Malu Sebagai Bagian Dari Keimanan (Bag. 2 - habis)

Oleh: Ust. Rikza Maulan Lc., M.Ag.


Materi sebelunnya bisa dilihat di tautan berikut:

http://www.iman-islam.com/2015/11/malu-sebagai-bagian-dari-keimanan-bag-1.html

4.  Berkenaan dengan sifat al-haya’ ini, dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW menggambarkan tentang hakekat dari sifat al-haya’ sekaligus sebagai bentuk penggambaran dari buah yang akan didadapatkan seseorang aapabila menghiasi diri dengan sifat ini.

Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ اْلإِسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ اْلآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ (رواه الترمذي)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.’

Sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah malu dan Alhamdulillah.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Bukan seperti itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya adalah bahwa engkau menjaga kepala dan apa yang di dalamnya, engkau menjaga perut dan apa yang ada di sekitarnya (kemaluan), engkau senantiasa mengingat kematian dan kefanaan.

Dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat, ia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia. Dan barang siapa yang melakukan itu semua, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.’ (HR. Turmudzi)

5. Terdapat perbedaan pendapat berkenaan dengan hukum bersifat al-haya’, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas; apakah hukumnya wajib (menjadi suatu keharusan), ataukah tidak?

Perbedaan pendapat ini berpangkal dari pemahaman terhadap hadits di atas sebagai berikut :

a. Pendapat pertama adalah pendapat yang mengatakan bahwa sifat al-haya’ merupakan suatu keharusan (wajib).

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam hadits di atas, “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.”.

Ulama mengatakan bahwa ungkapan tersebut
bertujuan sebagai teguran keras dan celaan terhadap orang yang tidak memiliki rasa malu. Karena jika orang sudah tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendaknya; baik atau buruk, bermanfaat atau justru bermadharat, dsb.

Dan berbuat sesuai kehendak hati yang diiringi dengan hawa nafsu sudah barang tentu menjadi perbuatan dosa. Karena salah satu fungsi iman adalah mengontrol hawa nafsu.

b. Pendapat kedua adalah pendapat yang memengatakan bahwa sifat al-haya’ adalah tidak wajib.

Hal ini juga didasarkan pada hadits di atas, hanya saja mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW ‘berbuatlah sesukamu’; maksudnya adalah mubah (boleh) untuk berbuat sekehendaknya. Dan selama perbuatan sekehdaknya tersebut tidak melanggar syariah, maka hukumnya masih boleh-boleh saja.

Dari kedua pendapat tersebut, baik Ibnu Qayim al-Jauzi dalam Tahdzib Madarijis Salikin maupun Syekh Musthafa Dieb Al-Bugha dalam Al-Wafi, merajihkan pendapat yang pertama; yaitu bahwa sabda nabi SAW “berbuatlah sekehendakmu” sebagai sebuah teguran keras dan celaan.

Oleh karenanya, setiap muslim harus menghiasi dirinya dengan sifat al-haya’ ini.

6. Sifat Malu ternyata memiliki beragam bentuk dan warnanya.

Adalah Ibnu Qayim Al-Jauzi membagi sifat malu ini menjadi sepuluh macam, sebagaimana yang beliau kemukakan dalam Tahdzib Madarijis Salikin, yaitu sebagai berikut :

a. Malu karena berbuat salah, yaitu seperti malunya Nabi Adam as yang melarirkan diri dari Allah SWT saat di surga.

Allah SWT bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau lari dari-Ku wahai Adam?’

Adam as menjawab, ‘Tidak wahai Tuhanku, tetapi karena aku merasa malu terhadap-Mu.’

b. Malu karena keterbatasan diri, yaitu seperti rasa malunya para Malaikat yang senantiasa bertasbih di waktu siang dan malam dan tidak pernah sesaatpun berhenti bertasbih.

Namun begitu hari kiamat tiba, mereka berkata, ‘Maha Suci Engkau, kami belumlah menyembah kepada-Mu dengan penyembahan yang sebenar-benar-Nya.

c. Malu karena bentuk pengagunggan atau malu karena memiliki ma’rifat kepada Allah SWT, yaitu bentuk malu karena mengagungkan Allah SWT.

