Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Asma’ul Husna dan Shifat Al ‘Ulya (bag-2)


Pemateri: Ust. Farid Nu'man Hasan SS.

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut ini:

http://www.iman-islam.com/2015/12/sikap-ahlus-sunnah-terhadap-asmaul.html

1. Sikap pertama: Tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash) ......

2. Sikap Kedua: Tafwidh

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah  berkata ketika mengunggulkan madzhab salaf tentang masalah sifat-sifat Allah Ta’ala, mengatakan:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالى أسلم وأولى بالاتباع ، حسما لمادة التأويل والتعطيل ، فإن كنت ممن أسعده الله بطمأنينة الإيمان ، وأثلج صدره ببرد اليقين ، فلا تعدل به بديلا

“Kami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan ta’thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).”
(Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Sebagian orang ada yang mencela apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna ini, lantaran mereka begitu ‘memaksakan’ pendapatnya bahwa kaum salaf adalah tatsbit, tidak yang lainnya.

Sebenarnya, jika mereka mau bersabar untuk melihat ke berbagai literatur yang ada, mereka akan temukan bahwa apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna ini merupakan kesimpulan dan sikap para Imam Ahlus Sunnah sebelumnya. Sehingga tidak perlu sampai keluar celaan untuknya, yang secara tidak langsung hal itu juga celaan untuk para ulama sebelumnya.

Imam Adz Dzahabi Rahimahullah mengatakan bahwa sikap salaf terhadap Bab Sifat-Sifat Allah Ta’ala adalah tafwidh, berikut ucapannya:

فقولنا في ذلك وبابه: الاقرار، والامرار، وتفويض معناه إلى قائله الصادق المعصوم

Adapun pendapat kami tentang itu dan dalam bab ini adalah  mengakui, membiarkan, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pengucapnya yang benar dan ma’shum (Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam An Nubala, 8/105)

Begitu pula Imam Al Alusi Rahimahullah, ketika menafsirkan Surat Al An’am ayat  158:

أَوْ يَأْتِىَ بَعْضُ ءايات رَبّكَ

“Atau Kedatangan sebagian ayat Tuhanmu”

Berkata Imam Al Alusi dalam tafsir Ruhul Ma’ani:

وأنت تعلم أن المشهور من مذهب السلف عدم تأويل مثل ذلك بتقدير مضاف ونحوه بل تفويض المراد منه إلى اللطيف الخبير مع الجزم بعدم إرادة الظاهر

“Engkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab salaf adalah meniadakan takwil seperti itu, baik dengan cara menambahkan atau lainnya, tetapi (mereka) tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Al Lathiful Khabir (maksudnya Allah Ta’ala) beserta meyakininya  dengan tanpa memaknainya secara literal.” (Ruhul Ma’ani,  6/80)

Begitu pula ketika menafsiri Al A’raf ayat 54:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arys”
Berkata Imam Al Alusi:

وأنت تعلم أن المشهور من مذهب السلف في مثل ذلك تفويض المراد منه إلى الله تعالى

“Engkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab salaf dalam hal seperti ini adalah tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Allah Ta’ala.” (Ibid, 6/196)

Berkata Imam An Naisaburi dalam tafsirnya ketika menafsiri Al Maidah ayat 64:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ

“Dan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..”

وكان طريقة السلف الإيمان بها وأنها من عند الله ثم تفويض معرفتها إلى الله

“Adalah metode kaum salaf mereka mengimaninya, bahwa itu dari sisi Allah, kemudian tafwidh (menyerahkan) pengetahuan tentangnya kepada Allah.” (Tafsir An Naisaburi, 3/186)

Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri Rahimahullah mengatakan tentang makna, ‘Alal ‘Arsyistawa’ , Dia bersemayam di atas ‘arsy:

وَلِقَوْلِهِ : { عَلَى الْعَرْشِ اِسْتَوَى } مِنْ تَفْوِيضِ عِلْمِهِ إِلَيْهِ تَعَالَى وَالْإِمْسَاكِ عَنْ تَأْوِيلِهِ .

“Untuk firmanNya: ‘Ala Al ‘Arsy istawa (Dia bersemayam di atas ‘arsy), termasuk menyerahkan ilmunya kepada Allah Ta’ala, dan menahan diri dari menta’wilnya.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri,Tuhfah Al Ahwadzi Syarh Sunan At Tirmidzi, 8/160)

Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki beliau berkata:

فإِنَّ أحدًا لا يعرفُ كيفيةَ ما أخبر الله به عن نفسه ، ولا يقف على كنه ذاته وصفاته غيره ، وهذا هو الذي يجبُ تفويضُ العلم فيه إِلى الله عزَّ وجلَ

“Maka, sesungguhnya tak ada satu pun manusia yang mengetahui bagaimana caranya, tentang apa-apa yang Allah kabarkan tentang diriNya, dan tidak ada yang mengerti asalNya, DzatNya, SifatNya, selain diriNya, dan yang demikian itulah yang diwajibkan untuk menyerahkan (tafwidh) ilmu tentang hal itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Mujmal I’tiqad A’immah As Salaf,  Hal. 141)

Demikianlah.
Imam Al Alusi justru mengatakan, tafwidh baik itu tafwidhul murad (menurut istilah Imam Al Alusi ), atau tafwidhul ma’na (menurut istilah Imam Adz Dzahabi), atau tafwidhul ma’rifah (menurut istilah Imam An Naisaburi), atau tafwidhul ‘ilmi (menurut istilah Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki) yang semuanya bermakna sama yakni  menyerahkan maksud/makna/pengetahuan/ilmu tentang sifat-sifat Allah  kepada Allah Ta’ala, ternyata sebagaimana dikatakan Imam Al Alusi- itu adalah madzhab masyhur dari para ulama salaf.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun melakukan tafwidh

Disadari atau tidak, sengaja atau tidak, ternyata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga melakukan tafwidh terhadap sifat-sifat Allah Ta’ala.
Padahal tafwidh adalah pemahaman yang sangat dia benci.

Demikian katanya:

" الْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَسْمَائِهِ " الَّتِي وَصَفَ بِهَا نَفْسَهُ وَسَمَّى بِهَا نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَتَنْزِيلِهِ أَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَيْهَا وَلَا نَقْصٍ مِنْهَا وَلَا تَجَاوُزٍ لَهَا وَلَا تَفْسِيرٍ لَهَا وَلَا تَأْوِيلٍ لَهَا بِمَا يُخَالِفُ ظَاهِرَهَا وَلَا تَشْبِيهٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ ؛ وَلَا سِمَاتِ المحدثين بَلْ أَمَرُوهَا كَمَا جَاءَتْ وَرَدُّوا عِلْمَهَا إلَى قَائِلِهَا ؛ وَمَعْنَاهَا إلَى الْمُتَكَلِّمِ بِهَا . وَقَالَ بَعْضُهُمْ - وَيُرْوَى عَنْ الشَّافِعِيِّ - : " آمَنْت بِمَا جَاءَ عَنْ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اللَّهِ "

“Beriman kepada Sifat Allah Ta’ala dan NamaNya” yang telah Dia sifatkan diriNya sendiri, dan Dia namakan diriNya sendiri, di dalam KitabNya dan wahyuNya, atau atas lisan RasulNya, dengan tanpa penambahan atau pengurangan atasnya, tidak melampauinya, tidak menafsirkannya dengan apa-apa yang menyelisihi zhahirnya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan apalagi dengan pembawa berita, tetapi membiarkan sebagaimana datangnya, dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya.

Sebagian mereka berkata: -diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i- : Aku beriman dengan apa-apa yan datang dari Allah, dan yang datang dari Rasulullah Shllalalhu “Alaihi wa Sallam dengan maksud dari Rasulullah.” (Majmu’  Fatawa, 1/ 294)

Apa yang dikatakannya: “ ... dan mengembalikan ilmunya kepada yang mengucapkannya, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya.” Tak lain dan tak bukan adalah tafwidhul ilmi (menyerahkan ilmunya kepada Allah Ta’ala) dan tawidhul ma’na (menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala).

Sungguh, ini sangat jelas persamaannya. Wallahu A’lam.

