Ustadzah Menjawab: Seputar Keluarga

Oleh: Ustadzah Wulandari Eka Sari

1. Pertanyaan :

Assalamualaikum ustadzah Wulan, Jika melihat beberapa lapis dalam membangun keluarga seperti yang ustadzah sampaikan sangatlah bagus dan ideal untuk semua keluarga muslim. Tapi dalam praktek di lapangan sehari-hari seringnya kita menemukan kendala-kendala terutama dalam mendidik anak-anak kita. Wa bil khusus untuk anak yang mulai menginjak remaja. Karena faktor pergaulan dan lingkungan di luar rumah mau tidak mau juga ikut andil dalam membentuk pribadi anak kita. Sekuat tenaga kita sebagai orang tua pastilah kita upayakan untuk tetap melakukan yang terbaik untuk menjaga anak kita dari pengaruh buruk pergaulannya di luar rumah. Nah yg saya mau tanyakan adalah, kiat-kiat apa atau apa yg perlu kita lakukan sebagai ortu bagi anak yang mulai remaja agar anak kita bisa tetap ada pada rule-rule yang sudah kita susun dalam mencapai keluarga muslim yang diharapkan Allah seperti yang ustadzah wulan sampaikan. (Ukhti Yani - Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal ukhti Yani di Riyadh. Kendala dalam proses pendidikan di keluarga adalah hal yang lumrah. Merupakan bagian dari kehidupan. Maka ada beberapa hal yang bisa kita siapkan agar ketika kendala menghadang, solusi bisa diperoleh.

Yang pertama : Dalam menjalani proses pendidikan keluarga kita harus selalu bersandar pada Allah. Bahwa setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, itu bagian dari penciptaan Allah. "kenakalan" tidak hanya mutlak milik anak, orang dewasa pun bisa melakukannya. Karena itu dalam upaya pendidikan keluarga, selalu ingat bahwa Allah yang punya kuasa dalam menentukan segalanya. Kita hanya berupaya.

Yang ke dua : Dalam proses pendidikan keluarga semuanya berperan, semua bisa menjadi subyek dan obyek. Anak bisa belajar dari ortu dan sebaliknya. Hal ini melahirkan rasa saling menghargai dan membutuhkan. inilah prinsip tawashowbil haq tawashowbishobr tawashowbil marhamah.

Yang ketiga : Bangun komitmen bersama melalui komunikasi yang intensif dan ramah. Mengapa al quran banyak bercerita tentang kisah-kisah? Karena berkisah adalah sarana terbaik dalam membangun komunikasi. Dengan komunikasi yang harmonis antar anggota keluarga, proses pendidikan bisa dijalankan dengan baik... Allahu a'lam bish showab.

Proses pendidikan untuk anak memiliki keunikan di tiap fase usia. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib ra, ada 3 fase yaitu usia 0-7 di mana anak ibarat raja, 7-14 anak ibarat tawanan dan di atas 14 anak adalah sahabat. Namun 3 fase itu saling berkelindan (berkaitan laksana rajutan). Bila dirasa anak usia baligh sulit diajak berkomunikasi, mungkin ada yang sempat 'miss' pada hubungan kita sebagai ortu dengan si anak di fase sebelumnya. Namun tidak ada kata terlambat utk perbaikan....

2. Pertanyaan :

Seperti apa langkah-langkah teknis yg dapat kami terapkan untuk anak umur 0-5 tahun agar kami orang tua dapat melahirkan anak-anak dengan kepribadian seperti yang di gambarkan dalam surah Al Ahzab ayat 35? ( Ummu Hisyma)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Hisyma.. Usia 0-5 tahun adalah fase penting di mana sel neuron dalam otak sangat aktif membangun jaringan. Informasi apapun yg masuk di otak anak sangat melekat. Dalam ilmu neuroscience, dalam otak ada bagian 'ketuhanan'. Di mana pada hakekatnya manusia itu mengakui keberadaan Dzat yang Maha Besar yang menguasai dirinya. Di usia ini, sangat baik dimulai dengan menstimulan pengenalan terhadap Allah. Misal ortu sering menyebut-nyebut Asmaul Husna, tilawah alQuran di dekatnya, kalau ortu memiliki bacaan al Quran yg bagus bisa juga mentalaqqi anak hafalan al Quran dan bercerita banyak kisah. Terkait perkembangan motorik kasar dan halus bisa dilakukan di rumah dan sekitarnya oleh keluarganya, misal pengenalan tubuh, alam, hal-hal di dalam dan sekitar rumah. Namun perlu diingat, pada fase ini fungsi pengembangan kognitif anak bukan prioritas. Sehingga tidak disarankan anak utk diajari membaca, menulis bila ia tidak tertarik. Stimulan dengan banyak hal yg bisa membuatnya mengenal Robbnya, RasulNya dan kondisi sekitarnya..

3. Pertanyaan

Bisa diceritakan ustdzh, pendampingan seperti apa yg ustdzh. Wulan berikan, hingga anak anak bisa terus termotivasi untuk mengambil jalannya dengan penuh kesadaran? (Ummu Ahda)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Ahda. Pendampingan seperti apa yang kami lakukan, saya sendiri merasa belum optimal dan masih terus belajar.
📌Upaya pertama yg kami lakukan adalah ada kesamaan pandang antara suami dan istri dalam menjalani proses pendidikan, sehingga bisa saling sinergi. Karena dalam pendidikan anak, ada peran ayah dan peran ibu dalam proses pendampingan tersebut. Misal ada saat di mana ayah yg harus bersikap dan berbicara. Saya sendiri kadang ada momen merasa sulit utk bisa menyampaikan maksud saya ke anak2, lalu saya komunikasikan ke suami dan beliaulah yg berbicara ke anak2. Begitu juga kadang ada momen di mana anak butuh kelembutan sikap seorang ibu.

Yang kedua, membangun komitmen bersama dengan anak adalah upaya pendampingan ortu ke anak. Kita tidak bisa mengawasi mereka 24 jam. Komitmen inilah yang menjadi kesepakatan kita.

Yang ke tiga, mereview komitmen bersama sebagai upaya menyegarkan kembali hubungan ortu dan anak.

Yang ke empat, selalu mohon kepada Allah utk penjagaanNya kepada keluarga kita.

4. Pertanyaan :

Ustadzah, bagaimana membuat kurikulum yang pas bagi putra-putri kita, agar tercapai tujuan-tujuan sebagaimana tersebut di materi? (Ummu Maryam, Riyadh)

Jawaban :
Salam kenal Ummu Maryam di Riyadh. Bila ditanyakan ke saya, sebagai praktisi Homeschooling, saya sekarang menyebutnya Familyschooling, tidak bisa menyatakan kurikulum yg pas itu seperti apa. Karena tiap manusia unik. Apa yg saya tulis di artikel ttg 10 model pembentuk pribadi muslim adalah sarana yg saya coba pakai sebagai standar. Saya sendiri membuat kurikulum bisa utk 6 bulan atau untuk setahun disesuaikan dengan masing-masing anak.

Yang kita perlukan sebagai langkah pertama dalam membuat kurikulum adalah membangun kedekatan kita dengan anak. Output dari kedekatan ini adalah pengenalan satu dengan yang lain.

Yang kedua  dengan melakukan dokumentasi misal foto, pencatatan dll yg bisa dibuat menjadi portofolio yg bisa dijadikan tolak ukur perkembangan proses pendidikan anak.

Yang ketiga, kurikulum perlu direview dengan kembali melihat tujuan dengan anak sebagai subyek. Disesuaikan dg potensi, kapasitas dan kemampuan anak.

5. Pertanyaan :

Ustadzah, mau tanya bagaimana memotivasi anak agar bersemangat dlm menghafal al qur'an dan tumbuh kecintaannya thd al qur'an atas kesadaran pribadi , bkn atas suruhan ortu.

Jawaban :
Pengenalan terhadap al Quran bisa dilakukan sejak usia dini.

Yang pertama adalah banyak berdoa khusus meminta kepada Allah agar keluarga kita dirahmati dengan al Quran. Allahummarhamna bil Qur'an, Allahumma yassirlana litilawatil Qur'an, yassir lana li hifdzil Qur'an...

📌Yang kedua, banyak menghidupkan al Quran dalam kehidupan, bisa dengan tilawah, menghafal, berkisah yg diambil dr al Quran, membaca terjemah, mendengar murottal. Bahkan di saat iman sedang lemah, tetaplah dekat dengan al Quran walaupun hanya mendengar murottal, sedikit tilawah. anak-anak yang melihat kebiasaan ini jadi terbiasa hidup dengan al Qur'an dan tidak merasa canggung...

Yang ketiga, tidak mengapa di awal anak membaca dan menghafal Qur'an atas suruhan ortu. Tentu saja kita memotivasinya dengan niat liLlah dan dengan cara yg positif. Setelah menjalaninya, insya Allah pada diri anak perlahan tumbuh rasa cintanya pada al Qur'an dan mulai berinteraksi dg al Qur'an secara mandiri... Allahu a'lam bish showab.


6. Pertanyaan :

Bagaimana caranya agar dalam mendidik anak si anak tidak merasa sebagai objek tunggal tetapi mereka melihat bahwa ortu pun termasuk dalam proyek besar pendidikan dlm keluarga itu sendiri.

Jawaban :
Dalam proses pendidikan keluarga semua anggota keluarga terlibat. Ini yang perlu dihidupkan. Mulai dari yang kecil seperti saling membangunkan pagi, membersihkan rumah hingga yang besar seperti cara mewujudkan keinginan dll. Komunikasi, walaupun sepertinya sederhana tapi ternyata merupakan batu terbesar yang sering sulit dipecahkan dalam proses harmonisasi dalam keluarga. Inilah hal yang sangat perlu dibangun sejak awal. Jangan biarkan siapapun, suami, istri atau anak bahkan ortu kita, bila masih ada, membangun impian atau cita-citanya sendiri. Tak perlu sungkan menceritakan impian kita ke orang terdekat. Maka impian anak pun kita genggam bersama. Katakan padanya, kita jalan bareng yuk menuju ke impianmu.

7. Pertanyaan :
Ustadzah Wulan, dalam mendidik anak di rumah, apa kiat Ustadzah dlm manajemen emosi menghadapi rutinitas bersama anak?

Jawaban :
Manajemen emosi memang butuh jam terbang. Kalau teringat saya dulu sering tidak mampu mengontrol emosi pada anak ketika anak masih kecil dan pemahaman saya yg masih minim, saya merasa malu dan mohon ampun kepada Allah. Itu pun karena minimnya ilmu saya. Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Kesadaran demi kesadaran Allah berikan dari kejadian-kejadian dalam kehidupan yg membuka mata saya untuk selalu move on. Rasa kesal kadang muncul baik kepada pasangan atau anak adalah hal lumrah. Namun yg membedakan kita dg org lain adalah pada cara mengendalikannya.

Yang pertama yang perlu menjadi kesadaran utama adalah tidak ada manusia sempurna. Begitu juga anak kita. Kesalahan yg dilakukannya atau hal yang tidak menyenangkan bagi kita, bukan pula hal yg diharapkannya. Karena itulah Rasul saw mengatakan bahwa kesabaran itu ada pada pukulan pertama. Ketika masalah itu muncul di hadapan kita, istighfar, bertasbih, mencoba tenang, berpikir positif dan bersikap positif.

📌Yang kedua, ajak anak utk menyelesaikan masalah bersama. Tidak melempar masalah ke pihak lain dan meminta pihak lain menyelesaikannya.

📌Yang ke tiga, utk keluar dr rutinitas yg kadang menjenuhkan kita, buatlah hal-hal yang di luar dari rutinitas kita dan buang pikiran bahwa itu akan membebani kita nantinya. Misal bila kita ingin bersantai di hari ahad, biarlah rumah berantakan, makanan apa adanya, anak-anak tidak mandi dll.. Itu hanya terjadi sehari, dan tidak akan mengubah banyak hal... asal ibadah tetap baik loh...
Allahu a'lam bi showab....

Bismillah... Tidak ada manusia sempurna kecuali Rasulullah saw.. Dalam proses pendidikan keluarga, hanya Allah yang berkehendak menentukan kita akan bagaimana. Semoga Allah mudahkan cita-cita mulia dan langkah-langkah kita... fa idza 'azamta fa tawakkal 'alaLlah...

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...