Bab Larangan Jual Beli Hutang Dengan Hutang

Oleh: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

باب النهي عن بيع الدين بالدين

Silahkan buka materi sebelumnya di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2016/02/bab-larangan-jual-beli-hutang-dengan.html

2. Menjual hutang secara tunai pada saat transaksi.

Ulama membagi jual beli hutang secara tunai, menjadi dua bagian, yaitu :

a. بيع الدين للمدين - Menjual piutang kepada pihak yang berhutang.

Kebanyakan ahli fiqih dari empat madzhab memperbolehkan menjual piutang atau menghibahkan piutang kepada orang yang berhutang.

Karena penghalang dari sahnya menjual piutang dengan hutang adalah karena ketidakmampuan menyerahkan objek akad.

Sementara dalam jual beli piutang kepada orang yang berhutang di sini, tidak diperlukan lagi penyerahterimaan objek akad, karena piutang sudah ada pada orang yang meminjamnya sehingga sudah diserah terimakan dengan sendirinya.

Contohnya adalah orang yang memberikan pinjaman (الدائن), menjual piutangnya yang ada pada peminjam (المدين) dengan harga dari sesuatu yang bukan sejenis piutangnya.

Namun, berbeda dengan jumhur Ulama, Madzhab Zhahiriyah berperdapat bahwa menjual piutang kepada orang yang berhutang adalah tidak sah, karena jual beli ini mengandung unsur gharar.

Dalam hal ini Ibnu Hazam berkata, ‘karena jual beli ini termasuk jual beli barang yang tidak diketahui dan tidak jelas barangnya.

Inilah yang disebut dengan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

b. بيع الدين لغير المدين - Menjual hutang kepada orang lain yang bukan merupakan orang yang berhutang.

Dalam hal ini terdapat dua pendapat.

#1. Mahdzhab Hanafi, Hambali dan Zhahiri mengatakan bahwa oleh karena pada dasarnya tidak boleh menjual barang yang tidak bisa diserah terimakan, maka menjual piutang kepada orang lain yang bukan berhutang adalah tidak boleh.

Sebab piutang tidak bisa diserahkan kecuali kepada orang yang berhutang itu sendiri.
Karena piutang adalah ibarat dari harta yang ada dalam tanggungan seseorang secara hukum, atau ibarat dari mengalihkan hak kepemilikan dan menyertakannya.

Kedua hal tersebut tidak bisa diserahkan oleh penjual kepada pihak lain yang bukan berhutang.

#2. Sementara Madzhab Syafi’i dan Maliki berpendapat bahwa boleh menjual piutang kepada orang lain yang tidak berhutang apabila memenuhi delapan syarat berikut:

a. Jual beli tidak mengakibatkan pada pelanggaran syariah, seperti  riba, gharar, atau sejenisnya.

b. Piutang harus dijual dengan harga tunai agar terhindar dari hukum jual beli piutang yang dilarang.

c. Harga harus berupa sesuatu yang bukan sejenis piutang yang dijual atau sejenisnya tetapi harus ada persamaan jumlahnya agar tidak terjebak dengan jual beli riba yang haram.

d. Harga tidak boleh berupa emas, jika piutang yang dijual adalah perak agar tidak terjadi jual beli uang dengan uang yang tidak tunai, tanpa diserahkan keduanya.

e. Adanya dugaan kuat untuk mendapatkan piutang (dilunasinya hutang), seperti kemungkinan hadirnya orang yang berhutang di tempat dilaksanakannya akad guna mengetahui kondisinya, apakah ia memiliki dana atau tidak.

f. Orang yang berhutang harus mengakui hutangnya agar ia tidak mengingkarinya setelah itu. Maka oleh karenanya tidak diperbolehkan menjual hak milik yang disengketakan.

g. Orang yang berhutang adalah orang yang layak untuk membayar hutangnya; atau debitur bukanlah orang yang tidak mampu atau bukan orang yang terhalang. Hal ini untuk memastikan agar ia bisa menyerahterimakan barang atau hutang.

h. Tidak adanya konflik antara pembeli dan orang yang berhutang seingga pembeli tidak dirugikan, atau agar debitur tidak dirugikan dalam bentuk memberi peluang kepada sengketanya untuk merugikannya.

Hukum Bai’ Dain

Dalam jual beli dain (sebagaimana pembahasan di atas), ada rukun dan syarat yang harus dipenuhi, agar jual beli tersebut menjadi sah, terutama terkait dengan objek akadnya.

Objek akad yang ditransaksikan haruslah merupakan objek yang jelas, baik jenisnya, bentuknya, jumlahnya, spesifikasinya dan sebagainya.

Apabila terjadi ketidakjelasan pada objek akadnya, maka akan menjadikan transaksinya tidak sah.
Seperti jual beli tanah, namun tidak ditentukan tanah yang mana. Jika demikian, maka transaksi jual beli tanah tersebut menjadi tidak sah.

🔹 Illat utama dari bai’ dain adalah karena dua hal :

- Gharar (ada unsur ketidakjelasan pada objek akad)

- Adamul qudrah alat taslim (tidak dapat diserah-terimakan pada saat berlangsungnya akad)

والله تعالى أعلى وأعلم بالصواب
والحمد لله رب العالمين

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

0 Response to "Bab Larangan Jual Beli Hutang Dengan Hutang"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI