Mempersiapkan Generasi Masa Depan Adalah Bagian Dari Penguatan Estafet Kebudayaan & Mencegah Perpecahan

Oleh: Ust. Agung Waspodo, SE, MPP


Pertempuran Marj-Rahit - 18 Agustus 684

Pertempuran ini dalam sejarah Islam dikenal sebagai Yawm Mardj Rāhiṭ‎ yang merupakan pertempuran pada awal Perang Fitnah Kedua yang membelah ummat Islam ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah balatentara Yaman (Kalb) yang mendukung Khilafah Umayyah pimpinan Marwan I ibn al-Hakam dan kelompok kedua adalah Banu Qays pimpinan ad-Dahhak ibn Qays al-Fihri yang mendukung 'Abdullah ibn az-Zubayr yg menjadi khalifah di Makkah. Pertempuran ini berlangsung pada hari Kamis 1 Muharam 65 Hijriah (18 August 684).

Kemenangan ini mengokohkan posisi Banu Umayyah yang dipimpin oleh Marwan I ibn al-Hakam atas wilayah Syam; yang pada akhirnya mengalahkan kekuatan yg mendukung Ibn az-Zubayr pada akhir Periode Fitnah Kedua. Namun, peristiwa ini juga meninggalkan kegetiran dan ketajaman perselisihan antara suku Qays dan Kalb yang terus menjadi sebab permasalahan sampai akhir era Khilafah Umayyah.

Latar Belakang

Ketika Mu'awiyah I ibn Abi Sufyan wafat pada tahun 680, dunia Islam tenggelam dalam pusaran konflik yang kencang. Walaupun Mu'awiyah sudah menunjuk anaknya, Yazid I ibn Mu'awiyah sebagai penerus kekhilafahan namun pilihan itu tidak mendapatkan dukungan yang bukat; terutama dari kalangan elit di Madinah yang tidak dapat menerima begitu saja estafet tersebut.

Diantara yang dianggap pantas untuk meneruskan kekhilafahan pada waktu itu adalah Husayn ibn 'Ali (ra) dan 'Abdullah ibn az-Zubayr. Husayn ibn 'Ali (ra) yang menerima dukungan dari pendukung ayahnya 'Ali ibn Abi Thalib (ra) berangkat ke Kufah untuk diangkat menjadi khalifah namun tidak kesampaian karena terbunuh oleh unsur-unsur pengadu domba pada Pertempuran di Karbala, Oktober 680. Wafatnya beliau menjadikan Ibn az-Zubayr menjadi satu-satunya tokoh yang menandingi Yazid I. Selama ia tinggal di Makkah, Ibn az-Zubayr tidak secara terang-terangan mengangkat dirinya sebagai khalifah, namun ini tidak menerima kekhalifahan Yazid I secara formal. Ia menegaskan bahwa seorang khlifah harus dipilih melalui proses syura diantara para pemimpin Suku Quraisy.

Aksi Yazid I ibn Mu'awiyah

Setelah beberapa pihak di Madinah secara terbuka mengumumkan ketidak setujuan mereka atas pengangkatan Yazid I sebagai khalifah maka hal tersebut dianggap sebagai sebuah pemberontakan. Yazid I mengirim pasukan untuk memadamkan aksi yang difolongkan sebagai pemberontakan ini. Setelah penduduk Madinah tunduk, pasukan tersebut mengepung kota Makkah. Namun, wafatnya Yazid I memaksa pasukan tersebut untuk kembali ke Syam.

Masa Mu'awiyah II yang Singkat

Kekhalifahan Yazid I kemudian diteruskan oleh anaknya, Mu'awiyah II ibn Yazid I namun tidak berlangsung lama karena ia wafat beberapa pekan kemudian. Pengakuan terhadap kekhilafahannya hanya didapatkan dari lingkar keluarganya di Syam. Wafatnya Mu'awiyah II ini meletupkan krisis baru karwna saudaranya yang lain juga masih terlalu muda untuk memimpin. Hal ini merubuhkan otoritas Umayyah di seantero dunia Islam sehingga Ibn az-Zubayr secara umum diterima sebagai pemimpin ummat.