Sedangkan, kita melihat adanya dua sikap dari Al Ustadz Hasan Al Banna, dia menampakkan bahwa sikap yang benar sebagaimana salaf adalah mengimani dan menetapkan sebagaimana datangnya (tatsbit), dan menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala (tafwidh), tanpa takwil dan ta’thil.

3. Sikap ketiga: Takwil (memberikan makna yang tidak mengotori kesucian Allah Ta’ala)

3. Sikap ketiga: Takwil (memberikan makna yang tidak mengotori kesucian Allah Ta’ala)

Kita akan dapati pula, bahwa sebagian salaf, mulai dari sahabat dan tabi’in juga ada yang melakukan ta’wil terhadap sifat-sifat yang disandarkan kepada Allah Ta’ala. Namun, pada generasi selanjutnya, metode ta’wil inilah yang lebih sering ditempuh oleh para ulama.
Maka boleh kita katakan, ta’wil merupakan madzhab jumhur setelah masa-masa abad-abad pertama Islam.

Ta’wil yang kita bahas di sini, bukanlah ta’wil kaum zindik yang memang telah melakukan penyimpangan terhadap makna-makna sifat Allah Ta’ala.

Sebelum saya paparkan tentang  contoh ta’wil para Imam Ahlus Sunnah, saya akan berikan rambu-rambu ta’wil, dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

Syaikh Utsaimin membagi ta’wil menjadi tiga dalam kitab,  Lum’ah al I’tiqad, Hal. 19 (saya ringkas saja):

1. Dilakukan melalui ijtihad dan niat yang baik. Maka ini dimaafkan.

2. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan memiliki argumentasi bahasa Arab, maka pelakunya fasiq, kecuali jika pendapatnya itu terdapat penguarangan atau aib terhadap Allah maka itu bias kufur.

3. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan tanpa memiliki argumentasi bahasa Arab. Keloimpok ini kufur, karena pada hakikat nya kedustaan yang tidak berdasar.

Berikut ini beberapa contoh ta’wil yang dilakukan oleh sahabat nabi dan tabi’in ridhwanullah ‘alaihim jami’an, terhadap ayat-ayat sifat

Firman Allah Ta’ala tentang ‘tangan’:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ

“Dan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..”

Ayat ini tidak mungkin dipahami sesuai teksnya, sebab membawa makna Allah Ta’ala serupa dengan makhlukNya sendiri yang tangannya terbelenggu.

Oleh karena itu, Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

ليس يعنون بذلك أن يد الله موثقةٌ، ولكنهم يقولون: إنه بخيل أمسك ما عنده، تعالى الله عما يقولون علوًّا كبيًرا.
“Maknanya bukanlah tangan Allah terikat, tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala bakhil, lantaran telah menahan apa-apa yang ada padaNya, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar.”

Sementara Qatadah Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

أما قوله:"يد الله مغلولة"، قالوا: الله بخيل غير جواد!

“Ada pun tentang firmanNya, Tangan Allah Terbelenggu, mereka mengatakan: “Allah itu bakhil tidak dermawan.” (Imam Abu Ja’afar bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 10/452-453)

Imam Ibnu Katsir telah menyebutkan, dari Ibnu Abbas tentang makna ‘terbelenggu’: yakni bakhil. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/146)

Imam Al Baghawi Rahimahullah berkomentar tentang ayat tersebut:

قال ابن عباس وعكرمة والضحاك وقتادة: إن الله تعالى كان قد بسط على اليهود حتى كانوا من أكثر الناس مالا وأخصبهم ناحية فلما عصوا الله في أمر محمد صلى الله عليه وسلم وكذبوا به كف الله عنهم ما بسط عليهم من السعة، فعند ذلك قال فنحاص بن عازوراء: يد الله مغلولة، أي: محبوسة مقبوضة عن الرزق نسبوه إلى البخل، تعالى الله عن ذلك.

“Berkata Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh Dhahak, dan Qatadah: “Sesungguhnya Allah Ta’ala begitu lapang terhadap Yahudi sampai-sampai mereka menjadi manusia yang paling banyak hartanya dan kelompok paling makmur di antara mereka. Lalu, ketika mereka mengingkari Allah dalam urusan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mendustakannya, maka Allah Ta’ala menahan buat mereka apa-apa yang dahulu Dia lapangkan, maka saat itulah Finhash bin ‘Azura berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, yaitu dikekang dan dicabut dari rezeki, mereka menyandarkanNya dengan kebakhilan.

Maha Tinggi Allah dari hal itu.” (Imam Al Baghawi, Ma’alim At Tanzil, 3/76)

Ayat lainnya:

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ

“ Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah..” (QS. Ali Imran (3): 73)

Imam Ibnu Katsir menta’wil ayat ini, katanya:

أي: الأمورُ كلها تحت تصريفه، وهو المعطي المانع، يَمُنّ على من يشاء بالإيمان والعلم والتصور التام، ويضل من يشاء ويُعمي بصره وبصيرته، ويختم على سمعه وقلبه، ويجعل على بصره غشاوة، وله الحجة والحكمة

“Yaitu semua urusan di bawah pengaturanNya. Dialah yang memberi dan menolak. Dia memberikan karunia berupa ilmu, iman, dan seluruh tindakan kepada siapa saja secara sempurna. Serta menyesatkan, membutakan penglihatannya dan mata hatinya, menutup pendengarannya dan hatinya, dan menjadikan pada pandangannya halangan, dan  Dialah yang memiliki hujjah dan hikmah.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/60)

Dalam ayat lain, yang menyebutkan sifat Wajhullah (Wajah Allah), para Imam Ahlus Sunnah pun melakukan ta’wil:

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وهكذا قوله ها هنا: { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ } أي: إلا إياه.

“Demikian juga, firmanNya di sini: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajahNya”, yaitu kecuali DiriNya” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/261)

Begitu pula Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan, tentang makna ‘Wajah Allah’:

قال: " إنما نطعمكم لوجه الله " أي لرضائه وطلب
ثوابه، ومنه قوله صلى الله عليه وسلم: (من بنى مسجدا يبتغي به وجه لله بنى الله له مثله في الجنة).

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian, hanyalah demi wajah Allah.’ Yaitu demi ridhaNya, dan mencari pahalaNya, dari itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa membangun masjid dengan mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan baginya yang seumpama itu di surga.” (Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 2/84)

Belau juga mengatakan:

 (ويبقى وجه ربك) أي ويبقى الله، فالوجه عبارة عن وجوده وذاته سبحانه، قال الشاعر: قضى على خلقه المنايا * فكل شئ سواه فاني
وهذا الذي ارتضاه المحققون من علمائنا: ابن فورك وأبو المعالي وغيرهم.
وقال ابن عباس: الوجه عبارة عنه كما قال: (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام) وقال أبو المعالي: وأما الوجه فالمراد به عند معظم أئمتنا وجود الباري تعالى، وهو الذي ارتضاه شيخنا.

“Dan Yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu, yaitu yang tersisa hanyalah Allah, wajah merupakan ibarat (perumpamaan) dari wuudNya dan ZatNya yang Maha Suci.

Berkata seorang penyair:
“Telah ditetapkan atas hambaNya kematian, Segala sesuatu selainNya adalah binasa (fana).”

Inilah yang disetujui para muhaqqiq (peneliti) dari ulama kami, seperti: Ibnu Furak, Abu Al Ma’ali, dan lainnya.

Ibnu Abbas mengatakan: Wajah merupakan ibarat dariNya, sebagaimana frmanNya: “Dan yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliann.”

Abul Ma’ali mengatakan: “Ada pun wajah maksudnya adalah menurut imam-imam besar kami adalah wujud Allah Ta’ala, dan itulah yang disetujui oleh guru kami.” (Ibid, 17/165)

Ayat lainnya:

 سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ
 
“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu Hai manusia dan jin.” (QS. Ar Rahman: 31)

Para ulama salaf pun melakukan ta’wil  atas ayat “kami akan memperhatikan” , sebab jika dipahami secara zhahir makna ‘memperhatikan’ membutuhkan alat penginderaan, dan itu mustahil bagi Allah Ta’ala.

Oleh karena itu Imam Ibnu Jarir berkata tentang ayat tersebut:

وأما تأويله : فإنه وعيد من الله لعباده وتهدد

“Ada pun ta’wilnya adalah ancaman dari Allah dan menakut-nakuti.” Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Adh Dhahak. (Jami’ul Bayan, 23/41-42)
Ayat lain:

 وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
  “ ..dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al Hadid (57): 4)

Ayat ini mesti dita’wil, sebab jika tidak, akan bertentangan dengan kalimat yang ada pada ayat itu sendiri bahwa Allah bersemayam di ‘ArysNya.

Oleh karena itu Imam Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya pun yang sangat anti ta’wil, juga menakwil ayat ini.

Ayat ini tidak berarti Allah Ta’ala secara zat ada di setiap tempat kita berada, dan tidak boleh mengartikan demikian.

Kata Imam Ibnu Jarir  takwilnya adalah:

وهو شاهد لكم أيها الناس أينما كنتم يعلمكم، ويعلم أعمالكم، ومتقلبكم ومثواكم، وهو على عرشه فوق سمواته السبع

“Dia menyaksikan kalian, wahai Manusia, dimana saja kalian berada Dia mengetahui kalian, mengetahui perbuatan kalian, lalu lalang kalian, dan di tempat tinggal kalian,dan Dia di atas ‘ArsyNya, di langit yang tujuh.” (Ibid, 23/196)

Demikianlah. Sebenarnya masih sangat banyak ta’wil yang dilakukan para ulama terhadap ayat-ayat sifat, dalam rangka menjaga kesucian sifat-sifatNya dari penakwilan menyimpang manusia.

Sikap ta’wil ini di dukung deretan para Imam kaum muslimin, seperti Imam Al Ghazali, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Al Khathabi, Imam Fakruddin Ar Razi, Imam Al Jashash, Imam As Suyuthi, Imam Al Baqillani, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Imam Izzuddin bin Abdusalam, Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Imam An Nasafi, Imam Al Bulqini, Imam Ar Rafi’i, Imam Al Baidhawi, Imam Al Amidi, Imam Al ‘Iraqi, Imam Ibnu Al ‘Arabi, Imam Al Qurthubi, Imam Al Qadhi ‘Iyadh, Imam Al Qarrafi, Imam Asy Syathibi, Imam Abu Bakar Ath Thurthusi, Imam Syahrustani, Imam Al Maziri, Imam Isfirayini, Imam Dabusi, Imam As Sarakhsi, Imam At Taftazani, Imam Al Bazdawi, Imam Ibnul Hummam, Imam Ibnu Nujaim, Imam Al Karkhi, Imam Al Kasani, Imam As Samarqandi, dan lain-lain.

Mereka inilah yang biasa disebut kaum Asy ‘ariyah. (sebenarnya saya ingin menguraikan satu-persatu bukti sikap mereka, namun ini sudah cukup mewakili)

Jika kita perhatikan, maka jumhur ulama adalah melakukan ta’wil. Namun, para ulama salaf (terdahulu), lebih sedikit melakukan ta’wil.

Ada apa dibalik ini?
Ini bisa terjadi, lantaran Islam dan Al Quran telah menyebar ke seluruh penjuru dunia yang penduduknya bukan berbahasa Arab. Sehingga, jika ayat-ayat dan hadits-hadits sifat ini   dibaca dan difahami secara literal (zhahiriyah), maka bisa menggelincirkan pemahaman orang awam yang tidak bercita rasa bahasa Arab.

Oleh karena itu, bangkitlah para ulama untuk melindungi nash-nash tersebut, dari kemungkinan tafsiran berbahaya orang-orang ‘Ajam (non Arab).

Dari sisi ini, maka sebenarnya antara salaf dan khalaf, memiliki tujuan yang sama dengan sikap mereka itu, yakni menjaga kesucian Al Quran.

Oleh karena itu, walau kita lebih condong kepada pemahaman salaf, tidak selayaknya menjadikan polemik ini sebagai ajang saling pengkafiran sesama umat Islam. sebab, para ulama yang berselisih pun tidak sampai tingkat seperti itu.

Sebab memojokkan kaum Asy’ariyah (para penakwil) dan menuduhnya keluar dari Ahlus Sunnah, sama juga memojokkan nama-nama para Imam kaum muslimin yang telah mendapat posisi penting di hati umumnya kaum muslimin.

Maka, renungkanlah!

Wallahu A’lam

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala..