Tanya Ustadz/Ustadzah: Seputar Keluarga

Dari mba Sumi Ati member A 83

Afwan ustadzah ada yang ingin saya tanyakan.

 Ini dari seorang teman, yang sudah bersuami.  Dia bilang suaminya seringkali selingkuh suka marah-marah dengan ucapan2 kasar, dan kadang dia juga ringan tangan, tidak sholat sehingga merasa sudah tidak tahan lagi menghadapi tingkahnya

Pertanyaan dia, apakah berdosa jika dia meminta untuk cerai /Khuluq.

 Ustadzah.... syukron

Jawaban Ustadzah Indra Asih:

Asalnya seorang wanita dilarang untuk meminta dicerai.

Nabi shallallahu 'alaiahi wa sallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ سألت زوجَها طلاقاً فِي غَير مَا بَأْسٍ؛ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ

"Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga" (HR Abu Dawud no 1928, At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ

"Para wanita yang khulu' dari suaminya dan melepaskan dirinya dari suaminya, mereka itulah para wanita munafiq" (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 632)

Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu' (pisah) dari suami, di antaranya:

1. Akhlak suami yang buruk terhadap sang istri, seperti suka menghinanya atau suka memukulnya.

2. Agama sang suami yang buruk, seperti sang suami yang terlalu sering melakukan dosa-dosa, seperti minum khomr, berjudi, berzina, atau sering meninggalkan sholat, dll

Bersabar lebih baik

Memang menjadi idaman setiap wanita untuk mendapatkan suami yang shalih, yang lembut, setia, pengertian, bertutur kata halus, berimu, membimbing, bertanggungjawab dan kriteria-kriteria ideal lainnya. Namun harus diingat, saat ini kita hidup di dunia, bukan di surga. Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri pembalasan.

Sebaik-baik suami tentu tetaplah ada celah kekurangannya, dan seburuk-buruk suami tentu tetaplah ada sisi kebaikannya.

Setiap kali wanita bertemu dengan kondisi tidak ideal dalam rumah tangga yang menyusahkannya akibat perlakuan suami, maka sebaik-baik sikap adalah Shobr (tabah). Kesusahan yang dihadapi dengan Shobr karena semata-mata ingin memperoleh ridha Allah, akan menghapuskan dosa dan kesalahan seorang hamba.

Bukhari meriwayatkan
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.(H.R.Bukhari)

Terhapusnya dosa bermakna bersihnya diri. Bersihnya diri dan kesucian jiwa akan membuat seorang hamba dicinta Rabbnya. Jika seorang hamba sudah dicintai Rabbnya maka doanya akan didengar, kebutuhannya akan dipenuhi, dilindungi dari marabahaya, dan dibela jika disakiti. Boleh jdi juga dengan kedekatan kepada Allah seorang wanita bisa membuat 'keajaiban', yakni menjadi perantara suaminya menjadi orang shalih sebagaimana dirinya.

Wallahu a'lam

5 Responses to "Tanya Ustadz/Ustadzah: Seputar Keluarga"

  1. Assalamualaikum ustadzah,
    Saya mau tanya, suami saya sering sekali berkata tidak sopan, tingkahnya kadang menyinggung orang tua saya. Dia merasa dirinya selalu benar. Saya hanya diam, sebab kalau saya lawan utk membela pendapat saya. Kemarahannya akan bertambah parah. Saya cukup brsabar, hanya mengelus dada. Tapi saya pun ingin dia sadar apa yg dia lakukan tidak lah sepenuhnya benar. Tp tiap kali saya berikan pendapat selalu saja di bantahkan dan marah. Apa yang harus saya lakukan ustadzah.

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum ustadzah..
    Saya ingin bertanya, saya punya calon suami dia duda beranak satu. Tetapi anaknya tinggal bersama ibunya, calon suami saya susah sekali jika ingin bertemu dengan anaknya karna dilarang oleh nenek dari keluarga ibu. Apalagi sekarang mantan istrinya sedang sakit keras dan keadaanya tidak memungkinkan mengurus anaknya karna nenek dan kakeknya sibuk mengurus pengobatan ibunya. Padahal dari keluarga calon saya sudah mencoba memberikan bantuan tapi ditolak. Dan ayahnya dipersulitkan bertemu anaknya..
    Saya sudah memberi solusi pada calon suami saya agar datangi rumah mantan istrinya dengan kedua orangtuanya agar lebih jelas dalam menyelesaikan permasalahannya..
    Calon suami saya terlihat sangat sedih karna masalah tersebut, tapi saya selalu mensuport dia agar kuat menghadapinya. Bagaimana ya ustadzah.. Apa pendapat ustadzah tentang perlakuan keluarga mantan istrinya dan apa yang harus keluarga calon suami saya lakukan?
    Sebelumnya terimakasih jika ustadzah berkehendak menjawab pertanyaan saya.

    Wassalammu'allaikum..

    ReplyDelete
  3. Assalamualaikum ustadzah saya adalah seorang anak dari seorang ibu, ibu saya sering saya pergoki bertelfon dengan teman laki - lakinya sampai larut malam, kebetulan ayah saya tidak dirumah, saya apa yang harus saya lakukan ustadzah

    ReplyDelete
  4. Assalamualaikum ustadzah.
    Mohon maaf, saya mau tanya.
    Kalo suami sedang emosi terus keluar kata talak 3 secara spontan. Gimana hukumnya? Terima kasih?

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum ustdzah
    saya wanita yang sudah berkeluarga hampir 2 tahun dan alhamdulillah sudah punya satu putra berusia 8 bulan. Ustadzah saya mau bercerita sekaligus mohon sarannya. Saya tinggal bersama mertua saya tpi bukan mertua asli melainkan ibu angkat suami saya. Singkat cerita suatu hari beliau marah kepada suami saya dan berkata kalau suami saya diusir karena dia mau tinggal sendiri dirumahnya saya sebagai istri juga tersinggung karena sebelum kejadian itu ibu mertua saya tidak pernah bicara dengan saya pdhal tidak trjadi apa". Lalu saya mengajak suami sayang kerumah orang tua saya yg karna ortu saya dikalimantan tapi hanya sebentar suami saya tinggal dirumah orang tua saya lalu dia kembali lagi kerumah ibu angkatnya semakin lama dia tidak pernah pulang kerumah ortu saya dia juga tidak pernah menghubungi saya kalau tidak saya dulu yang menghubunginya. Dia sllu menyalahkan saya atas semua ini. Sampai akhirnya saya mengajaknya untuk mengontrak rumah tpi dia malah mengajukan syarat kalau saya harus putus hubungan dengan keluarga saya. Apa yang harus saya lakukan ustadzah??? Dari awal pernikahan saya sudah sering sakit hati dengan perkataannya yg menjelek"an keluarga saya tpi saya ttap berusaha diam tapi semakin saya diam dia makin menjadi". Alhasil hampir 2 bulan dia tidak pernah menemui saya dan anaknya. Saya bingung harus bagaimna saya ingin kembali kerumah mertua tpi secara tidak langsung saya sudah diusir ditmbah lagi semakin kesini saya tidak tahan lagi mendengar perkataan suami saya yg sangat menyakiti hati saya. Ustdzah mohon sarannya apa yang harus saya lakukan?

    ReplyDelete