AYAH PENGEMBARA (bagian 1)

Pemateri: Ustadz BENDRI JAISYURRAHMAN @ajobendri

Awalnya saya ingin memberi judul tulisan berseri kali ini “Ayah Berkelana”. Tapi urung. Khawatir ada yang iseng nanya : Ayah berkelana panjang atau berkelana pendek? Huft..Itu bercelana wooy!
Lagipula khawatir jika judulnya “ayah berkelana” mengundang nostalgia bagi para fans nya bang haji roma. Ujung-ujungnya mereka bertanya kapan roma dan ani bersatu? Akankah ada sekuel kisah cinta mereka sebagaimana Rangga dan Cinta yang terpisah hingga berpuluh-puluh purnama? Jadi repot kan? Hehe.
Maka, biarkanlah saya ubah judul tulisan ini jadi “ayah pengembara” yang selalu riang serta gembira sebagaimana lagu tasya. Huft, plesetan lagi...Itu mah ayah penggembala.

Siapa yang dimaksud dengan ayah pengembara?

Ini adalah kisah ayah yang banyak menghabiskan waktunya di luar rumah karena tuntutan tugas. Ada yang berhari-hari di lautan, lepas pantai atau perbatasan negara. Atau dipindahtugaskan ke luar daerah hingga terpaksa harus terpisah dari keluarga hingga berbulan-bulan. Namun tak menghalangi keinginan untuk tetap mengurus anaknya meskipun dari kejauhan.
Jauh dari anak bukan menjadi penghalang bagi ayah untuk mendidik anak mereka. Sebab sejarah membuktikan bagaimana Ibrahim sosok ayah teladan sukses mendidik anaknya menjadi nabi yakni Ishaq dan Ismail. Padahal beliau pulang setahun sekali. Atau kisah seorang tabiĆ­n yang bernama Farukh. Meninggalkan anak dan istrinya hingga 30 tahun lamanya. Dan ternyata anaknya menjadi salah satu ulama besar yang bernama Rabi’ah Ar Ra’yi. Guru dari beberapa ulama semisal Imam Malik, Sufyan Tsauri dan yang lainnya.

Hal ini menandakan ayah masih bisa berkontribusi terhadap tumbuh kembang anak meskipun jauh terpisah hingga rentang waktu yang lama. Apalagi bagi ayah yang sekedar pekerja kantoran dengan label angkatan 59. Berangkat jam 5 pulang jam 9. Upaya mendidik anak berkualitas masih amat mungkin diupayakan.

Yang jelas disini, peran ayah mengasuh beda dengan cara ibu. Ayah mengasuh jangan diartikan ayah yang harus stay setiap saat di rumah. Sambil buka bisnis online atau jualan tup***are dan or***ame via dunia maya. Sesekali mention teman di jejaring sosial media, “hei Sis, cek IG aku yuk” Justru ini menimbulkan kecurigaan. Jangan-jangan ayah anggota ISIS. Kok sering banget nyebut “hey Sis”? Sekali lagi, bukan begitu cara ayah mengasuh. Ayah tetaplah sosok yang harus aktif di luar rumah. Untuk apa? Memberikan inspirasi anak agar siap menghadapi persaingan di luar dan berkompetisi yang sehat. Dengan demikian figur ayah menjadi inspirator tentang upaya pencapaian prestasi sekaligus keberanian dalam mengarungi kehidupan.

Tinggal masalahnya, apa yang harus ayah lakukan agar kesibukan di dunia luar tetap menjadi sosok yang mempesona batin anak? Maka, beberapa seri ke depan saya akan mengulas bagaimana menjadi sosok ayah pengembara yang bertanggungjawab terhadap urusan pengasuhan anak.

Dalam hal ini, saya coba urai dimensi pengasuhan ayah yang terbagi menjadi dua :
1.   Dimensi Persepsi
2.   Dimensi Stimulan

Persepsi yang dimaksud disini terkait dengan sosok ayah yang meskipun sibuk di luar tetap dipersepsikan sebagai ayah yang bertanggung jawab, peduli urusan keluarga dan siap berkorban bagi anak-anaknya. Jika persepsi anak rusak tentang ayahnya, menganggap ayah sosok yang jahat, menyeramkan, gak peduli hingga timbul kebencian dalam diri mereka, inilah awal penyimpangan perilaku mereka. Bagi anak lelaki berpeluang menjadi gay. Sebab kebencian terhadap ayah berujung kepada penolakan akan hakikat dirinya sebagai lelaki. Dan bagi anak anak perempuan, mereka pun berpeluang menjadi lesbi. Bahagia jika dunia ini tak ada lelaki. Lah? Trus yang benerin atap genteng kalau bocor siapa? Hehe...Semua bermula dari persepsi buruk akan ayah sebagai lelaki pertama yang dikenal dalam hidup mereka.

Sementara, yang dimaksud stimulan adalah kelelakian seorang ayah yang harus ditransfer dalam pribadi anak. Meliputi ketegasan, keberanian dan kemampuan mengambil keputusan. Anak-anak butuh stimulan ayah yang tak bisa digantikan oleh ibu. Dan meskipun jauh di sela kesibukan bertugas, ayah masih bisa menjalankan peran ini, insyaAllah.

Dua hal inilah yang harus diupayakan oleh ayah pengembara. Produktif di luar dan tetap memberikan kontribusi pengasuhan bagi anak mereka. Kelak ketika anak tumbuh dewasa, tanpa sungkan ia akan menyebut ayahnya sebagai pahlawan baginya. Melebihi figur spiderman, superman, salesman ataupun hanoman. Dua yang terakhir itu adalah superhero buatan indonesia, kayaknya. Yang dibutuhkan anak kita saat ini adalah pahlawan baru. Namanya fatherman. Lelaki yang mampu berperan jadi ayah dimanapun ia berada. Semoga Anda salah satunya

 (bersambung pekan depan, insyaa Allah)

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

0 Response to "AYAH PENGEMBARA (bagian 1)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI