SURAT AL-IKHLAS (Bag-2)

Oleh: Ust. AHMAD SAHAL HASAN, Lc.


materi sebelumnya bisa dilihat di 👇🏻

www.iman-islam.com/2015/11/surat-al-ikhlas-bag-1.html?m=1

TEMA

Tema surat Al-Ikhlas adalah:

تَفَرُّدُ اللهِ تَعَالَى بِالْكَمَالِ وَالْأُلُوْهِيَّةِ، وَتَنَزُّهُهُ عَنِ النَّقْصِ

Keesaan Allah ta’ala dalam segala sifat kesempurnaan dan uluhiyah, dan kesucianNya dari segala kekurangan.

AYAT 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa

Diawalinya surat ini dengan “Qul” (Katakanlah) merupakan isyarat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan firman-Nya apa adanya.

Ada lima surat di dalam Al-Quran yang diawali dengan “Qul” yaitu: Surat Al-Jin, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Tiga surat pertama terkait hal-hal khusus yang harus disampaikan, dan dua surat terakhir terkait permohonan perlindungan khusus yang harus dilafalkan. (At-Tahrir wa At-Tanwir, 30/580-581).

Kata “Allah” adalah nama-Nya subhanahu wata’ala yang menghimpun segala Nama dan Sifat kesempurnaan-Nya, serta tidak boleh digunakan sebagai nama makhluk, seperti juga Ar-Rahman. Oleh karena itu, Dia menggunakan Nama Agung ini saat memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Musa alaihissalam:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS. Thaha: 14).

Setelah perintah untuk memperkenalkan nama-Nya yang teragung, Allah menyebutkan Nama-Nya yang menafikan persekutuan dan segala bentuk keberbilangan, yaitu Ahad.

Makna Al-Ahad adalah:

اَلْمُنْفَرِدُ بِالْكَمَالِ

Yang Esa dalam segala kesempurnaan.

Maha Esa secara mutlak dalam segala kesempurnaan, baik dalam Dzat, hakikat Nama, Sifat dan Perbuatan-Nya, semua Maha Sempurna. (Tafsir As-Sa’di, Abdurrahman As-Sa’di, hlm 937)

AYAT 2

اللَّهُ الصَّمَدُ

Allah adalah Ash-Shamad.

Kata “Allah” diulang - tanpa kata ganti – untuk menunjukkan bahwa hanya Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah, maka yang tidak memiliki sifat keesaan mutlak ini tidak berhak disembah dan diibadahi.

Ayat pertama dan kedua tidak dipisahkan dengan kata sambung apapun, karena ayat kedua bagaikan natijah (buah/konsekuensi) dari ayat pertama, maksudnya: Allah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah dan Al-Uluhiyah pastilah memiliki sifat Ash-Shamadiyah. (Fath Al-Qadir, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, 5/634).

Makna Ash-Shamad adalah:

الْمَقْصُودُ فِي الْحَوَائِجِ عَلَى الدَّوَامِ

Yang dituju oleh semua makhluk dalam memenuhi segala keperluan mereka terus menerus tanpa henti. (Tafsir Al-Jalalain, Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi, hlm 826).

Penjelasan seperti ini dengan redaksi yang sedikit berbeda juga diriwayatkan oleh Ikrimah dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. (Tafsir Ibnu Katsir, Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir, 8/528).

Sedangkan Allah tak sedikitpun memerlukan makhluk-Nya karena Dia Maha Mengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya, Maha Kaya yang sempurna kekayaan-Nya, Maha Pengasih dan Penyayang yang sempurna kasih sayang-Nya, Maha Kuat dan Perkasa yang sempurna kekuatan dan keperkasaan-Nya...

Karena itulah, Dia menjadi satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi.

Diantara ulama, ada yang berpendapat bahwa ayat berikutnya adalah penjelasan makna Ash-Shamad, yakni Ikrimah, Abul ‘Aliyah, Muhammad bin Ka’ab, dan Ar-Rabi’ bin Anas rahimahumullah. (Tafsir Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, 24/691-692; Tafsir Ibnu Katsir, 8/528).

AYAT 3



Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Diantara tanda keesaan-Nya adalah Dia tidak beranak, karena beranak menandakan ada zat yang berpisah dari Zat-Nya berupa keturunan. Anak pasti satu jenis dengan induk dan itu menunjukkan adanya kesamaan. Keturunan maupun kesamaan keduanya bertentangan dengan sifat keesaan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Allah juga mustahil dilahirkan, karena sesuatu yang dilahirkan berarti membutuhkan induk dan hal ini bertentangan dengan sifat Ash-Shamadiyah.

Mustahil Allah mempunyai anak karena Dia adalah Al-Ahad.

Dan mustahil Allah dilahirkan karena Dia adalah Ash-Shamad.

Ungkapan “tidak beranak” didahulukan dari pada “tidak dilahirkan”, karena penyimpangan keyakinan umat manusia adalah keyakinan mereka bahwa “Allah mempunyai anak”, dan tidak ada informasi berarti yang memberitakan ada keyakinan ummat beragama bahwa Allah itu dilahirkan. (Fath Al-Qadir, 5/634).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al-Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?! (QS. At-Taubah: 30).

Allah subhanahu wata’ala tidak hanya menolak kebohongan bahwa Dia melahirkan, tetapi juga menolak anggapan bahwa Dia mengambil hamba-Nya - yang shalih sekalipun - sebagai anak, sebagaimana firman-Nya dalam kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam: bahwa kelahirannya tanpa ayah hanya untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang tiada batas, bahwa kekuasaan-Nya sama sekali tak terikat dengan hukum kausalitas (sebab akibat) yang biasa berlaku di alam yang diciptakanNya. Nabi Isa alaihissalam bukanlah anak-Nya dan tidak pula diangkat sebagai anak-Nya.

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34) مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (35) وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (36)

Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mengambil anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. Maryam: 34-36).

Begitu pula firman-Nya dalam hadits qudsi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قَالَ اللَّهُ: «كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا» (رواه البخاري)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Allah berfirman: Anak Adam (manusia) telah mendustakanKu padahal ia tidak berhak atas hal itu, dan ia juga telah mencaciKu padahal ia tidak berhak atas hal itu. Ia mendustakanKu yaitu menganggap bahwa sesungguhnya Aku tak sanggup mengembalikannya seperti semula (setelah ia mati). Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku punya anak. Mahasuci Aku dari perbuatan mengambil istri atau anak. (HR. Al-Bukhari).

AYAT 4

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun.

Makna al-kufu adalah:

النَّظِيرُ

Yang setara atau sebanding.

“Tak ada untuk-Nya yang setara, siapapun/apapun”

Begitulah terjemahannya sesuai urutan kata pada ayat. Kata “kufu” (yang setara) didahulukan daripada kata “ahad” (siapapun atau apapun), karena yang ingin dinegasikan adalah kesetaraan itu sendiri, sementara siapapun atau apapun yang dianggap setara dengan Allah, apalagi yang menganggap dirinya setara dengan Allah tidak terlalu penting.

Ayat terakhir ini sebagai kesimpulan dari ayat-ayat sebelumnya. Bahwa Allah yang memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan yang disebutkan di ayat 1 sampai ayat 3, pastilah tidak dapat disetarakan dengan siapapun atau apapun dari ciptaan-Nya. (Fath Al-Qadir, 5/635).

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).

KESIMPULAN

Surat Al-Ikhlas MENEGASKAN semua sifat kesempurnaan untuk Allah ta’ala dan MENEGASIKAN semua kekurangan.

1. Ayat pertama menegaskan sifat Al-Ahadiyah (keesaan mutlak) dan menegasikan keberbilangan.

2. Ayat kedua menegaskan sifat Ash-Shamadiyah (kesempurnaan kekayaan-Nya dalam segala hal) dan menegasikan keperluan-Nya kepada makhluk.

3. Ayat ketiga menegasikan bahwa Dia melahirkan untuk menegaskan sifat baqa-Nya (kekal).
Juga menegasikan kelahiran-Nya untuk menegaskan sifat azali-Nya (tak bermula).

4. Ayat keempat menegasikan kemiripan apalagi kesamaan dengan makhluk dalam hal apapun untuk menegaskan kembali keesaan-Nya, disamping keagungan dan keperkasaan-Nya.

والله أعلم بالصواب

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "SURAT AL-IKHLAS (Bag-2)"

Post a Comment