Potret Kasih Sayang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam Dalam Pendidikan Anak (3)

Pemateri: Indra Asih

Materi sebelumnya dapat dibaca di:
Bag. 1: http://goo.gl/iWTkC0
Bag. 2: http://goo.gl/C268Sp

***

3. Bahagialah Memiliki Anak Perempuan

Mereka yang mempunyai anak perempuan, ada jaminan dari Allah yaitu surga dan dijauhkan dari api neraka.

Pada masa jahiliyah anak perempuan adalah aib bagi keluarganya, ketika anak perempuan lahir seketika itu langsung di kubur hidup-hidup.

Namun setelah hadirnya Islam ditengah-tengah mereka, maka Islam mengangkat derajat perempuan, dan memberi jaminan surga bagi orang tua yang ikhlas merawat anak perempuan serta menjadi dinding yang mengahalangi dari api neraka.

Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bersabda,

 “Barangsiapa mempunyai anak perempuan kemudian tidak membebaninya, tidak melemahkannya, dan tidak mengutamakan anak laki-laki atasnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
(HR Abu Dawud)

Aisyah berkata, “Seorang wanita disertai dua anak perempuannya datang meminta sesuatu dariku. Aku tidak mempunyai apa-apa selain selain buah kurma yang kuberikan kepadanya. Wanita itu kemudian membelahnya dan memberikan kepada dua anaknya, lalu pergi.
Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang, aku menceritakan hal itu.
Beliau bersabda, ‘Barangsiapa diuji dengan anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka perbuatannya itu dapat menjadi dinding yang menghalanginya dari api neraka.”
(HR Bukhari, Muslim dan Tirmidzi )

4. Mengajari Anak Ibadah Sejak Dini

Banyak riwayat yang menunjukkan bahwa cara Rasulullah mengajari anak ibadah sejak dini, dengan mengajak mereka ke masjid. Disebutkan dalam riwayat bahwa, sering kali saat beliau bermaksud memperlama shalatnya, terdengar tangis bayi yang menyebabkan beliau mengurungkan niatnya dan mempercepat shalatnya karena kasihan kepada ibu si bayi tersebut.

Ketika cucunya, Umamah putri Zainab, menangis, beliau menggendongnya sambil terus melakukan shalat. Ketika sampai pada sujud beliau meletakkannya dan kembali menggendongnya saat berdiri.
(HR Bukhari dan Muslim)

Suatu ketika beliau sedang bersujud dalam shalat. Lalu Hasan, cucu beliau, naik ke atas punggungnya. Beliau lalu memperlama sujudnya setelah selesai shalat beliau menjelaskan kepada para sahabatnya, “Cucuku naik ke atas punggungku (saat shalat). Aku tidak ingin mengangkat kepalaku sampai dia turun (dari punggungku).”
(HR Ahmad dan Nasa’i)

Di lain kesempatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang menjadi imam shalat bagi manusia maka hendaknya dia meringankan shalatnya. Sebab di antara mereka ada orang tua, anak kecil, orang yang sakit dan orang yang memiliki keperluan.”
( HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Dan kepada Mu’adz ibn Jabal yang memperlama shalat ketika menjadi imam, beliau pun menegur, “Apakah kamu ingin membuat fitnah hai Mu’adz?”
(HR Bukhari dan Muslim)

Jika kita perhatikan, hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa cara Rasulullah mengajari anak-anak dengan mengajaknya ke masjid, dengan demikian apa yang anak-anak lihat di dalam masjid adalah orang yang sedang shalat atau ibadah lainnya.

Secara tidak langsung proses pendidikan dalam mengajari anak ibadah sejak dini sangat tepat karena anak-anak langsung praktek dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya yang sedang shalat.

5. Berbahagia Mendidik Anak

Mendidik anak itu menyenangkan, hal ini dapat dirasakan oleh orang tua yang menjadikan anak sebagai anugerah besar yang Allah berikan, di samping itu juga anak yang lahir adalah amanah dari Allah, sehingga motivasi dalam mendidik anak adalah mendapatkan ridha Allah.

Cinta seorang bapak atau ibu kepada anak-anaknya diwujudkan dalam bentuk pemeliharaan, pembimbingan, pengarahan, dan pendidikan yang baik terhadap anak-anaknya. Sehingga mereka tumbuh menjadi muslim yang baik.

Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda , “Usaha seseorang mendidik anaknya pasti lebih baik dibandingkan dengan ia bersedekah satu sha’.”
(HR Tirmidzi)

Ayyub bin Musa meriwayatkan dari ayahnya, dari kakek-nya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya daripada pendidikan yang baik,”
(HR Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menaruh perhatian yang demikian besar terhadap proses pertumbuhan anak sejak kecil.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruh para orangtua memberikan pendidikan dan pengawasan yang baik agar tumbuh sifat-sifat terpuji dan sikap santun dalam diri anak.

Fase ini merupakan fase yang oleh psikologi modern dianggap penting dalam pembentukan kepribadian anak. Fase ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku dalam menghadapi kehidupan di masa selanjutnya.

Kesimpulan:

Menggambarkan sosok Muhammad sebagai teladan dalam setiap lini kehidupan, tak cukup waktu untuk menjelaskannya. Tak pernah habis menceritakan sosok Muhammad sebagai teladan yang agung.

Jika kita mampu mengambil hikmah dan mencontoh dari gambaran teladan di atas dalam mendidik anak, hal tersebut merupakan prestasi yang luar biasa.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab.