Larangan Jual Beli Sesuatu Yang Tidak Dimiliki (Bai’ Ma’dum) (bag. 2)

Pemateri: Ust. Rikza Maulan, Lc., M.Ag

Materi sebelumnya bisa dibuka di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2016/02/larangan-jual-beli-sesuatu-yang-tidak.html?m=1

Jenis-Jenis Bai’ Ma’dum
dan Hukumnya.

1. Jenis (المعدوم الموصوف في الذمة)

Yaitu jual beli barang yang belum ada, namun spesifikasinya jelas dan keberadaannya dalam jaminan penjual.

Ulama sepakat bai’ ma’dum jenis yang pertama, diperbolehkan, selama secara kebiasaan umum keberadaan objek yang diperjualbelikan bisa dipastikan keberadaannya.

Contohnya adalah seperti jual beli kendaraan secara inden, jual beli elektronik, gadget, secara inden, dsb.

Dalam timbangan syariah, jual beli seperti ini disebut dengan bai’ salam.

Atau contoh bentuk lainnya adalah jual beli dengan pesanan pembuatan terlebih dahulu, seperti jas yang dijahit sesuai ukuran pembeli, jual beli lemari dengan ukuran dan model tertentu, renovasi rumah, dsb.

Dalam syariah  jual beli seperti ini disebut dengan bai’ istishna’.

2. Jenis  (بيع معدوم تبع للموجود وإن كان أكثر منه)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, namun mengikuti yang sudah ada, meskipun kemungkinan tidak adanya lebih banyak dari keberadaannya.

Nah dalam hal ini, ulama berbeda pendapat sebagian membolehkannya namun sebagian lainnya tidak memperbolehkannya.

Yang memperbolehkan karena beranggapan masih bisa masuk dalam kategori bai’ salam, seperti membeli buah-buahan setelah melihat hasil buah yang pertama dan secara logika umumnya, dapat menghasilkan buah-buahan dengan kualitas yang sama.

Yang tidak memperbolehkan adalah karena menganggap, unsur ghararnya lebih dominan dan apabila diterapkan dalam objek lainnya, maka akan tererumus pada bai’ gharar yang diharamkan.

Contohnya seperti jual beli anak hewan, yang belum lahir dan belum ada dalam kandungan induknya.

3. Jenis (بيع المعدوم الذي لا يدرى يحصل أو لا يحصل)

Yaitu jual beli yang objeknya tidak ada, dan tidak diketahui apakah keberadaannya akan ada atau tidak ada.

Ulama sepakat akan haramnya jual beli ma’dum jenis yang ketiga ini. Karena sudah jelas ke ghararannya dan juga karena tidak bisa diserah terimakan serta berpotensi besar menimbulkan unsur penipuan di dalamnya.

Termasuk di dalamnya adalah jual beli sebagaimana digambarkan di dalam hadits utama di atas, yaitu seorang penjual datang lalu membeli barang yang tidak dimilikinya, kemudian ia pergi ke pasar untuk membelinya, lalu ia menjualnya kepada pembeli tersebut.

Jual beli seperti ini adalah termasuk yang dilarang, berdasarkan nash hadits di atas.

Illat (Penyebab) Larangan Dalam Bai’ Ma’dum

Ulama sepakat, bahwa illat atau musabab pelarangan bai’ ma’dum adalah karena adanya unsur gharar (ketidakjelasan), pada objek akad yang ditransaksikan, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian pada salah satu pihak atau bahkan kepada kedua belah pihak yang berakad.

Dan sebagai catatannya, ternyata ulama memandang pelarangannya adalah bukan karena tidak beradaannya, namun karena ghararnya.

Karena bisa jadi barang yang ditransaksikan belum ada, namun keberadaannya bisa dipastikan secara logika umum dan ada jaminan dari keberadaannya.

Jika demikian maka hukumnya menjadi boleh.

Jika kita melihat jenis-jenis ba'i al ma'dum yang dilarang dan jenis ba'i al ma'dum yang diperbolehkan, maka akan dapat disimpulkan bahwa segala objek yang dilarang diperjual-belikan, pada umumnya keberadaan objeknya tidak pasti dan tidak diketahui; apakah akan ada atau tidak ada.

Sedangkan sebaliknya segala objek yang diperbolehkan dalam bai’ ma’dum ini, umumnya keberadaannya lebih bisa dipastikan, walaupun terkadang tidak ada pada saat akad.

Sehingga kaidah yang berlaku dalam ba'i al ma'dum adalah:

Segala yang tidak ada dan tidak dapat direalisasi kan keberadaannya di masa datang maka tidak boleh diperjual-belikan.

Dan segala yang tidak ada namun keberadaannya dapat direalisasikan di masa datang, sesuai dengan kebiasaan maka boleh diperjual-belikan.🔑🌟

Maraji’

Al-Syaukani, Al-Alamah Muhammad bin Ali. Nailul Authar, Min Ahadits Sayyidil Akhyar, 1996. Beirut : Dar Al-Khair.

Al-Zuhayli, Syekh Wahbah. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, 1996. Damaskus ; Dar Al-Fikr

والله تعالى أعلى وأعلم بالصوبا
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...