SURAT AL-KAFIRUN (Bag-3)


Pemateri: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.

Pembahasan sebelumnya bisa dilihat tautan di bawah ini..

Penjelasan tentang ayat-ayat Surat Al-Kafirun berikut ini semoga memperkuat motivasi kita semua untuk mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan terus mendalaminya.

AYAT 1⃣

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

📌Katakanlah: "Hai orang-orang kafir”

“Qul” (Katakanlah wahai Rasul-Ku): adalah perintah Allah kepada beliau untuk merespon negosiasi yang dilakukan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah dan rekan-rekannya agar Rasulullah mau melakukan kompromi dan pencampuran ibadah. Sebuah respon negatif untuk mereka dan jawaban tegas berupa penolakan.

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa seruan ayat ini berlaku umum untuk semua orang kafir di muka bumi, meskipun seruan saat ayat ini diturunkan ditujukan untuk kafir Quraisy. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/507).

Beberapa ulama tafsir lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-kafirun dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang tetap dalam kekafiran mereka hingga akhir hayat, seperti yang terjadi pada Al-Walid bin Mughirah dan rekan-rekannya yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Mereka semua tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggal dalam kekafiran. (Tafsir Al-Qurthubi, Syamsuddin Al-Qurthubi, 20/226; Fathul Qadir, Asy-Syaukani, 5/619; Nazhm Ad-Durar, Al-Biqa’i, 22/3012; At-Tafsir Al-Munir, Az-Zuhaili, 30/440).

Orang-orang Quraisy di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dinyatakan kafir oleh Allah meskipun mereka mengakui dan menyatakan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, dan biasa menyebut kata Allah dalam pembicaraan mereka.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

📌Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". (QS. Al-Ankabut: 61).

Hal ini menegaskan bahwa sekadar percaya bahwa Allah adalah Maha Pencipta, apalagi sekadar percaya bahwa alam ini diciptakan tanpa keyakinan yang jelas siapa Penciptanya, maka semua itu tidak cukup untuk dikatakan beriman kepada Allah dengan benar.

Keimanan dan beragama yang benar bagi manusia yang lahir setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah dengan beribadah hanya kepada Allah dengan tata cara yang dijelaskan oleh wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui Al-Quran dan Hadits dan membenarkan semua informasi yang bersumber dari keduanya.

Dalam konteks Quraisy, awal kekafiran mereka adalah pengingkaran mereka kepada kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Seruan kepada mereka oleh Rasulullah menggunakan isim fa’il (kata sifat, pelaku) “kafirun” untuk menghinakan mereka dan mengisyaratkan bahwa:

1⃣ Rasulullah tidak pernah takut kepada mereka meskipun beliau memanggil mereka dengan “orang-orang kafir”, sebuah panggilan yang mereka pasti tidak suka. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581).

2⃣ . Bahwa negosiasi yang mereka lakukan adalah upaya pencampuran tauhid dengan syirik tanpa keraguan sedikitpun, dan momen menjawab negosiasi mereka adalah momen ketegasan, sehingga diperlukan bahasa yang tegas tentang al-furqan (garis pemisah) antara iman dengan kafir yang tidak menimbulkan kesan keraguan atau kelemahan.

3⃣ Seruan dakwah Rasulullah menggunakan bahasa yang sesuai situasi dan kondisi, termasuk dalam memanggil objek dakwah. Beliau menggunakan panggilan umum seperti “Ya Ayyuhan-Nas” (wahai manusia), atau panggilan yang mengandung penghormatan misalnya dengan menyebut suku atau kabilah mereka yang terhormat seperti “Ya Ma’syara Quraisy” (Wahai masyarakat Quraisy) atau “Ya Bani ‘Abdi Manaf” (Wahai anak keturunan Abdu Manaf), .. demi maslahat dakwah yang ingin diwujudkan tanpa melanggar larangan.

