Kuasai Medan, Waspadai Makar Kawan ! (Pertemuan 'Ayn Jalut - September 1260)

Pemateri: Ust. AGUNG WASPODO, SE. MPP

Pertempuran Ain Jalut (dalam Bahasa Arab:عين جالوت) yang artinya "Mata Air Jalut/Goliath" mempertemukan antara pasukan Muslim dari bangsa Mamluk melawan bangsa Mongol di sebelah tenggara Galilee. Lokasinya berada di lembah Jezreel tidak jauh dari desa Zir'in. Pertempuran ini menandai titik terjauh invasi Mongol ke arah barat-daya sekaligus untuk pertama kalinya mereka terhenti secara permanen.

Pada umumnya kekalahan ini ditimpakan kepada wafatnya Khagan Möngke Khan yang tiba-tiba. Sebuah kejadian yang memaksa Hulagu Khan sebagai pemimpin Ilkhanate Mongol untuk menarik sebagian besar pasukan intinya kembali ke Mongolia. Keadaan ini mengakibatkan Kitbuga berangkat perang dengan pasukan seadanya dalam jumlah yang sedikit untuk standar Mongol saat itu.

Kejadian Sebelumnya

Ketika Möngke Khan menjadi pemimpin bangsa Mongol pada tahun 1251 ia meneruskan cita-cita kakeknya (Genghis Khan) untuk menguasai dunia. Untuk menaklukkan wilayah barat ia mempercayakan kepada saudaranya yang bernama Hulagu Khan. Dibutuhkan 5 tahun untuk mengumpulkan kekuatan itu sehingga Hulagu baru bergerak pada tahun 1256 dari basis kekuasaannya di Persia. Ia mendapat mandat untuk memperlakukan secara wajar atas lawan yang menyerah dan menghancurkan mereka yang melawan. Ketika ia sampai ke kota Baghdad, balatentaranya sudah meliputi bangsa Armenia asal Cilicia dan bahkan pasukan Frank dari Kerajaan Antioch yang tunduk kepadanya.

Sekte Hashsasin di Persia jatuh ke tangan Hulagu, ibukota dan kekuatan Daulah 'Abbasiyah yang berumur 500 tahun juga dihancurkannya, dan sisa Kesultanan Ayyubiyah di Damaskus juga menyerah. Rencana besar Hulagu adalah untuk terus maju menembus Kerajaan Latin di Jerusalem hingga ke perbatasan Kesultanan Mamluk di Mesir.

Utusan Mongol ke Mesir

Pada tahun 1260, utusan Hulagu menyampaikan pesannya kepada Sultan Qutuz di Kairo untuk segera menyerah dengan surat yang berbunyi:

"Dari raja diraja dari timur dan barat, Khan yang Agung, kepada Qutuz dari Mamluk yang luput dari tebasan pedang kami.

Engkau harusnya belajar dari apa yang dialami negeri-negeri lain dan sepantasnya tunduk kepada kami. Engkau tentu telah mendengar bagaimana kami menaklukan wilayah yang sangat luas untuk membersihkannya dari kotoran dunia yang mencemari. Kami telah membantai banyak negeri dan engkau tidak mungkin meloloskan diri dari kebengisan pasukan kami. Hendak lari kemana dan menggunakan jalan mana dari menghindari kami?

Kuda perang kami sigap, panah kami tajam, pedang kami seperti halilintar, hati kami seteguh gunung, dan pasukan kami sebanyak pasir di pesisir. Benteng manapun tidak akan mengungkung maupun menghentikan pasukan kami. Kami tidak tersentuh dengan tangisan maupun ratapan. Hanya mereka yang memohon perlindungan kami yang akan selamat.

Segerakan balasanmu sebelum api perang menyala. Melawan lah maka engkau akan merasakan kemalangan yang besar. Kami akan meremukkan masjid-masjidmu serta menunjukkan kelemahan tuhanmu lalu kami akan menghabisi anak-anak serta orangtuamu. Sekarang ini hanya engkau musuh yang harus kami datangi."

Sultan Qutuz membalasnya dengan membunuh utusan Hulagu itu lalu melepaskan kepalanya untuk dipasang di Bab Zuweila, salah satu pintu gerbang benteng kota Kairo.

Pergantian Kekuasaan Mongol

Hulagu terpaksa pulang ke Mongolia bersama sebagian besar pasukan utamanya karena ia merupakan calon penerus potensial dalam suksesi kepemimpinan. Ia hanya menyisakan 1-2 tumen (kesatuan balatentara Mongol) sekitar 10-20 ribu personil atau sekitar satu divisi tentara modern. Ia meletakkan kepemimpinan sementara pada jenderal kepercayaannya yang bernama Naiman Kitbuqa Noyan; Kitbuqa beragama Kristen Nestorian.

*Sultan Qutuz Bergerak

Mendapatkan berita kepulangan Hulagu, Sultan Qutuz dari Mamluk segera memobilisir balatentaranya di Kairo dan segera bergerak masuk wilayah Palestina. Pasa akhir bulan Agustus, Kitbuqa membawa pasukannya menuju wilayah selatan melintasi sebelah timur Danau Tiberias menuju Galilee selatan dari basisnya di kota Baalbek.

Sultan Qutuz bersekutu dengan pemimpin Mamluk lainnya yang bernama Baibars yang juga bermusuhan dengan Mongol karena telah merebut kota Damaskus dan sebagian besar region Syam dari tangannya.

*Turbulensi Aliansi Mongol-Frank

Kekuatan Mongol telah mencoba menundukkan wilayah kerajaan Latin di Syam dan bahkan memberikan sinyal positif untuk sebuah aliansi. Namun, ide aliansi ini ditentang keras oleh Paus Alexander IV. Kerajaan-kerajaan kecil bekas wilayah Pasukan Salib di beberapa kota pesisir Syam mendapatkan tawaran untuk bergabung baik dari pihak Mongol maupun Mamluk.

Walaupun bangsa Mamluk merupakan seteru lama bangsa Frank, namun para pemimpin Pasukan Salib menyadari bahwa Mongol adalah ancama yang lebih besar. Untuk melihat perkembangan maka sebagian besar dari mereka memilih untuk tetap netral. Bahkan balatentara Mamluk tidak mengalami pencegatan ketika mendekati wilayah Franks; bahkan di kota Acre mereka dapat membeli logistik dan beristirahat. Ketika datang kabar bahwa Mongol telah menyeberangi sungai Jordan, maka Sultan Qutuz bergegas menuju arah tenggara guna mencegatnya.

Pertempuran

Pasukan Mongol bergerak lebih dahulu dalam pertempuran ini dengan mengerahkan elemen pasukan dari Kerajaan Georgia dan Armenia-Cilicia. Pasukan Mamluk memiliki keunggulan karena lebih memahami medan dan bersegera menduduki daerah yang lebih tinggi. Sultan Kitbuqa berharap dapat memancing serangan lawannya dengan menjadikan kesatuan dibawah Baibars yang jumlahnya lebih sedikit sebagai umpan.

*Pancingan Baibars

Kedua balatentara bertempur dalam waktu yang lama dimana Baibars menerapkan serangan hit-and-run guna memancing serbuan Mongol namun tetap menjaga keutuhan pasukannya. Ada yang menduga bahwa Baibars-lah yang merencanakan perangkap ini karena ia lebih lama mengenal daerah ini. Dalam serangan berat Mongol berikutnya, Baibars mendramakan sebuah kemunduran yang akhirnya berhasil memancing balatentara Kitbuqa ke area berhutan dimana sudah ditunggu oleh sebagian besar balatentara Mamluk.

Kitbuqa yang sudah mulai letih menghadapi taktik serbu-dan-lari Mamluk melakukan sebuah kesalahan fatal dengan memerintahkan pengejaran besar-besaran hingga ke perbukitan. Di area itulah pasukan Mongol terkaget dengan siraman anak panah dari pasukan Mamluk yang sudah lama bersembunyi. Bahkan pasukan kavaleri Mamluk juga bermunculan sehingga Kitbuqa dan pasukannya terkepung hampir dari semua arah.

Pasukan Mongol bertempur dengan gigih lagi agresif untuk menembus kepungan jebakan Mamluk. Sultan Qutuz mengintai dari kejauhan dengan kesatuan kawalnya dan memperhatikan bahwa sayap kiri pasukannya mulai terkalahkan oleh daya juang Mongol yang ingin melepaskan diri. Pada saat itulah, Qutuz dikabarkan melepas helmet-nya dan maju menyerbu sambil meneriakkan "Wa Islama!" (Wahai [para pejuang] Islam) bersama pasukan kawalnya. Tindakan beresiko ini memompa kembali daya juang pasukan Mamluk dan mereka bergerak ke sayap kiri yang mulai rapuh.

Pasukan Mongol terdesak hingga mundur ke sekitar desa Bisan yang dikejar oleh pasukan Mamluk yang dipimpin langsung oleh Sultan Qutuz. Sisa kekuatan Mongol tersebut masih sempat melancarkan serangan balasan yang kembali dipatahkan oleh Mamluk karena mereka lebih menguasai medan serta unggul secara psikologis. Setelah pertempuran berakhir, kesatuan kavaleri berat Mamluk telah melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya; yaitu mengalahkan Mongol dalam pertempuran jarak dekat. Kitbuqa dan hampir seluruh pasukan Mongol musnah dalam pertempuran di Ain Jalut dan pengejaran selanjutnya.

Pertempuran ini juga sering dirujuk dalam sejarah sebagai pertempuran pertama digunakannya kanon tembak portabel yang dikenal sebagai "midfa" dalam istilah bahasa Arab. Alat tembak ini dipergunakan oleh Mamluk untuk menakuti pasukan berkuda Mongol serta membubarkan formasi tempurnya. Komposisi kimia bahan peledaknya menjadi ilmu penting yang dijabarkan dalam buku manual perang yang populer di Dunia Islam pada abad ke-14.

Kesudahan

Dalam perjalanan pulang menuju Kairo setelah kemenangan beaar di Ain Jalut, Sultan Qutuz dikudeta oleh beberapa amir Mamluk yang diduga kuat mendapat dukungan dari Baibars. Ia donobatkan menjadi sultan pengganti dan melalui perjuangannya kemudian berhasil menguasai wilayah terakhir Pasukan Salib di Syam pada tahun 1291.

Perebutan dan konflik internal bangsa Mongol juga menghalangi Hulagu Khan untuk mengonsolidasi kekuatannya guna membalas kekalahan di Ain Jalut. Berke Khan dari Golden Horde memeluk Islam dan menyaksikan langsung bagaimana sepupunya dari Ilkhanate menghancurkan Kekhilafahan 'Abbasiyah walau saat itu hanya sebagai simbol kepemimpinan tertinggi sipirtual Islam.

*Surat Berke kepada (mendiang) Möngke

Sejarwan Muslim yang bernama Rasyiduddin Hamdani bahkan mencatat surat protes Berke kepada Möngke yang belum sepengetahuannya telah wafat di China sebagai berikut:

"Ia (Hulagu) telah menghamcur-leburkan seluruh kota kaum Muslimin hingga membunuh khalifah. Dengan izin Allah Ta'ala aku akan menuntut pertanggung-jawabannya atas sedemikian banyak darah orang tak berdosa yanv ia tumpahkan."

Pihak Mamluk, yang mendapatkan informasi melalui jaringan agen rahasianya bahwa Möngke telah memeluk Islam ser5a tidak suka dengan sepupunya, berusaha untuk memupuk hubungan baik dengannya dan Khanate-nya.

Setelah suksesi di tubuh kepemimpina Mongol tuntas dengan Kublai menjadi Khan Agung maka Hulagu kembali ke wilayahnya pada tahun 1262 untuk mengumpulkan kekuatan guna menyerang Mamluk guna membalaskan kekalahan di Ain Jalut. Namun, Berke telah memulai kampanye militernya ke di perbatasan utara Ilkhaniyah dan manuver ini menarik perhatian Hulagu dari urusan Mamluk. Hulagu mengalami kekalahan telak ketika menginvasi wilayah Kaukasus pada thaun 1263. Ini adalah pertempuran antar suku Mongol pertama dalam sejarah yang berujung pada pecahnya kesatuan Kekaisaran Mongol hingga masa akhirnya.

Hulagu masih sempat mengirimkan balatentara kecil sejumlah 2 Tumen untuk menyerang Mamluk setelah itu dan inipun terkalahkan. Hulagu wafat pada tahun 1265 dan ia digantikan oleh anaknya Abaqa.

Agung Waspodo, mencatat bahwa penguasaan atas medan tempur adalah mutlak dan kesiagaan atas unsur-unsur makar internal harus selalu diwaspadai. Suatu hal yang telah tercatat dalam sejarah 755 tahun sebelumnya..

Pasar Minggu, 14 September 2015.. dalam commuter line, tetapi edisi bahasa Indonesia telat naik tayang sekitar 11 hari, maaf saya benar-benar lagi keteteran..

(Redaksi : sekali lagi, disamping kita belajar tarikh, kita juga dapat pelajaran berharga dari Ust Agung Waspodo tentang keberkahan waktu dan umur. Di tengah suasana Commuter Line yg jarang sepi dari penumpang, beliau masih bisa menpersembahkan tulisan yg bermanfaat, mengingatkan kita akan keberkahan waktu dan umur yg Allah karuniakan kepada para ulama semisal Imam Nawawi, dg umurnya yg relatif pendek, beliau banyak menghasilkan karya besar yg bermanfaat sepanjang masa. Fastabiqul khairoot !)

Dipersembahkan oleh www.iman-islam.com