahui keadaan ayahnya. Fresh dan Up to date. Layaknya berita, anak butuh informasi yang aktual, tajam dan terpercaya tentang ayahnya. Hal ini menjadikan mereka serasa dekat dengan ayah meski jarak memisahkan raga. Kondisi dimana anak mengetahui keadaan ayah secara up to date inilah yang mengikat hati mereka. Membuat mereka merasa istimewa. Sebab semua anak memiliki karakter yang sama : ingin menjadi penerima informasi pertama dalam segala hal. Terlebih mengenai ayahnya. Itulah kenapa permainan bisik-bisik begitu disuka. Sebab mereka merasa sebagai pihak yang lebih utama dapat info dibandingkan yang lainnya.

Cara agar anak mengetahui keadaan ayahnya yang jauh mengembara adalah dengan kebiasaan berbagi cerita yang diinisiasi oleh ayah. Bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi. Memanfaatkan media sosial atau messenger yang menjamur saat ini. Cukup rekam kejadian yang ayah alami dalam sebuah video singkat ditambah narasi yang indah plus suara berat layaknya penyiar TVRI tahun 80 an, lalu kirim via WA atau BBM, dapat menjadi sarana yang membuat anak mendapatkan berita spesial tentang ayahnya.

Jangan sering-sering kirim foto selfie ayah. Anak tidak butuh itu. Apalagi jika foto yang dikirim adalah pose ayah dengan mulut dimonyongin dan jari telunjuk di depan bibir. Percayalah, anak bisa trauma menerima kabar ayah. Bahkan suudzhon, jangan-jangan ayah selama ini pergi keluar jadi penonton acara dahsyat yang dikontrak setahun gak boleh pulang. Habis Ayah alay banget sih.

Sekali lagi, bukan gambar ayah yang dibutuhkan anak, namun cerita yang dialami ayah sehari-hari yang anak harapkan. Jika ayah tak bisa mengirim berita karena sedang fakir kuota, maka simpanlah video tersebut dan bisa ditonton bersama-sama saat ayah tiba di rumah. Ditambah cerita lainnya yang tak sempat terekam kamera.

Membagi cerita selama pengembaraan ayah akan menjadi hiburan seru bagi anak-anak melebihi kartun naruto atau upin ipin. Cerita ayah dengan segala pernak-perniknya menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah kepada anak-anak di Madinah selepas dari medan jihad. Menyisakan cerita yang bisa dibagi kepada setiap anak. Hingga setiap anak di Madinah merasa medan jihad yang diceritakan Rasulullah sebagai sesuatu yang dirindukan. Mereka ingin ikut juga merasakannya

Cerita yang dikemas dengan teknik penyampaian yang oke akan jadi oleh-oleh terbaik bagi anak. Hingga mereka pun membayangkan seandainya bisa ikut mengembara bersama Ayah. Sosok ayah menjadi teramat dirindukan bukan sekedar fisiknya. Namun cerita yang dialami ayah pun menjadi bagian yang dirindukan. Agar tak ada lagi anak yang menjawab saat ditanya tentang ayahnya dengan kalimat “Au ah gelap”. Sebab cerita tentang ayah masih gelap dan samar bagi mereka. Kelak mereka akan menjawab dengan lugas ketika ditanya orang lain tentang ayahnya, “mau episode yang mana?”. Sebab bagi mereka kisah ayah adalah untaian rindu yang tak pernah ada akhirnya #eaaa (Tamat)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "BERBAGI CERITA (seri tulisan AYAH PENGEMBARA bag.3)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI