Urgensi Dua Kalimat Syahadat (Bag. 2 - Habis)

Pemateri: Ust. DR. Wido Suparaha

Materi sebelumnya bisa dibuka di link berikut:

http://www.iman-islam.com/2015/11/urgensi-dua-kalimat-syahadat-bag-1.html

3. Konsep Dasar Reformasi Total atau Gerakan Perubahan

Generasi terbaik agama ini telah mencontohkan, bagaimana begitu mereka menerima syahadatain sebagai dua persaksian penting dalam hidup mereka, mereka LANGSUNG melakukan perubahan tanpa menunggu waktu lama.

Sebuah perubahan yang sangat drastis.

Cukuplah sosok Mush’ab bin ‘Umari menjadi contoh dari begitu banyak contoh terbaik.

Sosok yang awalnya merupakan pemuda dengan gaya hidup mewah di kota Makkah, langsung berubah menjadi da’i nan sederhana, duta Rasul untuk kota Madinah, sehingga tatkala syahid menjemputnya saat perang Uhud, dibacakan ayat berikut ini kepadanya dari Surat Al-Ahzab/33 ayat 23,

"Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.

Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)"

Orang-orang yang tadinya mati hatinya tiba-tiba mendapatkan cahaya setelah menerima syahadatain, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-An’am/6 ayat 122

"Dan apakah orang yang sudah mati  kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?

Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan."

Allah Swt. juga berfirman dalam Surat Ar-Ra’d/13 ayat 11,

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya.
Dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat 'Hafazhah'.
Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka."

4. Hakikat Da’wah Para Rasul

Tauhid merupakan misi dakwah para Rasul.

Agama para Nabi adalah satu, yaitu TAUHID, sedangkan syariat bisa berbeda-beda.

Seluruh bentuk ibadah tidak diterima tanpa tauhid. Tauhid menjadi pangkal keselamatan di dunia, karena dengannya seseorang menjadi Muslim dan kemudian darah dan hartanya terlindungi.

Tauhid juga tentu menjadi pangkal keselamatan di akhirat.[12]

Sesungguhnya dakwah para Rasul adalah kepada syahadatain ini. Dengan hakikat ini, seorang Muslim akan memahami Islam sebagai pedoman hidup menyeluruh, baik untuk urusan kecil maupun besar hanya kepada Allah dan Rasulnya.

Jika demikian, maka pemahaman lengkap kita akan agama ini MENJADIKAN Islam sebagai:
- agama dan kedaulatan,
- akidan dan syari’ah,
- sistem moral dan kepemimpinan,
- jihad dan ibadah,
- dunia dan akhirat, dengan segala yang terkandung di dalam Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. [13]

Dengan motivasi yang benar dari syahadatain, seseorang akan mulai menghadirkan aktifitas-aktifitas kebaikan
- diawali memperbaiki diri sendiri,
- kemudian membentuk rumah tangga Muslim, dan
- dilanjutkan membimbing masyarakat.

Dari tiga aktifitas mendasar tersebut, maka mulailah para peyakin syahadatain meningkatkan aktifitas mereka hingga
- membebaskan tanah air dari kekuatan asing,
- memperbaiki pemerintah an,
- mewujudkan kesatuan umat Islam,
- sampai pada puncaknya memimpin dunia dengan dakwah Islamiyah ke seluruh pelosok dunia. [14]

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali ‘Imran/3 ayat 31,

"Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-An’am/6 ayat 19,

"Katakanlah:
“Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?”

Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quraan ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quraan (kepadanya).

Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.”

Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Allah Swt. berfirman dalam Surat An-Nahl/16 ayat 36,

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):

“Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut [826] itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya [827].

Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."

5. Keutamaan yang Besar

Kalimat ini selain melahir kan konsekuensi logis, juga memberikan balasan terbaik bagi para peyakinnya khususnya di akhirat kelak.

Namun adalah sesuatu yang sulit untuk meraihnya jika kalimat ini belum menyatu dalam sanubari dan keseharian kita, dan terpatri kuat dalam alam bawah sadar manusia.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud)

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

”Barangsiapa mengucap kan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

***

Maraji’

1] Abdullah Azzam, Aqidah, Landasan Pokok Membina Ummat, Jakarta: GIP, Cetakan ke-6, 1995, hlm. 19.

2] Muhammad Sa’id Salim al-Qaththany, Al-Wala’ wa al-Bara’, Jakarta: Ramadhani, Cetakan ke-4, 1994, hlm. 6.

3] Muhammad at-Tamimi, Mengungkap Kebatilan Penentang Tauhid, Jakarta: Darul Haq, 1997, hlm. 10.

4] Muhammad Sa’id Salim al-Qaththany, Al-Wala’ wa al-Bara’, hlm. 23.

5] Abu Zaid al-A’jami, Akidah Islam Menurut Empat Madzhab, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cetakan ke-2, 2014, hlm. 71.

6] Sa’id Hawwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Jakarta: GIP, Cetakan ke-3, 2005, hlm. 226.

7] Taufiq Yusuf al-Wa’iy, Fiqih Dakwah Ilallah, Jakarta: Al-I’tishom, Cetakan ke-2, 2012, hlm. 21.

8] Abdurrahman Abdul Khaliq, Dasar-dasar Dakwah Generasi Islam Pertama, Jakarta: Pustaka Al-Hidayah, Cetakan ke-2, 1993, hlm. 19.

9] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, 2004, hlm. 291.

10] Jalaluddin Muhammad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Jilid 1, Surabaya: Elba, 2010, hlm. 664.

11] Ridhwan Muhammad Ridhwan, 20 Taushiyah Hasan Al-Banna, Jakarta: Al-Farda, 2004, hlm. 157.

12] Shalah Shawi, Ats-Tsawabit Wal Mutaghayyirat, Prinsip-prinsip Gerakan Dakwah Yang Mutlak dan Fleksibel, Jakarta: Era Intermedia, 2011, hlm. 154.

13] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, Jakarta: Intermedia, Cetakan ke-2, 1998, hlm. 56.

14] Sa’id Hawwa, Membina Angkata Mujahid, Jilid 1, Jakarta: Al-Ishlahy Press, Tanpa Tahun, hlm. 61.

Dipersembahkan oleh grup WA - MANIS - MAJELIS IMAN ISLAM