Ulama yang Tidak Segan Meluruskan Sang Pemimpin, 'Ulama yang juga Panglima'

Oleh: Ust. AGUNG WASPODO, SE, MPP

Pengepungan Syracuse - Musim Gugur 827 s/d Musim Panas/Gugur 828

Pengepungan kota Syracuse pada tahun 827-828 adalah upaya pertama Daulah Aghlabiyah atas kota tersebut di Pulau Sisilia ketika ia masih merupakan provinsi Kekaisaran Byzantium. Balatentara Aghlabiyah telah mendarat beberapa bulan sebelumnya dalam rangka membantu panglima Euphemius yang terusir.

Setelah berhasil mengalahkan pasukan lokal dan menguasai benteng di Mazara (bisa melihat artikel saya sebelumnya), mereka menuju Syracuse yang merupakan ibukota pulau ini pada masa Byzantium.

Pengepungan ini berlangsung selama musim dingin antara tahum 827-828 hingga awal musim panas berikutnya. Pasukan Aghlabiyah yang mengepung menderita kerugian akibat menipisnya logistik serta menjalarnya penyakit menular; bahkan merenggut nyawa pemimpin ekspedisi tersebut yang bernama Asad ibn al-Furat.

Asad ibn al-Furat

Asad ibn al-Furat (أسد بن الفرات; 759-828) adalah seorang ahli fiqih dan tauhid yang lahir di Ifriqiyah. Keluarganya berimigrasi dari daerah Harran, Irak. Ia berkesempatan belajar dari Malik ibn Anas sang pendiri madzhab Maliki di Madinah dan belajar dari Abu Hanifah sang pendiri madzhab Hanafi di Kufah.

Setelah beliau kembali ke Ifriqiyah ia diangkat menjadi hakim di al-Qayrawan. Ia pernah konflik dengan Amir Ziyadatullah I (817-838) yang memimpin dalam kehidupan yang berlimpah. Banyak yang mengira bawha Asad ibn al-Furat mendapatkan tugas memimpin ekspedisi militer ke Sisilia ini guna menghilangkan kritik pedasnya.

Muhammad ibn Abi-l Jawari

Pimpinan ekspedisi beralih ke Mihammad ibn Abi-l Jawari setelah wafatnya Asad. Melihat posisi pasukan tidak menguntungkan setelah dihantam wabah penyakit, maka al-Jawari mengangkat kepungan atas Syracuse dan mundur ke bagian selatan pulau. Dari posisi baru itu balatentara Aghlabiyah bertahan dan melancarkan penguasaan atas pulan secara bertahap; Syracuse baru jatuh ke tangan al-Jawari setelah kembali dikepung lama antara tahun 877-878 ditandai dengan jatuhnya kota Taormia pada tahun 902.

Agung Waspodo, kembali mencatat bahwa ulama dulu berani tegas kepada umara untuk hal prinsipil, disamping itu para ulama juga adalah komandan militer yang mumpuni; tidak ada dikotomi antara ulama dan profesi-profesi lain. Telah berlalu 1.187 tahun sejak itu.

Depok, 5 September 2015.. lewat waktu isya'


Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Ulama yang Tidak Segan Meluruskan Sang Pemimpin, 'Ulama yang juga Panglima'"

Post a Comment