Setiap Negeri Memiliki Pengkhianatnya, Setiap Negeri Memiliki Para Boneka Asingnya!

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP


Pertempuran Kandahar - 19 Mei s/d 1 September 1880

Pertempuran ini adalah yanh terakhir pada era Perang Anglo-Afghan Kedua. Pertempuram di bagian selatan Afghanistan ini mempertemukan antara kekuatan Inggris dibawah Jend. Roberts dan kekuatan Afghan dibawah Ayub Khan yang berakhir dengan kemenangan telak Inggris yang menelan 3.000 korban.

Latar Belakang

Pada bulan Mei tahun 1879, setelah wafatnya Amir Sher Ali Khan maka Sir Louis Cavagnari memulai sebuah negosiasi yang berujung pada penandatanganan Perjanjiam Gandamak dengan penerusnya yaitu Mohammad Yaqub Khan. Perjanjian ini memaksa pihak Afghan mengakui kekuasaan residen-gubernur militer Inggris di Kabul. Cavagnari sendiri yang nantinya menduduki posisi tersebut pada bulan Juli. Namun, pada tanggal 3 September terjadinya gerakan angkat senjata di Kabul yang berbuntut pada tewasnya Cavagnari beserta anggota misi asal Eropa lainnya.

Setelah Yaqub Khan digulingkan dari kekuasaan seeta diasingkan karena diduga berada di balik pembantaian di Kabul. Dua orang kandidat penggantinya adalah adiknya Ayub Khan yang menjabat gubernur di Herat atau seouounya Abdur Rahman Khan. Namun, pada bulan Mei 1880 pergantian pemerintahan di Inggris ke arah kebijakan liberal memanggil pulang Viceroy untuk India yaitu Lord Lytton serta menggantikannya dengan Lord Ripon. Viceroy yang baru ini ditugaskan untuk menarik seluruh pasukan Inggris keluar dari Afghanistan. Namun rencana penarikan pasukan ini terhambat oleh gangguan anti-Inggris yang dibakar oleh Ayub Khan bersama 10.000 pengikutnya keluar dari Herat. Untuk mengatasi ini, dibentuklah sebuah kekuatan gabungan Inggris dan India berjumlah 1.500 personil bersama wamil (wajib militer) lokal.

Pasukan Inggris dibawah Brig. Jend. George Burrows berhadapan dengan Ayub Khan dan pengikutnya di Maiwand pada hari Selasa 19 Sya'ban 1297 Hijriah (27 Juli 1880). Namun, banyak dari pasukan India pada kesatuan Inggris yang baru direkrut ternyata tidak dilatih secara memadai sehingga kocar-kacir di bawah tekanan. Wamil lokal bahkan sudah berpindah sisi karena enggan memerangi bangsanya sendiri. Walau Resimen Ke-66 sudah berdiri tegap dan menimbulkan korban sebanyak 2.500 personil lawan, namun Jend. Burrows tetap kalah dari lawan yang bersemangat.

Permulaan

Setelah kekalahan di Maiwand, sisa pasukan Burrows yang babak-belur itu memulai perjalanan mundur ke kota Kandahar. Serangan fsri milisi lokal, dicampur rasa letih dan haus yang berkepanjangan membuat disiplin pasukan merosot jauh. Jika bukan karena keberanian Kapten Slade dalam menjaga keutuhan barisan belakang maka lebih sedikit lagi pasukan yang berhasil menyelamatkan diri ke Kandahar. Dari 1.500 pasukan yang ikut ke Maiwand, hanya 960 personil yang menjadi korban pada pertempuran maupun ketika mundur; hanya 161 personil yang cidera sampai kembali kr Kandahar.

Pengepungan Kandahar

Sisa-sisa pasukan dari berbagai lokasi sampai ke Kandahar sehingga mencapai total  4.360 personil di kota tersebut; penduduk lokal Afghan yang berjumlah 12.000 itu diusir keluar. Setelah pengosongan tersebut seluruh pasukan Inggris menempati posisi bertahan di dalam dinding perlindungan kota sembari menyusun titik pertahanan yang terbaik. Perbaikan itu meliputi sistem komunikasi antar pos di sepanjang dinding pertahanan, menutupi celah-celah dinding, menciptakan lubang-lubang tembak, serta meletakkan kawat berduri di luar benteng. Selama prosea perbaikan tersebut mereka diganggu oleh milisi dari penduduk lokal Afghan.

Pada hari Ahad 1 Ramadhan 1297 Hijriah (8 Agustus 1880), Ayub Khan yang baru daja menang di Maiwand mulai menembaki benteng kota dari arah Bukit Picquet di sebelah barat lauy Kandahar. Beberapa hari kemudian, artileri Afghan mulai menyalak dari dua desa Deh Khoja dan Deh Khati yang berada pada lokasi timur dan selatan Kandahar. Inggris mengirimkan pasukan dibawah Brig. Jend. Brooke untuk menetralisir kedua desa itu pada tanggal 16 namun tidak berhasil, bahkan dalam proses mundur Brooke dan Kapten Cruickshank gugur sehingga menambah jumlah korban menjadi 100 lebih.

Pasukan Bantuan

Pada pagi, hari Selasa 24 Ramadhan 1297 Hijriah  (31 Agustus 1880) pasukan bantuan berhasil mencapai Kandahar. Namun pada etape terakhir perjalanannya, Jend. Roberts jatuh sakit karena demam sehingga ditandu menggunakan dhooly. Ketika hampir sampai Kandahar, ia memaksakan diri menunggangi kudanya demi meningkatkan moral juang pasukan yang bertahan di kota.

