QS. Al-Ma’arij (Bag. 3)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

5. Kelima, menjaga amanat

”Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”. (QS. Al-Ma’ârij: 26)

Betapa sulit saat ini menemukan orang yang mau menjaga amanah. Justru, yang terjadi kebanyakan orang berlomba mencari kekuasaan, tanpa menyadari hal itu merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, kelak. Maka yang terjadi mereka kemudian mengkhianati amanah tersebut. Cenderung menggunakannya sebagai jalan untuk memperkaya diri dan memuaskan syahwat kekuasaan serta popularitas. Selain itu, semakin sulit baginya untuk menepati janji dan komitmennya pada orang lain, masyarakat yang mempercayainya.

6. Keenam, menyampaikan persaksian yang benar

”Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya”.(QS. Al-Ma’ârij: 33)

Memberikan persaksian palsu merupakan salah satu dosa besar yang dibenci dan murkai Allah. Sayangnya, hal ini seolah menjadi sesuatu yang lumrah bila kita perhatikan dalam banyak kasus persidangan yang ada di negeri kita. Terutama dalam kasus-kasus penyuapan dan korupsi serta segala sesuatu yang berhubungan dan berada dalam lingkaran harta dan kekuasaan

Ejekan-Ejekan Kebodohan

Saat Nabi Muhammad saw memberikan taushiyah tentang syurga dan menjanjikannya untuk orang-orang yang mau beriman dan bersabar menghadapi teror orang-orang kafir Makkah. Justru kuffar Makkah mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan, merekalah yang akan merasakan syurga terlebih dahulu. Di dunia saja –seperti anggapan mereka- harta mereka melimpah dan hidup mereka serba tercukupi secara berlebihan . Maka Allah pun menurunkan jawaban dari ejekan tersebut ([13]).

”Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani)”. (QS. Al-Ma’ârij: 38-39)

Kebodohan yang mereka lakukan itu  tak lain karena hati mereka telah tersumbat oleh kedengkian dan kesombongan yang berlebihan, serta gengsi sosial yang mereka pertahankan. Meskipun sebenarnya hati nurani mereka mengakui kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Saatnya Kembali Mengenali Diri Sendiri

Kembali ke dua penyakit dasar manusia, kikir dan suka mengeluh.  Dua penangkal pertama merupakan terapi canggih, selain empat hal yang melengkapinya setelah itu.

Shalat yang dikerjakan secara tetap diiringi kualitas yang tinggi (kepasrahan dan khusyu’). Kemudian sadaqah yang dihiasi kualitas keikhlasan dan kesadaran serta rasa tawadhu`. Keduanya berada dalam bingkai `kebutuhan` bukan kebiasaan. Karena kebiasaan manusia kadang mengalami perubahan bersama pembatas hidup yang bernama waktu. Namun, kebutuhan bila ditinggalkan akan berakibat ketimpangan. Setidaknya keseimbangan dan kontrol kehidupan manusia menjadi terganggu.

Seseorang bila menganggap shalat atau shadaqah merupakan sebuah kebiasaan lambat-laun ia akan kehilangan rasa `nikmat`nya. Hanya sekedar rutinitas saja. Bila ditinggalkannya, ia takkan merasakan kecuali hanya mengurangi sebuah kebiasaan. Namun, bila keduanya dijadikan sebuah kebutuhan, maka bila ia meninggalkannya merupakan sebuah bencana yang akan berpengaruh bagi keseimbangan hidupnya. Dan karena ia telah sangat merasakan kenikmatan mi`raj bersama Tuhannya. Kenikmatan menjadi distributor rizki Ar-Razzaq bagi hamba-hamba-Nya yang lemah, sebagai refleksi rasa syukur yang dalam. Karena itu ia memiliki empati yang tinggi.

Setelah itu, akankah ia masih berkeluh kesah? Dari apa? Ia telah menemukan segalanya. Barang siapa menemukan Allah akan menemukan segalanya. Barang siapa kehilangan Allah akan kehilangan segalanya termasuk dirinya sendiri dan akan senantiasa berkeluh kesah.

Ibnu Atha`illah as-Sakandary ([14]) berkata, ”Jangan engkau merasa heran atas terjadinya kesulitan selama engkau berada di dunia, sebab memang begitulah yang patut terjadi dan menjadi karakter asli dunia” ([15]). Maka, seorang mukmin akan menyikapinya dengan bersabar. Senada dengan pesan Umar bin Khattab, ”Bila engkau bersabar, maka hukum Allah tetap berlaku dan engkau mendapatkan pahala atasnya. Namun, bila engkau tak bersabar, maka ketentuan Allah tetap berlaku dan engkau berdosa karenanya”.

