Penghujung Masa Sang Fatih - Cita yang Belum Tersampaikan

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE MPP

Kehadiran Balatentara Turki Utsmani di Otranto
28 Juli 1480

Penyerangan terhadap kota Otranto, di ujung selatan "sepatu" semenanjung Italia adalah sebuah serangan dan pendudukan terhadap daratan Italia yg diberhentikan karena wafatnya Sultan Mehmed II Fatih. Pada musim panas tahun 1480, sebuah kekuatan sejumlah 20.000 pasukan Turki Utsmani dibawah komando Gedik Ahmed Pa┼ča mendarat di selatan Italia. Fase pertama misi ini adalah menaklukan kota Otranto.

Seorang pemimpin pejuang yg tidak pernah letih untuk mempersembahkan karya terbaik dalam rentang hidupnya yang pendek namun sarat prestasi langit maupun kejayaan bumi.

Kemudian, pada hari Jum'at tanggal 20 Jumadil Awwal 885 Hijriah (28 Juli 1480) armada Turki Utsmani sebanyak 128 kapal termasuk 28 galley di dalamnya mendarat dekat kota Otranto, wilayah Neapolitan. Sebagian besar pasukan adalah mereka yg ditarik mundur dari pengepungan Pulau Rhodes. Melihat kedatangan ini, pasukan garnizun serta penduduk kota mundur ke dalam benteng kota.

Pendadakan selalu menjadi ciri khas al-Fatih muda ini. Hampir saja lawan2nya dibuat kewalahan mengantisipasi langkahnya, apalagi mengikuti denyut energinya.

Pada tanggal 11 Agustus, setelah dikepung selama 15 hari, Gedik memerintahkan untuk menyerbu paksa pertahanan benteng tersebut. Ketika dinding pertahanannya sudah jebol, pasukan Turkomi Utsmani membanjiri benteng ke seluruh penjuru kota. Perlawanan di dalam kota tidak kalah sengit hingga ke katedral serta benteng dalam. Ketika pasukan berhasil mendobarak pertahanan dadakan di katedral mereka menjumpai Uskup Agung (archbishop) Stefano Agricolo, sudah siap tempur dengan baju zirah dan salib di tangannya. Bersamanya terdapat pasukan dan Count Francesco Largo - komandan garnizunnya - beserta Uskup Stefano Pendinelli.

Pasukan yg dipersiapan Fatih tidak hanya piawai mengolah medan terbuka serta seni mengepung kota, tetapi mereka juga dituntut untuk menguasai perang kota dalam medan urban lagi berjarak tempur dekat. Ketika pedang diganti belati dan kuda menjadi tidak menungguli posisi-posisi bertahan dalam ruang tempur yg sempit.

Menurut klaim gereja Otranto, jumlah total korban mencapai 12 ribu dan 5 ribu dijadikan budak. Angka fantastis ini sekarang mendapatkan kritik tajam dari para sejarawan dan peneliti modern. Metode pencatatan sejarah kaum nasrani juga mendapat tekanan dan kritik tajam oleh sejarawan setelah masa itu berlalu. Pihak Turki Utsmani menentang keabsahan klaim jumlah korban yg begitu tinggi karena di luar kebiasaan serta aturan ketat atas penanganan tawanan dalam ketentaraam Turki Utsmani. Tulang-belulang yg selama ini menjadi basis klaim juga menunjukkan bahwa mereka bukan penduduk sipil melainkan pasukan militer.

Perang media melalui pembentukan opini terus berlangsung bahkan setelah lama waktu berlalu dan asap mesiu kelaskaran telah lama terhembus angin perdamaian. Sejarawan menjadi kombatan di medan penulisan dan pelurusan sejarah.

Namun, peneliti sejarah Italia merumuskan bahwa pasukan Turki Utsmani kala itu tidak jarang melancarkan aksi teror untuk menggelindingkan suasana panik di kalangan penduduk Italia selatan. Namun, kongres terbaru di Italia justru mempertanyakan apakah ada korban samasekali karena kebiasaan Turki Utsmani adalah menawan lawan utk mendapatkan tebusan atau keuntungan finansial dengan menjualnya ke pasar perbudakan yg masih umum ditemukan saat itu.

Agung Waspodo, mencatat pe-er untuk membaca era Fatih secara lebih komprehensif khususnya periode menjelang akhir.

Depok, 28 Juli 2015, sudah masuk malam 535 tahun kemudian..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...