Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) bag-2

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Bag-1 :  http://bit.ly/1Hdd8dH


Pertempuran

Dalam rangka menghancurkan kohesivitas serta menjatuhkan semangat juang lawannya, Shalahuddin mengerahkan kesatuan musik beranggotakan pemukul gong dan cymbal, peniup terompet, serta para peneriak semboyan perang serta pekik Takbir.

Serangan berulang-ulang Ayyubi memiliki prosedur yang baku: suku Badui 'Arab dan Nubia melesatkan hujan panah dan lembing ke arah barisan lawan, mereka kemudian bergeser dalam interval untuk memberikan celah bagi pasukan panah berkuda maju sebagai serangan gelombang kedua, hingga pasukan ini kemudian bermanuver ke samping dan semuanya diulang kembali. Jika memungkinkan, maka pasukan crossbow Richard membalasa tembakan walaupun sebenarnya tugas utama mereka adalah menjaga keutuhan formasi barisan menghadapi provokasi lawan.

Ketika serbuan ini tidak membuahkan hasil maka serangan besar diarahkan kr bagian belakang kolom Pasukan Salib yang menjadi tanggung-jawab kesatuan fanatik Katholik dari ordo Hospitaller. Sayap kanan kavaleri pasukan Shalahuddin menyerang dengan dukungan infanterinya dari samping dan belakang; pasukan infanteri Hospitaller bahkan harus berjalan mundur guna menghadapi serbuan dari dua arah tersebut. Sultan Shalahuddin sendiri ikut turun dalam serbuan didampingi kedua asistennya lengkap dengan membawa kuda cadangan; beliau turun guna menyemangati pasukannya. Syaifuddin, adik sultan, juga turun tangan untuk menyemangati pasukannya; keduanya mengambil resiko besar untuk turun langsung berhadapan dengan tembakan crossbow lawan yang bertenaga.


Hospitaller Melepas Formasi

Seluruh usaha yang dilakukan Shalahuddin sepertinya tidak juga mampu membuyarkan formasi tempur lawan maupun menghentikan lajunya menuju Arsuf. Richard bertekad untuk terus menjaga kerapatan barisannya dan berharap lawan akan kehabisan tenaga dalam serangan bertubi-tubi itu. Richard juga menyiagakan pasukan kavaleri beratnya dalam barisan cadangan untuk balas menyerang pada momen yang terbaik. Lamanya ujian ketahanan itu sudah hampir tak terbendung lagi ketika mulai banyak kesatria (knight) berkuda yang kehilangan tunggangannya akibat serangan bertubi-tubi Shalahuddin; mereka ini terpaksa bergabung dengan barisan infanteri.

Ketika elemen terdepan Pasukan Salib sudah mencapai Arsuf sekitar tengah hari, sementara itu pasukan crossbow dari kesatuan Hospitaller sedang mengisi ulang anak panahnya sambil berjalan mundur. Kecapaian yang memuncak itu akhirnya membuka celah yang langsung menjadi sasaran serbuan pasukan Shalahuddin. Pada saat itu, Garnier de Nablus, Master Hosputaller, berkali-kali memohon izin untuk melancarkan serangan balasan. Ia berkali-kali ditolak dan diingatkan untuk menyerang secara serentak nanti pada aba-aba terompet yang ditiup keras enam kali.

Richard sadar bahwa untuk menjamin efektivitas serangan kavaleri beratnya maka harus menunggu sampai seluruh balatentara Shalahuddin sudah dikeluarkan ke medan laga, sudah dalam jarak dekat, dan kavaleri berpanah sudah melesatkan tembakannya. Tiga syarat yang membutuhkan nyali besar untuk tahan mendapatkannya.

Ketika pasukan berkuda Shalahuddin memperlihatkan tanda-tanda kelelahan, maka Baldwin de Carron dan master Hospitaller sudah tidak tahan lagi dan serta-merta menerobos barisan infanterinya sendiri untuk melancarkan serbuan sambil memekik "Santo George!" Melihat ini seluruh barisan berkuda Hospitaller menyusulnya, juga pasukan kavaleri Perancis yang berada satu lini di belakang Hospitaller maju menerjang tak ingin ketinggalan.


Serangan Balik Pasukan Salib

Tindakan emosional Hospitaller ini dapat mengancam rencana Richard secara keseluruhan. Semarah-marahnya Richard ia menyadari bahwa serangan balik harus didukung penuh walau waktunya tidak sesuai perencanaan. Oleh karena itu ia mengeluarkan aba-aba serangan umum. Tanpa serangan umum ini maka sudah jelas bahwa kavaleri Hospitaller dan Perancis tadi akan lumat ditelan kekuatan Shalahuddin yanh jauh lebih besar. Bahauddin mencatat perubahan postur Pasukan Salib dari pasif menuju aktif ini menimbulkan kegagapan dalam barisan kaum Muslimin seolah melihat rencana mereka dibalas rencana yang tidak terduga.

