QS. al-Jin (Bag.1)

Dr. Saiful Bahri, M.A.

Mukaddimah: Duka yang Terobati

Saat Ummul Mu`minin Ibunda Khadijah ra. wafat, demikian juga Abu Thalib meninggal; Rasulullah saw. sangat bersedih. Orang-orang yang selama ini mendukungnya, membela dakwahnya kini sudah tak lagi di sisinya. Istrinya yang setia. Pamannya yang rela berkorban untuknya, meski akhirnya menghembuskan nafas terakhir masih dalam kondisi tak mengimani risalahnya. Mungkin inilah yang semakin membuatnya bersedih. Pengikut dakwahnya pun tak bertambah secara signifikan. Dan Rasul saw akhirnya berpikir untuk mencari suaka, dukungan dakwah ke kabilah Bani Tsaqif yang mendiami kota Tha`if.

Rasul pun kemudian membidik para pemuka kaum. Beliau mendakwahi tiga pemuka Bani Tsaqif yang bersaudara; yaitu: Yalil bin Amru, Mas’ud bin Amru dan Hubaib bin Amru. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Ishaq.

Namun, respon yang diterima Rasul saw. sangat tidak terduga, tak seperti yang diharapkannya. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak seraya mengejek dan mengolok-olok Rasulullah. Yalil mengatakan, ”Jika engkau benar utusan Allah, aku akan segera sobek kiswah pintu ka’bah”. Saudaranya Mas’ud tak kalah pedasnya, ”Apa tak ada orang selain kamu yang diutus Tuhan untuk manusia”. Bahkan Hubaib menolak berbicara lagi dengan Nabi Muhammad saw. Ketiganya tak hanya mendustakannya, tapi mereka mengerahkan seluruh Bani Tsaqif. Anak kecil, laki-laki dan perempuan, tua dan muda untuk keluar melempari dan mengusir Rasulullas saw. Rasul pun meninggalkan Thaif dalam kondisi terluka. Baik fisik, apalagi psikisnya; sangat tercabik-cabik. Dalam kondisi demikian tawaran malaikat untuk menimpakan gunung kepada orang-orang yang menyakitinya dengan arif dan bijak ditolaknya. Karena beliau masih berharap kelak keturunan mereka mau percaya dan mengimani risalahnya.

Kemudian, beliau meneruskan perjalanan. Sehingga sampai di sebuah lembah beliau shalat dan berdoa.

”Tuhanku, aku keluhkan kepada-Mu kelemahan diriku, kekuranganku dalam menyelesaikan masalah-masalahku, dan ketidakberdayaanku di depan makar-makar manusia, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Engkau Tuhan orang-orang tertindas. Wahai Tuhanku, kepada siapa lagi aku menyandarkan urusanku. Apakah kepada orang yang tak peduli padaku, ataukah kepada orang yang aku tak bisa serahkan urusanku padanya …”([1]).

Rasul pun meneruskan munajatnya. Beliau membaca ayat-ayat al-Qur’an dalam shalatnya. Hingga ada jin yang sedang lewat di lembah itu mendengarnya dengan seksama. Kemudian semakin banyak jin-jin yang mendengarnya. Atas izin Allah, Rasul pun bisa mendengar dan melihat mereka. Dan peristiwa ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam sebuah surat yang kemudian diturunkan kepada beliau. Surat al-Jin.

Surat al-Jin ini diturunkan Allah di Makkah setelah Surat al-A’râf ([2]) .

Dinamakan dengan surat al-Jin karena memuat dan menyebutkan beberapa kondisi jin, sikap mereka, perbincangan sesama mereka serta hubungan mereka dengan manusia, sampai menjelaskan pencurian yang dilakukan sebagian mereka terhadap berita-berita ghaib di langit ([ 3]).

Jin-jin pun Mendengarkan al-Qur’an dan Takjub Padanya

Mari kita dengar pengakuan mereka, ”Katakanlah (hai Muhammad): telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan”. (QS. 72: 1)

Jika saja para jin pun mengakui dan takjub ketika mendengar al-Qur’an maka bagaimana manusia memungkiri dan mendustakan al-Qur’an. Padahal al-Qur’an disampaikan dengan bijak. Dijelaskan dan bahkan ketika diturunkan, mereka –kaum Quraisy- ada di sekeliling Nabi Muhammad saw. Karena al-Qur’an merupakan mukjizat Allah yang diberikan kepada Rasul saw. Karena al-Qur’an bukan perkataan manusia juga bukan pula perkataan jin. Tapi wahyu dari Allah yang memuat berbagai aturan dan pedoman hidup.

Dengan sepenuh fitrah jin-jin yang mendengar al-Qur’an pun mengimaninya. Yaitu al-Qur’an, ”(yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak” (QS. 72: 2-3)

Dan Nabi Muhammad tak perlu bersedih. Jika di Makkah beliau dimusuhi. Tatkala ke Thaif pun beliau bahkan disakiti dan dilukai. Maka Allah tunjukkan kekuasaan dan kemahaannya. Jin-jin pun tunduk dan khusyuk mendengarkan bacaan al-Qur’an beliau. Mendengarkan dakwah beliau dan kemudian mengimaninya. Bahkan sebagian dari mereka melanjutkan dakwah ini ke kaumnya sesama jin, menjadi penyambung lidah Rasul saw. Setidaknya dengan pemberitahuan ini Rasul pun semakin mantap meneruskan dakwahnya. Dan karena memang kehidupan ini adalah perjuangan yang tak pernah lepas dari rintangan ([4]). Maka bukan saatnya bersedih, apalagi menyerah di depan rintangan hidup.

Mereka pun sadar akan kekafiran sebagian dari mereka yang mendurhakai Allah. Bahkan dengan tuduhan-tuduhan yang melampaui batas. ”Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah”. (QS. 72: 4). Sebagaimana manusia, sebagian jin juga tidak mau beriman bahkan kafir. Mereka mengatakan Allah sama seperti mereka memiliki istri dan anak serta keturunan.

Betapa terkejutnya jin-jin yang baik yang telah tersentuh dakwah Rasulullah saw itu. Sebelumnya mereka mengira bahwa kaum mereka bisa dengan mudah menerima dakwah ini. Dan yang terjadi justru sebaliknya, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah saw.

📌Dengarlah penuturan mereka, ”Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah”. (QS. 72: 5) Bahwa realitanya, baik jin ataupun manusia selalu saja di antara mereka para pembangkang dan pendusta nabi dan risalah Allah yang di utus untuk mereka. Sebagaimana karakter makhluk-makhluk Allah yang memang selalu ada yang memusuhi utusannya baik dari kalangan jin maupun dari jenis manusia ([5]).

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

0 Response to "QS. al-Jin (Bag.1)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI