QS. Al-Haqqoh (Bag. 1)

Oleh: Dr. Saiful Bahri, M.A

Mukaddimah: Benar-Benar Akan Terjadi

Surat Al-Hâqqah termasuk surat makkiyah yang diturunkan di Makkah, tak lama setelah Surat al-Mulk. Al-Hâqqah ([1]) salah satu nama hari kiamat yang artinya hari yang benar-benar pasti terjadi. Merupakan bentuk subyek dari kata ”haqqa” ([2]). Ada beberapa nama hari kiamat yang lain, di antaranya:  Al-Waqi’ah (yang pasti terjadi), as-Sâ’ah (yang sudah ditentukan), al-Qâri’ah(yang menggetarkan hati), al-Qiyâmah   dan al-Ba’ts (hari kebangkitan), at-Taghâbun (ditampakkan amal-amal manusia) dan lain-lain.

Tema utama surat ini adalah menguatkan keimanan terhadap hari kiamat dan adanya hari pembalasan serta pengukuhan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad saw. Sekaligus difungsikan sebagai pedoman hidup bagi manusia yang mau mengikuti petunjuk-Nya ([3]).

Dalam surat ini nama Al-Hâqqah, al-Qâri’ah dan al-Wâqi’ah disebut secara berurutan. Penyebutan Al-Hâqqah dan al-Wâqi’ah yang artinya berdekatan untuk merasakan suasana hari kiamat. Yang pertama disebut dua kali untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Dan dalam pengisahan orang-orang terdahulu disebut al-Qari’ah untuk untuk menimbulkan efek psikis yang dikiaskan secara bertingkat. Mereka yang mendustakan para utusan Allah dibinasakan di dunia dengan adzab yang mengerikan. Tapi itu tak seberapa bila dibandingkan dengan ngeri dan dahsyatnya hari kiamat. Maka konteks hal tersebut sangat menggetarkan hati([4]). Kalau Ath-Thariq (bukan nama surat) asal katanya ­tharaqa  secara bahasa berarti mengetuk (dengan ketukan kecil), tapi al-Qâri’ah asal katanya qara’a (artinya mengetuk atau melubangi). Dalam bahasa keseharian lebih sering digunakan tharaqa. Karena qara’a bisa juga diartikan ketukan yang menakutkan, mengejutkan atau membuat cemas.

”Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” (QS. 69: 1-3)

Cara pengambaran seperti ini sering digunakan sebagai mukaddimah sebuah pemberitahuan Allah untuk hal-hal yang ghaib yang akan dikabarkan Allah pada Nabi Muhammad saw, juga kaum mukminin secara umum.

Bila kita lihat struktur surat al-Hâqqah, mugkin kita berpikiran seharusnya ayat ke-13 diletakkan langsung setelah tiga ayat pertama sebagai jawabannya. Namun, justru Allah memilih mengisahkan terlebih dahulu nasib dan kesudahan yang dialami kaum terdahulu yang mendustakan para utusannya. Juga mendustakan adanya hari kiamat, hari kebangkitan dan pembalasan. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari penceritaan Allah tersebut.

Kaum Ad, Tsamud, Fir’aun dan tentaranya, serta para pendusta sebelum mereka seperti kaum Nabi Nuh as. Allah meminta kita membayangkan sejenak bagaimana adzab dunia yang mereka terima.

"Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa”. (QS. 69: 5).

At-Thaghiyah adalah sesuatu yang luar biasa, di luar yang dibayangkan manusia. Asal katanya thaghâ (melampaui batas normal). Allah menghukum kaum Nabi Shalih as. ini dengan petir yang menyambar dan suara yang sangat memekakkan telinga dan menghancurkan apa saja.

”Adapun kaum ‘Ad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.  Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka”. (QS. 69: 6-8)

Allah pun menyebutkan akhir yang naas bagi Fir’aun dan kaum-kaum sebelumnya yang mendustakan utusan-Nya.

Allah pun menyebutkan akhir yang naas bagi Fir’aun dan kaum-kaum sebelumnya yang mendustakan utusan-Nya.

”Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan yang besar” (QS. 69:9).

Ibnu katsir mengartikannya secara umum: kaum-kaum terdahulu yang dimusnahkan Allah karena pendustaan yang mereka lakukan ([5]). Tapi beberapa mufassirin mengartikannya secara spesifik; yaitu kaumnya Nabi Luth ([6]). Kata yang dipilih Allah juga berbeda. ”al-khâti`ah” yaitu kesalahan fatal, yang dilakukan dengan sengaja tanpa ada niat untuk memperbaiki. Subjek (pelakunya) disebut dengan ”khâti`ûn” ([7]). Berbeda dengan kesalahan secara umum ”khata``” yang subjeknya ”mukhti`un” adalah orang yang berbuat salah tanpa unsur kesengajaan, atau dengan sengaja tapi karena lalai, atau kemudian disertai keinginan untuk memperbaiki/bertaubat. Maka kepada mereka ditimpakan hukuman dan adzab yang sangat dahsyat dan bermacam-macam.

Sangkakala Kehancuran

Maka tatkala sangkakala ditiup oleh malaikat. Mulailah hari kehancuran itu. Hari itu lebih dahsyat dari hari-hari buruk yang menimpa kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Nuh dan Luth, Kaum Madyan, Fir’aun. Hari kiamat yang lebih mengerikan.

”Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur” . (QS. 69: 13-14)

Sekali bentur saja sudah membuat bumi ini berkeping-keping. Dan langit yang selama ini menjadi atap terbelah, kemudian runtuh. Dan hari kehancuran itu membuat orang-orang hamil langsung melahirkan. Orang-orang lari mencari perlindungan, namun mereka takkan mampu mencari tempat persembunyian. Masing-masing memikirkan keselamatan dirinya. Sehingga tak ada lagi saling kenal, bahkan ibu dan anaknya, juga diantara sesama saudara dan famili.

”Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah) ”. (QS. 69: 18)

Mau bersembunyi di mana? Apa yang mereka sembunyikan. Setelah hari kehancuran itu, kemudian Allah membangkitkan semua manusia untuk mempertanggungjawabkan tingkah lakunya selama di dunia.

”Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, Bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.  Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (QS. 69: 19-24)

Balasan yang baik untuk pelaku kebaikan. Hari itu muka mereka berseri-seri, bahagia dan bangga. Karenanya mereka bangga dengan catatan amal dan prestasi mereka. Karena Allah menyematkan penghargaan tersebut di depan banyak manusia dan disaksikan para malaikatnya.

Ketika para malaikat juga orang-orang menanyai mereka mereka pun tak segan membuka rahasia keberhasilan ini. ”Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku” . Keyakinan inilah yang kemudian membawa mereka konsisten sepanjang hidup untuk memelihara stabilitas dan kualitas keimanan serta ketakwaan mereka.

Bersambung

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "QS. Al-Haqqoh (Bag. 1)"

Post a Comment