Pasukan sayap kanan Shalahuddin yang sudah terlibat kontak sejata jara dekat tidak mungkin lagi menghindari serangan umum ini; sebagian mereka bahkan turun dari tunggangannya agar dapat melesatkan panah secara lebih efektif. Tindakan ini tentu saja menimbulkan korban besar pada pasukan Shalahuddin yang seharusnya bertempur dalam jarak tembak yang cukup. Bahauddin mencatat bahwa kekalahan itu cukup telak karena ia menyaksikan langsung dari lini tengah bagaimana sayap kanan mundur dengan cepat diikuti sayap kiri.

Richard menahan laju kejaran setelah sekitar 1.6 km dilewati kavalerinya karena ia sangat paham bahwa ini semua busa jadi hanyalah tipuan belaka. Pasukan Salib kembali menyusun formasi bersandarkan pada bekas sayap kanan yang masih segar karena belum terlibay kontak senjata. Melihat sebagian besar kavaleri lawan berhenti mengejar maka kavaleri Shalahuddin balas menghantam sedikit pasukan berkuda yang terbawa emosi memacu kudanya menjauh dari barisan umum. Diantara mereka yang menjadi korban adalah James d'Avesnes komandan dari kavaleri Perancis. Diantara komandan Shalahuddin yang sigap menyusun barisannya adalah Taqiuddin, sepupu sultan. Ia memimpin 700 pasukan dari kesatuan kawal suktan untuk menyerang balas lini sayap kiri Pasukan Salib. Serbuan balasan kaum Muslimin ini kesuksesannya tidak menyeluruh karena Richard segera kembali dengan sayao kanannya dan pasukan Shalahuddin terpaksa mundur.


Kesudahan

Sejarawan dari kalangan Kristen mengatakan bahwa Shalhuddin kehilangan 32 amir dan 7.000 personil walau angka ini tidak boleh ditelan begitu saja. Dari pasukan Richard yang terbunuh tidak lebih dari 700 personil termasuk diantaranya James d'Avesnes.

Arsuf adalah sebuah kemenangan penting bagi Pasukan Salib, namun balatentara Ayyubi tidaklah hancur walau sudah kehilangan cukup banyak di sana. Namin ada perasaan malu bagi kalangan Muslimin menderita kekalahan tersebut; ada kebanggaan di kalangan Pasukan Salib. Analisis sejarawan militer menilai bahwa jika saja Richard menahan serangannya beberapa saat lagi maka kemenangan yanh lebih besar mungkin dicapai. Shalahuddin berhasil menyusun ulang pasukannya dan memberikan serangan balasan namun ia berhati-hati untuk tidak terjebak pada serangan frontal yang emosional. Secara reputasi Shalahuddin sedikit tercoreng pada kekalahan di Arsuf, sedangkan nama Richard menjadi terkenal apalagi setelah ia bethasil merebut, mempertahankan, serta menjadikan Jaffa basis kekuatannya.

Shalahuddin terpaksa meninggalkan dan menghancurkan sebagian besar benteng di wilayah selatan Palestina seperti di Ascalon, Gaza, Blanche-Garde, Lydda, dan Ramleh karena ia sadar tidak mungkin mempertahankannya semua. Menghancurkannya merupakan pilihan terbaik daripada dibiarkan jatuh ke tangan lawan yang akan memperkuatnya sebagai basis perlawanan di kemudian hari. Ketika benteng di Darum berhasil direbut oleh pasukan kawal Richard saja, hal ini cukup menggambarkan betapa semangat juang pasukan Shalahuddin sedang jatuh. Hilangnya kota-kota penting di selatan Palestina benar-benar mengancam keberadaan al-Quds (Jerusalem) daei kekuasaan Shalahuddin.

Walaupun Perang Salib Ketiga pada akhirnya gagal merebut kembali Jerusalem namun tercapai gencatan senjata antara Richard dan Shalahuddin yang dikenal sebagai Perjanjian Jaffa. Perjanjian ini mengamankan jalur ziarah bagi kaum Nasrani ke tempat-tempat suci di Jerusalem. Perjanjian itu juga menegaskan pengakuan Shalahuddin atas wilayah kendali Pasukan Salib di selatan Palestina.

Richard kembali ke Eropa untuk mengurus masalah internal kerajaannya yang sedang berperang melawan Raja Philip dari Perancis. Pulangnya Richard ke Eropa merupakan awal kemerosotan wilayahnya di Palestina dan awal dari kemerosotan Pasukan Salib secara keseluruhan.

Agung Waspodo, mencatat bagaimana kedisiplinan dan kestabilan emosi adalah kunci kemenangan menghadapi berbagai konflik. Shalahuddin sudah memberikan contoh yang kendali diri yang terbaik dalam mengelola kemenangan maupun kekalahan sekitar 824 tahun yang lalu.


Depok, 15 September 2015.. lewat tengah hari dan telat 8 hari dari tanggal bersejarahnya, sangat berat untuk menuliskan semua peperangan kaum Muslimin persis pada hari kejadiannya...

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Tenang Dalam Kemenangan, Tenang Dalam Kekalahan (Bagaimana Shalahuddin Mengelola Emosi Pasukannya) bag-2"

Post a Comment