Ibu Mulia Itu, Ibunda Kita Semua

 Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَ بَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثيراً وَ نِساءً وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي تَسائَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقيباً (1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan- mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki- laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan) mempergunakan (nama- Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan) peliharalah (hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.( An-Nisaa: 1 )

Saat nabi Adam As lelap dalam tidurnya, Allah SWT ciptakan seorang perempuan. Saat ia terbangun, ia mendapati seorang perempuan anggun duduk disamping kepalanya. Para malaikat bertanya kepadanya siapakah gerangan perempuan itu? Nabi Adam AS menyebutkan namanya Hawa. Para malaikat bertanya lagi, mengapa Allah SWT menciptakannya? Dan inilah jawaban nabi Adam AS yang sangat menakjubkan “Agar dia menjadikanku nyaman/tenang dan aku menjadikannya nyaman/tenang.” Jawaban nabi Adam As ini Allah abadikan dalam surat Ar-Ruum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Perjalanan menarik selanjutnya adalah tentang tujuan diciptakannya Adam dan Hawa. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana rajinnya setan mengganggu keduanya agar mau melanggar aturan Allah SWT yaitu memakan buah yang dilarang Allah SWT. Bujuk rayu indah terus dilancarkan setan hingga ia mengatakan “sesungguhnya aku hanya memberikan nasehat untuk kalian (agar memakan buah yang dilarang).” Tidak ada kesalahan Hawa dalam peristiwa ini karena secara tegas Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang mengajak keduanya memakan buah yang dilarang adalah setan. Bukan Hawa yang mengajak Adam As.

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya...” (Al-A’raf:20)

Peristiwa selanjutnya adalah peristiwa penuh hikmah yang menjadi teladan bagi kita semua.
Apakah Adam As menyalahkan Hawa saat Allah menghukum mereka?
Apakah Hawa yang menyalahkan Adam saat Allah menghukum mereka?
Jawabannya “tidak.” Sama sekali tidak.
Bahkan keduanya saling menguatkan setelah sama-sama bertaubat kepada Allah SWT. ”

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf:23).

 Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada saling mengandalkan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Keduanya mengakui kesalahannya dan keduanya memohon ampunan kepada Allah SWT. Hawa tidak mengatakan bahwa ia hanyalah makmum dan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada imam akan tetapi ia turut bertaubat kepada Allah SWT tanpa menyalahkan siapapun. Maka Allah SWT sempurnakan ni”matNya dengan memberikan ampunan dan petunjuk kepada keduanya.

“Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (Tahaa : 122).

***

Ibu...
adalah kata yang takkan pernah habis dieja dalam kehidupan seseorang.
Ibu...
adalah kata yang selalu lekat dengan siapapun bahkan saat ia telah tiada.
Ibu....
adalah sosok yang selalu ada karena semua orang memiliki fitrah untuk mengakui dan menyayanginya.
Tanyalah anak kecil yang belum banyak melakukan dosa. Katakan padanya bahwa ia tidak memiliki ibu, ia pasti akan menangis. Karena demikianlah fitrah berada dalam jiwa setiap manusia.

Berbicara tentang ibu, tak ada teladan terbaik untuk mengenal dan mempelajari sosoknya selain kita mengamati perjalanan hidup ibunda manusia karena ia adalah ibu dari semua ibu.
Ibu hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan. Demikian nabi Adam As menjawab pertanyaan malaikat ketika mereka bertanya untuk apa Hawa diciptakan. Secara natural, sikap lembut kaum perempuan muncul untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

 Bagaimana seorang perempuan mampu menempatkan sikap lembut penuh kasihnya untuk kenyamanan dan ketenangan, sangat ditentukan oleh interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pernahkah kita melihat seorang perempuan yang bersikap dingin, kaku, tidak ramah, kurang romantis, dan  tidak pandai bersolek? Jika itu adalah anda, saudara anda atau istri anda, ketahuilah bahwa Allah SWT memberikan fitrah sama kepada setiap perempuan untuk mengoptimalkan fitrah perempuannya. Ia hanya perlu diberi wawasan, diberi bekal, diberi modal dan dibiasakan untuk menjadi perempuan sesuai fitrahnya. Karena ibunda Hawa memberi teladan bahwa ia hadir untuk membawa ketenangan dan kenyamanan.

Ibu hadir untuk menjadi mitra ayah.

Sinergi dan kekompakan Adam As dan Hawa menjadikan setan begitu iri bahkan hasad. Tak rela melihat keduanya hidup bahagia di surga, setan berusaha sekuat tenaga menggelincirkan keduanya agar kebahagiaan keduanya porak poranda. Dan hasad setan berlaku sepanjang masa, ia perlakukan sama kepada anak cucu Adam As dan Hawa. Jika hari ini banyak sekali kita dapatkan persoalan yang terjadi dalam rumah tangga kita dengan alasan apapun, maka sadarilah bahwa masalah itu akan hilang dalam waktu sesaat ketika ayah dan ibu mampu bersinergi dan kompak menghadapi masalah. Mungkin tidak diperlukan perubahan fisik tapi kadang yang diperlukan hanya cara berfikir. Menyadari bahwa sesungguhnya masalah itu bukan masalah, tetapi karena kita menganggapnya masalah maka jadilah ia masalah. Nabi Adam As dan ibunda Hawa memberi teladan akan sinergi dan kekompakan ayah ibu.

Ibu hadir untuk menguatkan ayah saat masalah melanda keluarga.

Ini bukan tentang siapa yang salah. Ketika Allah SWT memberikan hukuman/kesulitan kepada Adam As dan Hawa, tak pernah terlintas dalam fikiran ini kesalahan siapa? Akan tetapi keduanya menyadari bahwa ini masalah bersama. Maka mari sama-sama kita cari jalan keluar bersama.

“Dan mulailah keduanya menutupi aurat mereka dengan daun-daun di surga...”(Al-A’raf:22).

Ibu dan ayah perlu sama-sama kuat dan giat menghadapi masalah di keluarga. Tanpa harus berfikir siapa yang menyebabkan masalah ini muncul. Masalah seringkali menjadi semakin runcing ketika kesalahan ditumpukan kepada ayah sehingga ibu merasa di atas angin atau ditumpukan kepada ibu sehingga ia merasa sangat terpuruk. Namun ibunda Hawa memberikan teladan bahwa segera keluar dari masalah dan carilah solusi bersama.

Ibu berada di garda depan dalam memohon ampunan dan perlindungan Allah SWT.

Taubat dan do’a dilantunkan bukan hanya oleh nabi Adam As akan tetapi dilantunkan bersama ibunda Hawa. Keduanya memohon ampun kepada Allah SWT. Diluar kekompakan ayah ibu dalam berdo’a kepada Allah, do’a ibu memiliki keistimewaan tersendiri. Do’anya didengar dan dijamin Allah SWT untuk dikabulkan sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat tentang kisah do’a seorang ibu di zaman nabi Musa As.

Pada suatu ketika, Musa A.S bertanya kepada Allah Azza wa Jalla, “Ya Allah, siapa yang akan menjadi sahabatku di surga?”  Allah menjawab “Seorang tukang daging.” Musa pun terkejut mendengarnya! “Kenapa seorang tukang daging menjadi sahabatku di surga?” Kemudian dia bertanya kepada Allah “Dimana aku bisa menemukan orang ini?” Allah memberitahunya bahwa orang ini ada di tempat demikian dan demikian. Dan Musa A.S. pergi menemui tukang daging ini. Sesampainya disana, ternyata dia sedang memotong daging dagangannya. Musa A.S. berpikir “Apa yang begitu spesial tentang orang ini?” Ketika senja tiba dan dia selesai menjual daging-dagingnya, pria ini memungut sepotong daging dan membawanya pulang. Musa A.S. mulai mengikuti pria ini sampai ke rumahnya dan berkata padanya “Aku seorang pengelana. Akankah kau menerimaku sebagai tamu?” Orang itu berkata “Silahkan masuk.” Jadi dia mempersilahkan Musa A.S. ke dalam rumahnya, dan Musa A.S.mulai mengamati pria ini. Dia melihat pria ini mengambil sepotong daging yang dia bawa, kemudian mencuci dan memotongnya,  memasaknya, dan menempatkannya di atas piring. Dan dari rak yang tinggi di ruangan itu, dia mengambil sebuah keranjang dan menurunkannya. Kemudian dia mengambil kain yang basah, dan dari dalam keranjang itu ternyata ada seorang wanita tua. Kemudian dia menggendong wanita tua itu, bagaikan seseorang menggendong bayi.

Kemudian dia mengambil daging yang telah dimasaknya, dan menyuapi wanita tua itu (dalam riwayat yang lain dikatakan dia mengunyah dagingnya baru menyuapi wanita tua itu). Dan setiap kali wanita itu selesai mengunyah, dia mengambil kain yang basah dan menyeka bersih mulut wanita itu, begitu seterusnya. Ketika makanannya sudah habis, dia membersihkan mulut wanita itu, menaruhnya kembali ke dalam keranjang, dan menaruh keranjang itu kembali di rak yang tinggi. Musa A.S. menyadari bahwa setiap kali pria itu menyuapinya, wanita itu membisikinya sesuatu. Jadi dia bertanya padanya "Siapakah wanita tua itu dan apa yang dibisikkannya padamu, saudaraku?" Pria itu berkata “Dia ibuku. Aku sangat miskin sehingga tidak dapat membeli makanan untuk dimasak di rumah. Jadi aku mengambil sisa-sisa daging di tempat kerja dan membawanya ke rumah untuk dimasak Dan karena ibuku sangat tua dan lemah, sedangkan aku tidak punya uang untuk membeli budak/pembantu, jadi aku melakukannya seorang diri.” Kemudian Musa A.S. bertanya “Jadi apa yang dibisikkannya kepadamu setiap kali kau menyuapinya?” Pria itu berkata “Dia berdo’a untukku: ‘Ya Allah, jadikan anakku menjadi sahabat Musa di surga.’"

Subhanallah, inilah kekuatan do’a seorang ibu.

Ibu hadir untuk merawat, membesarkan dan membimbing anak-anaknya.

Dalam kisah lain kita mengetahui bahwa ibunda Hawa melahirkan anak yang banyak dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Riwayat menyebutkan bahwa di antara putra-putri nabi Adam As ada yang rupawan, cantik, tidak terlalu rupawan, tidak terlalu cantik, ada yang cerdas, pintar, juga tidak terlalu cerdas dan pintar. Semua membawa kepribadian masing-masing. Diantara mereka ada yang sholih solihah namun ada juga yang berbuat fujur (menyimpang).

Tidak ada ibu yang menginginkan anaknya berbuat salah atau jahat.

Seluruh ibu pasti menginginkan anak-anak yang baik, solih, solihah, cerdas, pintar dan maju. Dan setiap ibu akan berjuang demi keberhasilan anak-anaknya. Jika ada di antara anak yang tumbuh tidak sesuai dengan keinginan orang tua,  (jika ibu sudah maksimal membimbing dan merawat anaknya) maka tidak perlu kita menyalahkan ibu. Karena demikianlah Allah SWT memberikan taqdir  yang berbeda kepada setiap manusia. Yang terpenting adalah setiap ibu berusaha maksimal merawat, mendidik dan membimbing anak-anaknya.

Dan ibunda Hawa menjadi teladan bagaimana ia berusaha maksimal merawat dan mendidik anak-anaknya, walau ada diantara mereka yang tidak sesuai dengan harapan yaitu tidak taat dengan aturan Allah SWT.

***

Ibunda Hawa adalah ibu dari para ibu, yang perjalanan hidupnya Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an agar menjadi teladan untuk para ibu. Menjadi teladan bagi para ayah bagaimana berinteraksi dengan pasangan agar ia menjadi ibu yang hebat.

Ibunda Hawa adalah ibu yang mulia memberi ketenangan kepada suaminya. Namun kemuliaan itu ia dapatkan karena ia pun mendapatkan ketenangan dari suaminya.

Ibunda Hawa adalah ibu yang menyadari bahwa do’anya didengar Allah SWT. Oleh karenanya ia turut berdo’a bersama suaminya memohon ampunan dan bimbingan dari Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah ibu yang melahirkan banyak anak, merawat, mendidik dan membesarkan mereka hingga kemudian Allah SWT menetapkan takdir untuk masing-masing anaknya. Tidak ada kutukan atau sumpah serapah bagi anak yang tumbuh tidak sesuai harapan, karena bukan itu tugas seorang ibu. Kembalikan semua kepada Allah SWT.

Ibunda Hawa adalah symbol kesetaraan dan persaudaraan. Bahwa umat manusia berasal dari ibu yang satu. Tak layak seseorang atau sekelompok orang merasa lebih utama
dari yang lainnya. Tak patut manusia saling bermusuhan karena sesungguhnya mereka bersaudara.

Ibunda Hawa adalah ibu peradaban. Ibu yang tidak hanya hadir untuk anak cucunya akan tetapi hadir untuk generasi yang sangat panjang. Ibu peradaban adalah ibu yang tidak hanya siap dengan kuantitas tapi juga siap dengan kualitas.

***

Saat banyak orang merayakan hari ibu, marilah kita memaknai kembali arti kata “IBU” dengan meneladani ibunda manusia “Hawa”. Seyogyanya momen hari ibu kita jadikan momen untuk semua elemen keluarga mencoba mengejawantahkan makna kata “IBU”.

Para ibu berusaha menjadi ibu mulia seperti yang dicontohkan ibunda Hawa.
Para ayah membantu para ibu untuk menjadi ibu hebat, berkepribadian seperti ibunda Hawa.
Anak cucu meningkatkan khidmah dan perbuatan baik tak kenal lelah untuk mendapatkan ridho ibu. Menjadikan ridhonya sebagai pintu-pintu keberkahan dan kebaikan dunia dan akhirat.

Selain hari ini, hari ibu berada di sepanjang hidup kita. Kalaupun sebagian orang secara khusus menjadikan hari ini sebagai hari ibu, maka itulah hari dimana kita terus bersyukur, bermuhasabah, dan merencanakan kebaikan-kebaikan yang akan kita lakukan kepada ibu kita.

Sudahkah hari ini kita menyapa dan mendo’akan ibu kita???

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Ibu Mulia Itu, Ibunda Kita Semua"

Post a Comment