Posisi Ayub Khan

Di belakang jurang yang memisahkan antara Kandahar dan Arghandab terdapat kampung Mazra dimana Ayub Khan mendirikan tenda bersama pasukannya; daerah ini dikenal sebagai Bukiy Pir Paimal. Dalam posisi ini pihak Afghan memiliki keunggulan lain dimana Bukit Kharoti di belakangnya memberikan laoang tembak yang nyaris sempurna ditambah adanya ceruk irigasi yang juga membantu pertahanan sekaligus penyamaran.

Sayangnya, posisi mereka ini sudah diintai pada sore harinya oleh kesatuan Jend. Gough dan Kol. Chapman dan diberikan perhatian khusus. Namun ketika kesatuan ini hendak meninggalkan area mereka mendapatkan serangan dari berbagai arah. Begitu kuatnya tekanan dari serangan pasukan Afghan regular dan milisi tersebut sehingga kesatuan infanteri Sikh terpaksa melepas brigade ke-1 dan ke-3 untuk memberikan perlawanan.

Rencana Penggelaran Tempur

Berbekal informasi penting itu, Jend. Roberts memutuskan untuk menyerang keesokan harinya, pagi 1 September 1880. Serangan yang didahului dengan tembakan artileri ini mengarah pada sasaran tenda Afghan di kampung Mazra. Celah-celah gununh di Murcha dan Babawali telah diawasi oleh elemen kavaleri Jend. Primrose yang didukung oleh kesatuan infanteri dan artileri.

Pertempuran Berlangsung Cepat

Setelah pukul 0900 dimulailah serangan artileri pada Crlah Babawali yanv dibalas oleh 3 seksi meriam lapangan Afghan. Sebelum Roberts dapat maju secara frontal, perkampungan di Gundi Mulla Sahibdad di kanan dan Gundigan di kiri harus diamankan terlebih dahulu. Jend. MacPherson menyerbu ke arah Gundi Mulla Sahibdad sedangkan Jend. Baker ke arah Gundigan dengan formasi Highlanders Ke-72 dan Sikh Ke-2 di barisan terdepan. Pertempuran yang dihadapi keduanya berat dimama kekuatan Afghan bertahan habis-habisan dan baru bisa didesak mundur dengan serangan dari berbagai penjuru. Pasukan Inggris dihujani tembakan artileri dari Bukit Pir Paimal dan serangan balasan dari kesatuan elit Ghazi sebelum berhasil menguasai kampung Mazra.

Kedua brigade tersebut kini dapat meneruskan gerak lajunya walau menghadapi perlawanan sengit dari para penembak jitu Afghan pada posisi bukit Pir Paimal. Pertempuran jarak dekat tidak dapat dihindari dan pasukan Afghan mundur setelah diserbu pasukan Inggris dengan bayonet terpasang. Kesatuan dibawah Kolonel Money berhasil menduduki bukit Kharoti dan dari puncaknya ia dapat mengamati bahwa Ayub Khan mulai berkemas meninggalkan tendanya di Mazra; serangan pasukan MacPherson dan Baker ternyata dirasakan terlalu berat. Pasukan Inggris akhirnya menduduki kampung Mazra sekitar pukul 1300; sedikit lamban karena mereka mengisi ulang peluru terlebih dahulu.

Kini balatentara Ayub Khan mundur secara tak beraturan. Walau rencana semula dimana kavaleri Jend. Gough ditugaskan untuk memotong jalur mundur pasukan lawan ternyata gagal, namun secara keseluruhan kemenangan suda diraih Inggris.

Kesudahan

Pertempuran Kandahar ini menutup Perang Anglo-Afghan Kedua dimana Ayub Khan terkalahkan secara telak. Ia kehilangan seluruh elemen artileri, tenda dan logistik, amunisi dalam jumlah yanh banyak, serta 1.000 personil yang terbunuh. Ayub Khan sendiri kini menjadi buron bersama beberapa pengawalnya, sefangkan Abdur Rahman menggantikan posisinya sebagai boneka bagi Inggris. Tidak lama setelah itu, balatentara Inggris menarik diri keluar Afghanistan. Konon ia wafat di India pada tahun 1914 setelah sebelumnya gagal menggulingkan Abdur Rahman karena kurangnya dana serta dukungan dari mantan prajuritnya. Perang ketiga meletus kembali pada tahun 1919.

Jend. Roberts meninggalkan Kandahar pada tanggal 9 September menuju Quetta dengan sebagian pasukannya serta meletakkan jabatannya di Sibi pada 15 Oktober. Ia berlayar kembali ke Inggris pada tanggal 30 Oktober dari Bombay. Perjalanannya yanv legendaris diabadikan pada sebuah patung di Kelvingrove Park di kota Glasgow. Tertulis di sana motto "virtute et valore" atau "dedikasi dan keberanian."

Agung Waspodo, mencatat setelah 135 tahun berlalu bahwa setiap negeri pasti ada pengkhianatnya, paling tidak pasti selalu bisa didapatkan orang atau kelompok yang siap menjadi boneka negeri lain..

Depok, 11 September 2015, masuk waktu Isya'.. waduh sudah lewat 10 Hari (dari tgl aslinya sumbernya)


Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...