AYAT 2⃣ sampai dengan 5⃣

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Beberapa ulama tafsir memaparkan dengan penjelasan yang berbeda. Apakah AYAT 4 adalah sekadar taukid (penguat) bagi AYAT 2, begitu juga AYAT 5 bagi AYAT 3, ataukah ada fungsi dan manfaat lainnya?

📚PENJELASAN IBNU ‘ASYUR

Ada yang memandang bahwa rangkaian AYAT dari 2 sampai 5 ini memiliki fungsi yang berbeda.

Diantaranya Ibnu ‘Asyur rahimahullah yang menyimpulkan bahwa:

AYAT 2⃣ menjelaskan situasi MASA DEPAN, bahwa Rasulullah tidak akan menyembah sesembahan mereka DI WAKTU MENDATANG.

🔹 Dalilnya adalah:

Dalil bahasa Arab, bahwa huruf nafi/negasi لا (tidak) yang masuk ke dalam fi’il mudhari’ (أعبد) mengandung makna negasi di MASA DEPAN. 
Juga dapat disimpulkan dari salah satu riwayat sabab nuzul surat ini bahwa mereka menawarkan untuk lebih dahulu beribadah kepada Allah selama setahun, baru setelah itu Rasulullah beribadah menyembah berhala mereka DI TAHUN BERIKUTNYA.

Sehingga maknanya menjadi:

“Aku tidak akan (di masa datang) beribadah kepada apa yang kalian ibadahi.”

AYAT 3⃣ mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG, bahwa kalian orang-orang kafir tidak menjadi pelaku ibadah kepada Allah SAAT INI.

🔹 Dalilnya:

Dalil bahasa: Negasi atas kalimat yang berbentuk JUMLAH ISMIYAH adalah negasi untuk keadaan SAAT INI. Jumlah ismiyah adalah kalimat yang intinya diawali dengan isim (kata benda), di AYAT 3 ini isimnya adalah dhamir (kata ganti) – أنتم dimana “antum” (kalian) adalah mubtada (kata yang diterangkan), dengan KHABARnya (yang menerangkan) juga ISIM yaitu عابدون.

Juga dapat disimpulkan dari sabab nuzul bahwa mereka siap mulai menyembah Allah SAAT INI dengan syarat tahun berikutnya Rasulullah menyembah berhala mereka.

Maksudnya: kalian wahai tokoh-tokoh Quraisy tidak perlu SAAT INI menjadi pelaku ibadah menyembah Allah jika hal itu kalian lakukan dengan tujuan mencampur adukan keyakinan dan peribadatan, dan supaya tahun depan aku bergantian menyembah berhala kalian. Karena perbuatan itu tidaklah benar.

Sehingga terjemahannya akan menjadi:

“Dan kalian (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada Tuhan yang aku ibadahi.”

AYAT 4⃣ merupakan athaf bagi AYAT 3 (keduanya berkedudukan sejajar, dipisahkan dengan huruf wau) dan sama-sama berbentuk JUMLAH ISMIYAH, sehingga juga mengandung negasi untuk SAAT SEKARANG.

Sehingga maknanya menjadi:

Dan aku (saat ini) tidak menjadi pelaku ibadah kepada apa yang kalian ibadahi.

AYAT 5⃣ merupakan athaf bagi AYAT 4: berfungsi sebagai penegasan perbedaan 180 derajat antara Rasulullah dengan mereka.

AYAT 5 sebagai pengulangan dari AYAT 3: sebagai isyarat bahwa Allah dengan pengetahuan-Nya yang tak dibatasi oleh apapun telah mengetahui bahwa tokoh-tokoh Quraisy yang datang kepada Rasulullah untuk menawarkan negosiasi ini tidak akan pernah sama sekali menyembah Allah sampai akhir hayat mereka. Sekaligus ini menjadi salah satu tanda kenabian atau mu’jizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/581-583).

📚PENJELASAN ASY-SYAUKANI

🔹(Bersambung)🔹

Dipersembahkan:

💼 Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "SURAT AL-KAFIRUN (Bag-3)"

Post a Comment