MELEJITKAN POTENSI DIRI DENGAN ZIKIR

Oleh: Ust. Dr. Abas Mansur Tamam


Hadits:

عن أبي مُوسَى رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم: (مَثَلُ الذي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ) (البخاري 5/6044؛ مسلم 1/779)

Diriwayatkan dari Abu Musa, Nabi saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti perbandingan antara hidup dan mati” (Bukhari, 5/6044; Muslim, 1/779).

Andai kualitas hidup hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, posisi manusia tentu sangat kecil di jagat ini.

Beruntung Allah memberikan al-asma'a kullaha, yaitu seluruh ilmu pengetahuan dasar kepada Adam. Dengan bekal ilmu pengetahuan, Adam menjadi makhluk yang lebih mulia dibanding semua makhluk yang ada, termasuk malaikat.

Kini kita berkewajiban mewarisi dan mengembangkan ilmu itu dalam berbagai spesialisasi. Karena itu keunggulan berpikir menjadi parameter kemuliaan manusia setelah iman.

Firman Allah:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al-Mujadilah [58]: 11).

Tetapi akal bukan satu-satunya inti kemanusiaan. Ada yang lain, yaitu ruh. Dua-duanya harus terberdayakan. Olah pikir dan olah zikir menjadi dua sisi mata uang.
Ali Syariati menyebutnya kesatuan antara rausan fikir dan rausan zikir.

Tetapi ada yang unik dari rausan zikir. Bahwa kecanggihan di bidang ini bisa mempercepat pemberdayaan dimensi haraki (pisik) dan fikri (akal). Dalam zikir terdapat energi besar.

Banyak fakta yang bisa direfleksikan terkait dengan persoalan ini. Dalam penelitian Napoleon Benavarte, prajurit-prajurit yang taat beragama jauh lebih unggul:
“Perbandingan antara tentara yang tidak bermoral dengan tentara yang bermoral adalah 1:2”.
Gambaran yang mirip juga ada dalam Alquran. Dalam kondisi lemah, perbandingan tentara kafir dengan tentara Mukmin adalah 1:2.
Dalam kondisi normal perbandingan itu adalah 1:10 (Al-Anfal [8]: 65-66). Itu perbandingan rata-rata.

Ada perbandingan yang lebih dahsyat. Dalam ekspansinya ke Mesir, Jenderal Amr bin Ash meminta bantuan 4000 tentara kepada Khalifah Umar bin Khattab. Anehnya, beliau hanya mengirimkan 4 orang sahabat. Dalam suratnya Umar berkata: wahid fi alfi rajul, satu sebanding seribu orang.

Abu Bakar pernah menggambarkan seorang sahabat yang tidak terkenal, tapi punya energi hidup yang sangat besar: “Sebuah pasukan tidak akan dikalahkan jika di situ ada Qo'qo bin Amr”.
Energi itu juga yang membuat Khalid bin Walid mampu mengikuti 100 peperangan. Dalam perang Yarmuk saja, dengan pedangnya ia membunuh 5 ribu dan mematahkan 9 pedang musuh.

Kebetulan saja ilustrasi ini diawali dari tesis Napoleon, jadi data-datanya lebih banyak tentang perang.

Tetapi sungguh zikir bisa menjadi energi untuk seluruh aktifitas kemanusiaan, termasuk diantaranya kegiatan ilmiah dan akademik. Banyak fakta sejarah yang bisa kita angkat untuk ilustrasi yang terakhir ini.

Ibn Taimiyah, dalam sehari menghabiskan 4 kurasah (± 48 lembar) untuk menulis. Beberapa bukunya ditulis sekali duduk. Dan buku-buku yang beliau tulis lebih dari 1000 judul. Kebanyakan manuskripnya tidak sampai kepada kita.

Ibn Jarir Al-Thabari menulis sebanyak 100 ribu halaman dalam hidupnya. Tentu pula tidak semuanya sampai ke tangan kita.

Muhammad Abduh dalam sekali duduk sebelum tidur sanggup menulis sanggahan terhadap Gabriel Hanotox, seorang orientalis yang menjadi menteri luar negeri Prancis pada masanya. Tulisan itu kurang lebih setengah dari buku Al-Islam Din al-Ilmi wa al-Madaniyah yang terbit dalam 227 halaman.

Banyak ulama menghasilkan produk ilmiahnya bahkan pada usia yang ralatif muda. Misalnya, buku-buku Sibawaih di bidang nahwu umumnya ditulis pada usia 30 tahun. Dan Imam Nawawy yang meninggal dalam usia 45 tahun telah meninggalkan khazanah yang sangat besar dalam fiqih Syafi’iyyah.

Apa rahasia mereka? Hemat saya, rahasianya ada pada kualitas zikir.

Bahwa kecanggihan ruhiyah bisa mengangkat potensi-potensi kemanusiaan sehingga bisa melakukan sesuatu yang mirip adimanusiawi, jauh di luar kemampuhan manusia rata-rata. Hal itu karena yang telah berperan dalam diri mereka tidak murni dimensi kemanusiaannya.

Ada energi besar yang diserap dengan keluhuran ruhiyahnya. Energi itu berasal dari Allah swt. Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah mendukung tesis ini.

Rasulullah saw. bersabda:
قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ قال: من عَادَى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلي عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إلي مِمَّا افْتَرَضْتُ عليه، وما يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلي بِالنَّوَافِلِ حتى أُحِبَّهُ، فإذا أَحْبَبْتُهُ كنت سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ التي يَبْطِشُ بها، وَرِجْلَهُ التي يَمْشِي بها، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شَيْءٍ أنا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وأنا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Artinya:
“Siapa yang memusuhi Aku, maksudnya memusuhi wali-Ku, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya.
Tidaklah hamba-Ku taqarrub kepada-Ku lebih Aku cintai dari jenis ibadah yang telah Aku fardukan.

Jika hamba-Ku terus bertaqarrub dengan nawafil, maka Aku akan mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya ketika dia mendengar. Akulah matanya ketika dia melihat. Akulah tangannya ketika dia merangkak. Dan akulah kakinya yang dia pakai untuk melangkah.

Jika dia meminta sesuatu pada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan, pasti akan Aku lindungi.  Dan Aku tidak ragu melakukan suatu perbuatan seperti keraguan-Ku untuk mewafatkan seorang mukmin, dia belum mau mati sedangkan Aku tidak mau menyakitinya”  (Bukhari, 5/6137).

Kematangan ruhiyah bukan hanya akan mempercepat produktifitas dengan kualitas adiluhung, juga akan membuat manusia bertahan menghadapi pekerjaan besar dalam waktu yang lama.

Misalnya, Ibn Asakir bertahan menulis Tarikh Dimasyq dalam rentang waktu 60 tahun. Semua orang penting dari kaum cendekia, sastrawan, penyair, bahkan orang-orang linglung terkenal di Damaskus ditulis dalam bukunya.

Ibn Khaldun, bertahan menyendiri di sebuah benteng untuk menulis tarikhnya, Tarikh Ibn Khalidun.

Begitu pula Imam Ghazali. Ia menyendiri di sebuah kamar di Baitul Maqdis, menulis Ihya Ulumuddin.

Apa yang telah membuat mereka mampu bertahan? Lagi-lagi adalah kematangan ruhiyah, kualitas dzikir.

Sebuah ilustrasi yang amat qudus, Allah swt. menceritakan diri-Nya tentang penciptaan langit dan bumi. Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyebut, Tuhan letih setelah bekerja enam hari. Maka di hari ketujuh Ia beristirahat.

Tetapi Allah swt. memban tah:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (Qaf [50]: 38).

Yang unik ayat itu diteruskan dengan perintah agar Rasulullah Saw bersabar, bertasbih di pagi hari dan petang, solat malam dan bertasbih seusai sholat. Agar ia bertahan dalam menjalankan tugas besar dengan tantangan yang berat.

Firman Allah:
فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Artinya: “Maka bersabarlah engkau terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam. Dan bertasbihlah engkau kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang” (Qaf [50]: 39-40).

Allah swt. telah menjadikan hidup manusia dengan beban yang cukup berat. Semakin tinggi kedudukan agama, sosial dan politiknya semakin berat lagi beban yang ada di pundaknya.

Dengan bekal taqorrub, tilawah, salat dan tasbih, semua beban itu dengan izin Allah akan mudah dihadapi.

Dengan bekal zikir semangat hidup akan terus menyala, aktifitas mengalir deras, kesabaran akan tak kenal batas, dan proyek-proyek besar akan sukses dijalankan.

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "MELEJITKAN POTENSI DIRI DENGAN ZIKIR "

Post a Comment

loading...
loading...