Setelah itu akankah ia masih teramat kikir? Demi dan untuk apa? Ia telah merasakan tenangnya kehidupan di bawah naungan ridho-Nya. Ia sangat menyayangi kaum lemah dan miskin. Ia sangat cemas bila tiada lagi seseorang yang mau menerima shadaqahnya. Syukurnya dibalas Allah dengan berlipat kebahagiaan yang tak terhitung nominal materi. Satu juta, seratus juta, satu milyar, jutaan milyar; ketenangan dari langit itu tak ada yang menjualnya. Karunia kebahagiaan tersebut merupakan balasan cuma-cuma  bagi mereka yang ikhlas dalam syukurnya.

Terlebih kemudian ia lengkapi dengan keyakinan hari pembalasan. Cara pandang dekatnya `hari pasti` tersebut dapat menyadarkan manusia akan kedatangannya sewaktu-waktu bahkan sampai ia sendiri tidak –sama sekali- memperkirakannya. Sedang bagi mereka yang menganggapnya jauh akan cenderung santai dan berbuat semaunya. Padahal Allah telah mengatakan “Aku takkan mengumpulkan dua ketakutan dan dua ketenangan dalam diri hamba-Ku. Jika ia takut kepada-Ku di dunia maka ia akan tenang kelak di akhirat. Dan jika ia merasa tenang di dunia maka kelak ia akan ketakutan di akhirat” (al-hadits al-qudsy). WalLâhu al-Musta’ân.

—————————————————————————–

([1]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd Qader, Ma’alim Suar al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, Cet.I, 2004M/1424H, Vol. 2, hal. 697

([2]) seperti dikisahkan Allah dalam surat al-Baqarahayat 259

([3]) lihat (QS. al-Kahfi: 25)

([4]) lihat (QS. Al-Ma’arij: 04)

([5]) lihat (QS. As-Sajdah: 05)

([6]) kikir bisa diartikan terlambat menyukuri nikmat atau tidak mau menyukurinya sama sekali. Biasanya karena takut kehilangan nikmat atau tak ingin orang lain mengetahuinya. Hal ini karena ia merasa memilikinya. (akar katanya bisa dilihat dalam Kamus Lisanul Arab, karya Ibnu Manzhur, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 2003 M/1423 H, Vol. VIII, hal. 528)

([7]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Cairo: al-Maktabah al-Qayyimah, Vol. IV, hal. 546

([8]) Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy, al-`Imân wa al-Hayâh, Cairo: Maktabah Wahbah, 2007 M/1428 H, hal. 234. Selain itu bisa dilihat dalam surat al-Isrâ` ayat 100 dan surat an-Nisâ` ayat 128.

([9]) Ibnu Hajar al-’Asqalany, Fathul Bâri bi Syarhi Shahih al-Bukhary, Cairo: Darul Hadits, Cet.I, 1998 M/1419 H,Vol.II, hal. 232

([10]) Seorang shufi, pakar bahasa dan ahli fikih dari Naisaburi (Asia Tengah) yang wafat pada tahun 537 H.

([11]) Tesis penulis, Kitab Lawami’ al-Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi-Ma’any al-Qur’an, Cairo: Universitas Al-Azhar, 2006 M, Vol.II, hal. 707

([12]) Imam Ibnu Katsir, Tasfir al-Qur’an al-’Azhim, Op.Cit, Vol. IV, hal. 300

([13]) Al-Qur’an dan Terjemahnya, Madinah: Majma’ Malik al-Fahd li Thiba’ati al-Mushaf asy-Syarif, 1415 H, hal 975, catatan kaki 1515.

([14]) Seorang alim dari Mesir, kelahiran Alexandria tahun 1250 M/ 648 H. Beliau menulis buku lebih dari 20 karya. Dan Kitab al-Hikam adalah pesan-pesan penuh hikmah yang menjadi magnum opusnya, sebuah karya monumental yang dibaca dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

([15]) Ibnu Atha`illah as-Sakandary, Kitab Al-Hikam, (terj. Dr. Ismail Ba’adillah), Jakarta: Khatulistiwa Press. Cet.II, 2008, hal. 36

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...