Dan sejauh ia semakin ma’rifat kepada Allah, maka sejauh itu pula rasa malunya terhadap Allah SWT.

d. Malu karena kehalusan budi, yaitu seperti rasa malunya Rasulullah SAW saat mengundang orang-orang pada acara walimah Zainab.
Karena mereka tidak segera pulang, maka beliau bangkit dari duduknya dan merasa malu untuk mengatakan kepada mereka, ‘Pulanglah kalian.’

e. Malu karena menjaga kesopnan, seperti malunya Ali bin Abi Thalib ketika hendak memnta baju besi kepada Rasulullah SAW karena dia menjadi suami dari putri beliau; Fatimah.

f. Malu karena merasa diri terlalu hina di hadapan Allah SWT, yaitu seperti malunya hamba yang memohon berbagai mecam keperluan kepada Allah, dengan menganggap dirinya terlalu hina untuk permohonan tersebut.

g. Malu karena cinta, yiatu rasa malunya orang yang mencintai di hadapan orang yang dicintainya. Bahkan tatkala terlintas sesuatu di dalam hatinya saat berjauhan dengan orang yang dicintainya, dia tetap marasa malu, tanpa diketahui apa sebabnya, apalagi jika orang yang dicintainya muncul secara tiba-tiba di hadapannya.

h. Malu karena ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah), yaitu rasa malu yang bercampur dengan cinta dan rasa takut.

Seorang hamba merasa penghambannya kepada Allah kurang, sementara kekuasaan Dzat yang disembahnya terlalu agung, sehingga penghambaannya dirinya yang penuh kekurangan menjadikannya malu dihadapan Allah SWT.

i. Malu karena kemuliaan, yaitu rasa malu seorang hamba yang memiliki jiwa yang agung tatkala berbuat kebaikan atau memberikan sesuatu kepada orang lain.
Sekalipun dia sudah berkorban dengan mengeluarkan sesuatu, toh dia masih merasa malu karena kemuliaan jiwanya.

j. Malu terhadap diri sendiri, yaitu rasa malu seseorang yang memiliki jiwa besar dan mulia, sekiranyapun dirinya merasa ridha terhadap kekurangan dirinya dan merasa puas melihat kekurangan orang lain.

Dia merasa malu terhadap dirinya sendiri, sehingga seakan-akan dia mempunyai dua jiwa, yaitu yang satu merasa malu terhadap yang lainnya. Ini meupkana rasa malu yang paling sempurna. Sebab jika seorang hamba merasa malu terhadap diri sendiri, maka dia lebih layak untuk merasa malu terhadap orang lain.

7. Selain sebagai sifat yang harus menghiasi hati setiap muslim, Al-Haya’ juga memiliki fadhilah atau benefit yang mulia.

Adapun diantara benefit dari sifat al-haya’ adalah:

a. Akan mendatangkan segala kebaikan.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat berikut :

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ (متفق عليه)

Dari Imran bin Hushain ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah sifat al-haya’ (malu karena Allah SWT) itu datang, melainkan dengan (membawa) kebaikan.’ (Muttafaqun Alaih)

b. Al-Haya’ merupakan sunnah para Rasul utusan Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ (رواه الترمذي)

Dari Abu Ayyub ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada 4 hal yang menjadi sunnah para Rasul, yaitu; al-haya’, memakai wewangian, bersiwak dan nikah.’ (HR. Turmudzi)

c. Al-Haya’ akan menjadi penghias pribadi bagi setiap muslim.

Hal ini sebagaimana disabdakan6 dalam hadits berikut :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ (رواه الترمذي)

Dari Anas ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah perbuatan keji itu dikerjakan dalam sesuatu, melainkan akan mengotorinya. Dan tidaklah sifat al-haya’ (malu karena Allah SWT) dilakukan dalam sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya.’
(HR. Turmudzi)

d. Al-Haya’ akan mengantarkan seseorang ke dalam surga.

Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ اْلإِيمَانِ وَاْلإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ (رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Sifat Al-Haya’ (malu karena Allah SWT) adalah dari iman. Dan iman itu (tempatnya) adalah di surga. Sementara al-badza’ (perkataan yang kotor dan keji) adalah dari kerasnya hati. Dan kerasnya hati (tempatnya) adalah di neraka.’
(HR. Turmudzi).

e. Al-haya’ merupakan sebuah sifat yang dicintai oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana digambarkan dalam hadits :

عَنْ عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ (رواه الترمذي)

Dari Ya’la ra bahwasanya Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki sedang mandi dengan memakai sarung. Setelah itu beliau naik ke mimbar lalu memuji Allah SAW dan bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Maha Hidup (kekal), Maha Suci, mencintai sifat al-haya dan mencintai orang yang menutup auratnya. Maka apabila salah seorang diantara kalian mandi, hendaklah ia menutupi auratnya.’ (HR. Turmdzi)

f. Al-Haya’ merupakan intisari akhlak dalam Islam.

Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam hadtis berikut :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ (رواه ابن ماجه)

Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak dinul Islam adalah al-haya’.’ (HR. Ibnu Majah)

Wallahu A’lam bis Shawab


Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

Sebarkan! Raih pahala...

0 Response to "Malu Sebagai Bagian Dari Keimanan (Bag. 2 - habis)"

Post a Comment

loading...
loading...