Bolehkah Shalat Dengan Pakaian Ada Noda Air Mani?

Oleh: Farid Nu'man Hasan, SS

Pertanyaan:

Assalamu'alaykum, ustadz ada pertanyaan

Ada pertanyaan ust. dr tmn.grup sblh.
 Seandainya kita dalam posisi kerja ya ustadz terus kita tidur dan mimpi basah .. Trus kita sholat subuh nih apa sholat kita sah? Krn keadaan tdk membawa baju ganti
 mksdx tmn:
 Iya mandi besar .. Tapi yg ana maksud kan pakaian ana ga ganti sedangkan di mani itu kan ada najisnya jd sah apa tdk kalau ana sholat tp pakaian nya ga ganti?
Azam I5

Jawaban:

Wa 'alaikujussakam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du:

Apa itu air mani?

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah  mengatakan:

هُوَ الْمَاءُ الْغَلِيظُ الدَّافِقُ الَّذِي يَخْرُجُ عِنْدَ اشْتِدَادِ الشَّهْوَةِ

Itu adalah air kental yang hangat yang keluar ketika begitu kuatnya syahwat. (Al Mughni, 1/197)

Lebih rinci lagi disebutkan dalam kitab Dustur Al ‘Ulama:

الْمَنِيُّ هُوَ الْمَاءُ الأْبْيَضُ الَّذِي يَنْكَسِرُ الذَّكَرُ بَعْدَ خُرُوجِهِ وَيَتَوَلَّدُ مِنْهُ الْوَلَدُ

Air mani adalah air berwarna putih yang membuat   kemaluan lemas setelah keluarnya, dan terbentuknya bayi adalah berasal darinya. (Dustur Al ‘Ulama, 3/361)

Apa perbedaannya dengan madzi?

Imam An Nawawi menjelaskan:

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ أَنَّ الْمَنِيَّ يَخْرُجُ بِشَهْوَةٍ مَعَ الْفُتُورِ عَقِيبَهُ ، وَأَمَّا الْمَذْيُ فَيَخْرُجُ عَنْ شَهْوَةٍ لاَ بِشَهْوَةٍ وَلاَ يَعْقُبُهُ فُتُورٌ

Perbedaan antara madzi dan mani adalah, bahwa mani keluar dibarengi dengan syahwat dan keadaan lemas setelah keluarnya, ada pun madzi bisa keluar dengan syahwat dan tanpa syahwat, dan tidak membuat lemas setelah keluarnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/141,Fathul Qadir, 1/42)

Suci atau Najis?

Para ulama berselisih tentang kenajisannya, tetapi yang lebih kuat adalah suci, namun dianjurkan untuk mencuci atau mengeriknya jika terkena olehnya, apalagi jika akan digunakan untuk shalat.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ذهب بعض العلماء إلى القول بنجاسته والظاهر أنه طاهر، ولكن يستحب غسله إذا كان رطبا، وفركه إن كان يابسا

Sebagian ulama berpendapat bahwa mani adalah najis, yang benar adalah dia suci, tetapi dianjurkan untuk mencucinya jika masih basah, dan mengeriknya jika dia kering. (Fiqhus Sunnah, 1/27)

Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan najis, ini juga menjadi pendapat Abu Hurairah, Hasan Al Bashri, dan lainnya.  Alasannya:

Hadits dari Sulaiman bin Yasar, katanya:

 سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَتْ كُنْتُ أَغْسِلُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِي ثَوْبِهِ بُقَعُ الْمَاءِ

Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang air mani yang mengenai pakaian, beliau berkata: “Aku pernah mencucinya dari pakaian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia keluar untuk shalat, dan bekas cuciannya masih ada di pakaiannya.” (HR. Bukhari No. 230, Muslim No. 289, ini menurut lafaz Bukhari)

 Menurut kelompok ini, sangat jelas bahwa mani adalah najis, sebab tidak mungkin dicuci jika bukan najis. Disebutkan dalam  beberapa kitab:

وَجْهُ الدَّلاَلَةِ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَدْ غَسَلَتِ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْغُسْل شَأْنُ النَّجَاسَاتِ وَأَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ عَلِمَ بِهَذَا فَأَقَرَّهُ وَلَمْ يَقُل لَهَا أَنَّهُ طَاهِرٌ وَلأِنَّهُ خَارِجٌ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ فَكَانَ نَجِسًا كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ

📌Sisi pendalilan dari hadits ini adalah bahwa ‘Asiyah Radhiallahu ‘Anha telah mencuci mani dari pakaian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kebiasaan mencuci itu terjadi pada hal-hal yang najis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tahu hal itu dan menyetujuinya, dan Beliau tidak mengatakan suci, disamping itu karena mani keluar dari salah satu di antara dua jalan (dua jalan: dubur dan kemaluan), maka dia najis seperti najis-najis lainnya. (Bada’i Shana’i, 1/60,Tabyinul Haqaiq, 1/71, Al Binayah ‘alal Hidayah, 1/722, Intishar Al Faqir As Saalik, Hal. 256)

Dalil lainnya adalah hadits:

يا عمار إنما يغسل الثوب من خمس من الغائط والبول والقيء والدم والمني

📌Wahai ‘Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Az Zaila’i Rahimahullah menyebutkan:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ إنْ رَأَيْته فَاغْسِلْهُ ، وَإِلَّا فَاغْسِلْ الثَّوْبَ كُلَّهُ ، وَعَنْ الْحَسَنِ الْمَنِيُّ بِمَنْزِلَةِ الْبَوْلِ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu tentang mani yang mengenai pakaian: Jika saya melihatnya maka saya akan mencucinya, jika tidak maka saya akan cuci semua bagiannya. Dari Al Hasan Al Bashri: ari mani sama kedudukannya dengan kencing. (Tabyinul Haqaiq, 1/337)

Ulama lain mengatakan mani adalah suci, dan ini menjadi pendapat Syafi’iyah, Hambaliyah, Imam Asy Syaukani, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Alasan mereka adalah hadits ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha di atas bahwa Beliau mencuci air mani tidak berarti mani itu najis, tetapi sekedar kotor saja, sebagaimana pakaian yang terkena dahak, debu, dan semisalnya. “Mencuci” tidak selalu karena ada najisnya, sebab aktifitas mencuci biasanya akan dilakukan terhadap benda-benda yang dianggap sudah kotor atau kena kotoran. Ditambah lagi, pencucian itu adalah inisiatif ‘Aisyah sebagai istrinya yang memang biasa mencuci pakaian suaminya, bukan atas perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jikalau najis tentu Allah dan RasulNya akan menerangkannya, bukan melalui penafsiran  perbuatan ‘Aisyah.

 Alasan lain adalah  dari Ibnu Abbas ketika  Rasulullah Shallalalhu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang mani, beliau bersabda:

إنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ وَالْبُزَاقِ وَإِنَّمَا يَكْفِيكَ أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ بِإِذْخِرَةٍ

“Itu hanyalah sebagaimana ingus dan ludah, kamu cukup mengelapnya dengan sehelai kain  atau dedaunan.” (HR. Ad Daruquthni, 1/124)

                Imam Ad Daruquthni berkata:

لَمْ يَرْفَعْهُ غَيْرُ إِسْحَاقَ الأَزْرَقِ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ ابْنُ أَبِى لَيْلَى ثِقَةٌ فِى حِفْظِهِ شَىْءٌ

Tidak ada yang memarfu’kan selain Ishaq Al Azraq, dari Syarik, dari Muhammad bin Abdirrahman, dia adalah Ibnu Abi Laila, terpercaya namun hafalannya bermasalah.  (Ibid)

                Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengutip dari para ulama:

قَالُوا : وَهَذَا لَا يَقْدَحُ ؛ لِأَنَّ إسْحَاقَ بْنَ يُوسُفَ الْأَزْرَقَ أَحَدُ الْأَئِمَّةِ

“Mereka mengatakan: Hal itu tidaklah menodainya, sebab Ishaq bin Yusuf al Azraq adalah salah seorang Imam.”   (Fatawa Al Kubra, 1/409)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:

وَهَذَا لَا يَضُرُّ ؛ لِأَنَّ إِسْحَاقَ إمَامٌ مُخَرَّجٌ عَنْهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ فَيُقْبَل رَفْعُهُ وَزِيَادَتُهُ

“Hal itu tidak masalah, karena Ishaq adalah seorang Imam, riwayatnya dipakai dalam shahihain (Bukhari-Muslim) maka dapat diterima permarfu’annya dan tambahannya.” (Nailul Authar, 1/65)

Dengan kata lain, hadits di atas maqbul (dapat diterima) kemarfu’annya sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[1]

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:

قال الشافعي : « المني ليس بنجس ، لأن الله جل ثناؤه ، أكرم من أن يبتدئ خلق من كرمه ، وجعل منهم النبيين ، والصديقين ، والشهداء ، والصالحين ، وأهل جنته

“Mani bukanlah najis, karena Allah Ta’ala telah memuliakannya dengan permulaan penciptaan, darinya pula diciptakan para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin, dan penduduk surga.”  (Imam Al Baihaqi, Ma’alim As Sunan wal Atsar No. 1349)

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengatakan:

وَقَالَتْ الشَّافِعِيَّةُ : الْمَنِيُّ طَاهِرٌ ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَى طَهَارَتِهِ بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ قَالُوا : وَأَحَادِيثُ غَسْلِهِ مَحْمُولَةٌ عَلَى النَّدْبِ ، وَلَيْسَ الْغَسْلُ دَلِيلُ النَّجَاسَةِ ، فَقَدْ يَكُونُ لِأَجْلِ النَّظَافَةِ وَإِزَالَةِ الدَّرَنِ وَنَحْوِهِ ؛ قَالُوا : وَتَشْبِيهُهُ بِالْبُزَاقِ وَالْمُخَاطِ دَلِيلُ طَهَارَتِهِ أَيْضًا

Golongan Asy Syafi’iyyah mengatakan, “Mani adalah suci,” mereka berdalil tentang kesuciannya berdasarkan hadits-hadits tersebut. Mereka mengatakan: ‘Hadits-hadits yang menunjukkan mencuci mani mengandung arti anjuran, bukan berarti mencuci adalah dalil atas kenajisannya, melainkan sekedar membersihkan dan menghilangkan sesuatu yang kotor dan lainnya. Mereka mengatakan: “Diserupakannya mani dengan ludah dan ingus juga merupakan dalil atas kesuciannya.”(Subulus Salam, 1/38)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

أَنَّ النَّاسَ لَا يَزَالُونَ يَحْتَلِمُونَ فِي الْمَنَامِ فَتُصِيبُ الْجَنَابَةُ أَبْدَانَهُمْ وَثِيَابَهُمْ فَلَوْ كَانَ الْغُسْلُ وَاجِبًا لَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِهِ مَعَ أَنَّهُ لَمْ يَأْمُرْ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ بِغَسْلِ مَا أَصَابَهُ مِنْ مَنِيٍّ لَا فِي بَدَنِهِ وَلَا فِي ثِيَابِهِ وَقَدْ أَمَرَ الْحَائِضَ أَنْ تَغْسِلَ دَمَ الْحَيْضِ مِنْ ثَوْبِهَا وَمَعْلُومٌ أَنَّ إصَابَةَ الْجَنَابَةِ ثِيَابَ النَّاسِ أَكْثَرُ مِنْ إصَابَةِ دَمِ الْحَيْضِ ثِيَابَ النِّسَاءِ فَكَيْفَ يُبَيِّنُ هَذَا لِلْحَائِضِ وَيَتْرُكُ بَيَانَ ذَلِكَ الْحُكْمِ الْعَامِّ ؟          

“Sesungguhnya para sahabat senantiasa bermimpi (basah), maka badan dan pakaian mereka mengalami junub (kena mani), seandainya mencuci itu wajib maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti akan memerintahkannya, namun nyatanya tidak satu pun dari kaum muslimin yang diperintahkan untuk mencuci mani yang mengenai badan dan pakaian mereka. Beliau telah memerintahkan wanita haid untuk mencuci darah haid yang ada pada pakaian. Telah diketahui bahwa pakaian manusia yang kena junub (mani) adalah lebih banyak dibanding darah haid yang mengenai pakaian wanita. Maka,  bagaimana bisa hal ini dijelaskan kepada wanita haid, namun tidak bahas hukum  tersebut dalam hal ini?” (Majmu’ Al Fatawa, 20/369)

Selain itu hadits yang berbunyi:

يا عمار إنما يغسل الثوب من خمس من الغائط والبول والقيء والدم والمني

Wahai ‘Ammar, sesungguhnya pakaian dicuci karena lima hal: tinja, kencing, muntah, dan darah, dan mani. (HR. Ad Daruquthni, 1/127)

Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena kedhaifannya. Berkata Imam Ad Daruquthni:

لم يروه غير ثابت بن حماد وهو ضعيف جدا وإبراهيم وثابت ضعيفان

Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini selain Tsabit bin Hammad, dan dia sangat dhaif. Dan,  Ibrahim dan Tsabit adalah dua orang yang dhaif. (Sunan Ad Daruquthni, 1/127)

Imam Asy Syaukani mengatakan: “Hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena telah mencapai derajat dhaif.” (Sailul Jarar, 1/24)

Imam An Nawawi juga menyebutkan kedhaifan hadits ini, katanya:

قال البيهقى هو حديث باطل لا أصل له وبين ضعفه الدارقطني والبيهقى

Berkata Al Baihaqi, hadits ini batil, tidak ada dasarnya, dan kedhaifannya telah dijelaskan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/549)

Dengan demikian, pandangan yang lebih kuat adalah yang menyebutkan bahwa air mani adalah suci, mengimgat tidak ada dalil yang shahih dan sharih/lugas yang menyatakan kenajisannya. Sehingga tetap boleh menggunaannya dalam shalat. Namun, tetap dianjurkan baginya membersihkan dahulu atau mengganti saja dengan pakaian yang lebih baik.

Wallahu A'lam

***

[1] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits tersebut hanya mauqufsebagai ucapan (fatwa) Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bukan marfu’ :

وَأَنَا أَقُولُ: أَمَّا هَذِهِ الْفُتْيَا فَهِيَ ثَابِتَةٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَبْلَهُ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، ذَكَرَ ذَلِكَ عَنْهُمَا الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ فِي كُتُبِهِمْ، وَأَمَّا رَفْعُهُ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمُنْكَرٌ بَاطِلٌ، لَا أَصْلَ لَهُ؛ لِأَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ رَوَوْهُ عَنْ شَرِيكٍ مَوْقُوفًا.

Saya katakan: fatwa ini adalah tsabit (pasti) dari Ibnu Abbas, dan sebelumnya dari Sa’d bin Abi Waqqash, hal itu disebutkan oleh Asy Syafi’i dan selainnya dalam kitab-kitab mereka. Ada pun memarfu’kan hadits ini sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah munkar, dan tidak ada dasarnya, karena semua manusia meriwayatkannya dari Syarik secara mauquf. (Fatawa Al Kubra, 1/408)

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...