TIGA SIFAT UNGGULAN MANUSIA PILIHAN ALLAH SWT. (bag. 2)

Pemateri: Ust. DR. Abas Mansur Tamam


Materi sebelumnya bisa dilihat di link berikut:

http://www.iman-islam.com/2015/11/tiga-sifat-unggulan-manusia-pilihan.html

BERWAWASAN LUAS (ULIL ABSHAR):

Sifat unggulan manusia pilihan Allah yang kedua adalah memiliki wawasan yang luas (ulil abshar).

Ulil abshar artinya punya pandangan atau pengetahuan yang luas.

Sifat ini berhubungan erat dengan sifat terampil (ulil aidi). Karena antara ilmu dan amal tidak bisa dipisahkan satu sama lain, seperti dua sisi mata uang.

Seseorang disebut ulil abshar jika memiliki lima indikator sebagai berikut:

1. CERDAS (al-‘Aqlu):

Indikator paling dasar adalah cerdas (al-‘aqlu), demikian menurut Mujahid.
Ada dua jenis kecerdasan yang saling berhubungan dalam diri manusia: kecerdasan instingtif (al-aqlu al-garizi), dan
kecerdasaan hasil belajar dan pengalaman (al-aqlu al-muktasab).

A. Kecerdasaan Instingtif

Kecerdasaan instingtif artinya kecerdasaan bawaan, dimana seseorang akan mengerti tentang berbagai hal, sesuai dengan usia perkembangan kognitifnya.

Ukuran standarnya adalah memiliki kecerdasan yang normal, sehingga pada usia mumayyiz (5 sampai 7 tahun) seseorang mulai mengerti persoalan-persoalan dasar  dalam hidupnya, baik-buruk, halal-haram, perintah-larangan dan sebagainya.

Kecerdasan normal ini menjadi sebab mendapatkan beban taklif setelah seseorang beranjak dewasa.

Yaitu status hukum dimana ketentuan-ketentuan agama berlaku kepadanya serta bertanggung jawab penuh atas dirinya.

Diatas kecerdasan normal ada kecerdasan instingtif di atas rata-rata. Yaitu orang yang memiliki kecerdasan melampaui usia perkembangan kognitifnya.

Misalnya, suatu waktu Umar bin Khattab berjalan melewati kerumunan anak-anak yang sedang bermain di jalan, diantara mereka ada Abdullah bin Az-Zubair.
Anak-anak itu segera lari, tetapi Abdullah tetap diam di pinggir jalan.

Umar bertanya: “Mengapa engkau tidak ikut lari seperti teman-temanmu?”

Abdullah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak punya salah sehingga takut kepadamu, dan jalan cukup luas” (Al-Mawardi, Adabud Dunya, 12).

Contoh lain adalah Al-Ashma'i (w. 215 H) dengan seorang anak gembala padang pasir (Badwi).

Al-Ashma’i, ulama nahwu dari Basrah, bertanya kepadanya tentang bukti adanya Allah swt.

Dia menjawab dengan logika yang lugas:

”Tapak kaki unta menunjukkan ada unta yang telah lewat.
Tapak kaki manusia menunjukkan ada orang yang telah lewat.

Langit yang memiliki bintang-gemintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang bergelombang, tidakkah semua itu menunjukkan Sang Maha Mengetahui dan Bijaksana telah menciptakannya?” (Al-Izi, Al-Mawāqif, 1/151).

B. Kecerdasan Hasil Belajar

Kecerdasan instingtif jika diberdayakan dengan belajar dan pengalaman hidup akan berkembang menjadi akal muktasab.

Orang yang tidak punya kecerdasan bawaan, tidak akan cerdas untuk selamanya.

Alquran menggambarkan nya seperti seekor keledai yang membawa buku  (Al-Jumuah [62]: 5).

Meskipun telah melewati pengalaman hidup yang panjang, seorang yang safih, ideot, atau gila tetap tidak akan pintar.

Orang yang mendapatkan pembinaan yang intensif dalam hidupnya, serta melewati perjalanan hidup yang menantang, kecerdasan bawaannya akan terasah dengan baik.

Pepatah Arab mengatakan:
"Orang yang panjang usianya, kekuatan badannya berkuran kemampuhan akalnya bertambah"

Tetapi orang yang tidak mau belajar dan tidak mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya akan menjadi seorang yang bodoh (ahmaq). Yaitu orang yang usianya sudah dewasa, tapi masih kekanak-kanakan.

Orang tua seperti ini diibaratkannya oleh Wahab bin Munabbih seperti tembikar yang pecah: tidak bisa ditambal, tidak bisa diperbaiki, dan tidak bisa dikembalikan menjadi tanah kembali (Abu Hatim, Raudatul Uqala, 122).

C. Fungsi Kecerdasan

Kecerdasan memiliki dua fungsi:

Pertama, fungsi pengetahuan (kognitif) yang akan membuat seseorang mengetahui berbagai hal.
Dalam hal ini akal ibarat cahaya yang membuat seseorang mengenali kebaikan dan keburukan.

Kedua, fungsi sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) yang akan membuatnya berhenti melakukan keburukan dan semangat dalam melakukan kebaikan.

Terkait dengan fungsinya ini, orang Arab menyebut kecerdaasn itu sebagai akal (aql). Makna generiknya adalah tali yang mengendalikan seekor unta.

Karena itu tidak disebut cerdas kecuali jika daya pikirnya mampu untuk mengendalikan dirinya dari terjerat hawa nafsu.

Amir bin Abdul Qais berkata:
“Jika kecerdasan engkau mengekang engkau dari melakukan perkara yang tidak senonoh, maka engkau orang cerdas” (Al-Mawardi, Adabud Dunya, 11).

Rasulullah saw. bersabda:

الْكَيِّسُ من دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ من أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى على اللَّهِ

Artinya: “Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya dan berbuat untuk bekal setelah mati.
Orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan menadapatkan ampunan dari Allah swt.”
(Tirmizi, 4/2459, hadits hasan).

Karena itu orang yang cerdas akan membuatnya semakin dekat dengan Allah swt.

Dia mengetahui berbagai ajaran agamanya seperti perintah dan larangan Allah, mampu mengendalikan dirinya dan beramal saleh.

Di dunia mendapatkan ketinggian derajat, dan di akhirat akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah swt.

Firman Allah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (Al-Mujadilah [58]: 11).

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [48]: 13).

Indikator-indikator lain dari seorang ulil albab yang akan dibahas berikutnya, seperti memiliki wawasan Alquran, wawasan keislaman, kecerdasan dalam beragama, serta wawasan ilmu pengetahuan; semuanya memberdayakan akal muktasab ini dari berbagai aspeknya.

(Bersambung)


Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...