Gubernur Irak yang pro-Umayyah yang bernama 'Ubaidallah ibn Ziyad diusir dari propinsinya dan mata uang atas nama Ibn az-Zubayr mulai dicetak. Pada saat yang sama, Banu Qays berdatangan dari bagian utara Syam dan wilayah Jazirah untuk mendukung Ibn az-Zubayr. Bahkan sebagiam keluarga Banu Umayyah sudah mempertimbangkan untuk berangkat ke Makkah untuk memberikan dukungan kepadanya.

Pada bagian tengah dan selatan Syam dukungan terhadap Banu Umayyah tetap kuat dan disokong oleh Banu Kalb yang dipimpin oleh Ibn Bahdal dan 'Ubaydallah ibn Ziyad. Melalui inisiatif mereka berdua kemudian diselenggarakan syura beberapa suku di kota Jabiyah yang mengangkat sepupu Mu'awiyah II yang bernama Marwan ibn al-Hakam sebagai kandidat khalifah. Marwan ini merupakan seorang yang loyal pada masa khalifah 'Utsman ibn 'Affan namun tidak tercatat mengambil peran pada era Mu'awiyah I ibn Abi Sufyan.

Manuver Militer

Pemilihan atas Marwan menyulut reaksi suku Qays yang memusatkan kekuatannya bersama gubernur Damaskus yang dijabat oleh ad-Dahhak ibn Qays al-Fihri. Setelah ad-Dahhak mencermati kedua pihak, akhirnya ia terpedaya untuk mendukung kelompok Ibn az-Zubayr dan mulai mengumpulkan kekuatan oerang di Marj as-Suffar, dekat Damaskus. Sebagai reaksinya, para panglima pendukung Banu Umayyah bergerak cepat menuju kota Damskus yang menyerang begitu saja setelah gerbang dibuka oleh Suku Ghassan.

Pertempuran

Kedua pasukan bentrok senjata pertama kali pada pertengahan bulan Juli 684 di sekitar padang rumput Marj as-Suffar dimana pihak Banu Qays terdesak ke daerah Marj Rahit. Bentrok senjata ringan lagi sporadis antar kedua pihak berlangsung 20 hari hingga pertempuran utama pada hari Kamis 1 Muharam 65 Hijriah (18 Agustus 684).

Jumlah kedua oihak tidak diketahui secara terperinci: ath-Thabari mencatat 6.000 pasukan Marwan, catatan lain menulis 13.000 pasukan Marwan dan 30.000 pasukan ad-Dahhak, bahkan sejarawan Ibn Khayyat menuliskan 30.000 Marwan dan 60.000 ad-Dahhak. Berapapun angka persisnya, namun mereka semua sepakat jika pasukan pembela Umayyah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan lawannya.

Komandan lapangan pasukan Marwan diserahkan kepada Abbas ibn Ziyad, Amr ibn Sa'id al-As, dan 'Ubaydallah ibn Ziyad. Dalam catatan sejarah lainnya ditemukan bahwa 'Ubaydallah ibn Ziyad memimpin pasukan berkuda dan Malik ibn Hubayra al-Skauni memimpin pasukan infanteri. Sedangkan komandan lapangan dari pihak ad-Dahhak hanya tercatat naman Ziyad ibn Amr ibn Mu'awiya al-'Uqayli.

Banyak sekali kitab yanh menulis hikmah dari kisah-kisah pertempuran, namun hampir tidak ada yang mendeskripsikan alur pertempuran. Yang sama-sama disepakati adalah kekalahan telak menimpa kelompok Ibn az-Zubayr dan ad-Dahhak sendiri gugur di medan tempur.

Agung Waspodo, yang masih mencatat benang merah peristiwa yang menjerembabkan kembali ummat dalam keterpecahan yang akut.

Depok, 20 Agustus 2015.. sedikit lewat tengah malam..

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Mempersiapkan Generasi Masa Depan Adalah Bagian Dari Penguatan Estafet Kebudayaan & Mencegah Perpecahan"

Post a Comment